
"Kamu yakin dia anakku?" Kenzi bertanya demikian tapi tidak melepaskan tangannya di perut Arin.
Suara Kenzi begitu pelan tapi terasa menusuk di hati Arin. Senyum Arin menghilang digantikan tetasan air mata. Sedetik kemudian bayinya kembali menendang, kali ini lebih keras dari yang pertama membuat Arin menggerang sakit.
"Aku tidak serendah itu," balas Arin merasa terluka.
"Oh ya? Bagaimana dengan status kakak ipar dan adik ipar yang tidur berpelukan di ranjang yang sama?"
"Itu ... itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Memangnya apa yang kamu kira aku pikirkan? Jangan bersikap seolah kamu tahu apa yang aku pikirkan." Kenzi berdiri, bergerak menjauhi Arin. Tanpa menghadap Arin, Kenzi melanjutkan ucapannya. "Yang aku lihat saat itu memang hanya tidur yang kalian lakukan, tapi entah sebelum-sebelumnya."
"Hari itu pertama kalinya Kak Iyan menemaniku tidur sepanjang malam," balas Arin cepat tanpa sadar malah menimbulkan spekulasi lain dibenak Kenzi. "Biasanya...."
"Biasanya kalian akan berpisah setelah penyatuan kalian berakhir?" Potong Kenzi masih dengan suara datar.
Sejak tadi tidak ada intonasinya yang berubah, selalu datar dengan tatapan mata yang tajam. Kenzi yang Arin lihat sekarang sangat berbeda, begitu menyeramkan membuat Arin semakin menciut.
"Aku hanya melakukan itu sama kamu. Harusnya kamu percaya kalau kita tidak pernah melakukan apa-apa." Arin berucap dengan tersedu-sedu. Tuduhan yang dilontarkan Kenzi begitu menyakiti hatinya. Ia merasa terhina. Sungguh tak pernah Arin bayangkan akan dalam posisi ini, sekali lagi ia tidak pernah menyangka.
"Lalu ... bisa kamu jelaskan alasan mengapa kalian bisa tidur bersama?"
Beberapa saat Arin tak berucap apa-apa. Tidak ada tanda-tanda ingin menjawab pertanyaa Kenzi. Yang ada hanya isak tangis tanpa ucapan berarti. Kenzi menarik napas sejenak. Sungguh Kenzi tidak mengerti, Arin ingin ia percaya tapi wanita itu tidak mau memberitahukan alasannya.
"Kamu pikir bagaimana perasaanku saat melihat kalian dalam posisi seperti itu, hah?" Suara Kenzi mulai meninggi, "istri dan adikku bersama-sama mengkhianati aku. Haruskah aku percaya kalau kamu memang jal**g seperti yang—”
"AKU TERPAKSA," potong Arin cepat dengan suara lantang. Sudah, ia sudah tidak kuat. "Aku terpaksa ... aku terpaksa," lanjutnya, kali ini dengan suara lirih. Sekarang ia bingung alasan apa yang akan ia pakai. Haruskah ia mengatakan alasan sebenarnya? Tapi ia tidak mau membuat Kenzi khawatir dan balik menyalahkan diri sendiri.
Arin menelan salivanya sulit. Ia menunduk tidak sanggup menatap Kenzi yang saat ini tengah menatapnya tajam. "Aku ... aku mengidam." Arin menghembuskan napas lega. Satu kata itu tiba-tiba terlintas di kepalanya dan semoga....
Kenzi mendengkus keras mengejutkan Arin. "Alasan yang logis," katanya sambil berlalu kearah kamar mandi.
"Kamu tidak percaya?" tanya Arin cepat, matanya bergerak mengikuti pergerakan Kenzi.
"Percaya," balas Kenzi sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Kenzi bersandar di belakang pintu dan menutup matanya, berusaha menenangkan pikirannya yang semakin kacau. Masuk ke dalam kamar mandi adalah upayanya agar tidak menyemburkan amarahnya yang memuncak pada Arin.
Mengidam. Kenzi mendengkus. Siapa yang akan percaya dengan idaman seperti itu? Tidak ada idaman tak masuk akal seperti itu. Ingin ditemani tidur oleh adik ipar? Ck, yang benar saja.
Tapi sejujurnya ada rasa sesal di hati Kenzi karena berucap kasar seperti itu pada Arin. Apalagi saat ini wanita itu sedang mengandung. Mengandung buah hatinya.
Benarkah yang Arin katakana itu? Bagaimana jika anak yang di kandung Arin bukanlah anaknya melainkan anak ....
Arggh.
Kenzi mengacak rambutnya kasar.
Harusnya ia ingat kalau berada di kamar mandi perasaannya akan semakin tak keruan karena banyak jin yang tinggal di tempat-tempat seperti ini.
...