
Suasana kembali hening. Ryan yang sibuk dengan pikirannya kenapa ia sewot dengan Risda yang terlihat bangga punya Mike sebagai pamannya. Sedang Risda tidak tahu mau berucap apa setelah ucapan terakhirnya tidak ditimpali. Ketika sibuk dengan pikiran masing-masing mereka dikejutkan dengan suara Arin yang berteriak. Dengan sigap Risda menghampiri Arin diikuti oleh Ryan di belakangnya.
"Ngigau?" Tanya Risda begitu melihat Arin kembali tidur nyenyak.
Ryan mengangguk. "Hampir setiap jam dia ngigau terus, makanya gu-"
"Makanya muka lo lebih serem dari setan," potong Risda cepat dan ucapannya itu dihadiahi delikan tajam oleh Ryan.
Kemudian pintu kembali diketuk dan tanpa disuruh Bi Muna masuk begitu saja. "Tadi Mbak Kia telpon terus pesan supaya Mas Ryan datang kekantor siang ini, katanya ada klayen yang maunya ketemu langsung sama Mas Ryan."
Ryan menghela nafas pelan, "ya sudah, terima kasih, Bi." Katanya. Setelah Bi Muna keluar, Ryan mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
Risda memang terlihat tampak acuh tapi sebenarnya ia mendengarkan. Mendengarkan baik-baik setiap kata yang keluar dari mulut Ryan. Laki-laki itu berniat menolak datang apapun yang dikatakan lawan bicaranya disebrang sana.
"Eh, lo pergi aja urus kerjaan lo. Biar Arin gue yang jaga." Risda berucap memotong ucapan Ryan dengan lawan bicaranya. Tak sopan bukan.
"Masalahnya kalau gue pergi sekarang besok, lusa, hari-hari selanjutnya gue mesti datang juga. Sementara Arin belu-"
"Urusan Arin ada gue. Gue bakal nginep disini dan gantiin lo jaga Arin dua puluh empat jam sehari."
"Kuliahan lo?"
Akhirnya mau tak mau Ryan pergi juga meski terjadi aksi dorong-dorongan. Berbagai alasan Ryan sebutkan agar bisa tetap berada di kamar itu tapi Risda tidak perduli dan tetap mendorong Ryan sampai didepan Pintu. Karena melihat keringat Risda yang muncul akibat mendorongnyalah yang membuat Ryan akhirnya mau pergi meninggalkan Arin. Sejujurnya ia juga butuh istirahat yang cukup sebelum ia ikut jatuh sakit.
Risda tersenyum lebar yang dipaksakan melihat Ryan keluar dari kamar. Ia menutup pintu sambil mengembuskan nafas lelah. Ia tidak menduga mendorong Ryan keluar membutuhkan tenaga lebih. Risda menolehkan kepalanya kearah Arin dan betapa terkejutnya ia melihat Arin yang sudah membuka mata. Ia mendekat dengan cepat.
"Keganggu ya? Maaf," Risda menunjukan cengirannya.
"Lo pedekate ya sama kak Iyan?" Ada nada tak rela terselit diucapannya. Dan Risda sadar itu. Baru Risda membuka mulut, Arin malah menutup kembali matanya.
"Yah, tidur lagi? Rin, bangun dong. Nggak baik tau tidur mulu. Orang sakit memang harus istirahat tapi nggak gini juga. Gue udah dua hari nih disini tapi lo malah nggak bangun-bangun." Celoteh Risda dengan mendrama. Dia belum ada dua jam berada disana tapi mengaku sudah dua hari.
Risda menatap wajah Arin yang terlihat damai. Dari nafasnya yang teratur Risda tau wanita bersuami didepannya saat ini sudah kembali tertidur. Lalu karena apa dia bangun tadi? Terganggu karena suaranyakah atau terganggu karena interaksinya dengan Ryan tadi?
Sejujurnya Risda juga bingung dengan perasaan Arin, bingung siapa sebenarnya yang wanita itu cintai. Kakak atau adik? Melihat Arin yang tidak rela saat ia menggoda ingin mengicar Ryan atau saat melihat Ryan bersama wanita lain, membuat Risda berpikir bahwa Arin mungkin masih mencintai Ryan. Tapi melihat ekspresi kesal Arin saat menceritakan ada wanita seksi yang menyapa suaminya saat mereka jalan, atau ekspresi senang Arin saat menceritakan betapa perhatiannya Kenzi padanya, memperlakukannya dengan lembut saat --ah Risda mengerutuki Arin yang menceritakan secara singkat tentang malam pertamanya, sudah itu tidak penting.
Prediksi Risda, Arin mencintai Kenzi tapi ia juga mengira Arin masih mencintai Ryan. Risda pernah bertanya pada Arin perihal siapa yang dicintainya tapi Arin hanya bilang tidak tahu dan terlihat enggan membicarakan
hal itu. Arin bingung, Risda tahu itu. Dan lagi-lagi Risda menyalakan Ryan dan Kenzi yang sempat mempermainkan perasaan Arin sampai Arin merasa bingung sendiri. Sejauh ini Risda hanya bisa berharap dan berdoa semoga pernikahan sahabatnya baik-baik saja dan tidak tersandung masalah yang berat sampai berujung perpisahan. Tidak, Risda berharap sahabatnya tidak akan mendapat masalah serumit itu.
****