
Hampir lima belas menit mereka berdiri bersampingan dengan saling diam. Kenzi masih belum memulai bicara dan Ryan seperti enggan membuka mulut melihat ekspresi yang diperlihatkan kakanya.
"Apa maksudmu dengan Arin mengalami pendarahan?"
Ryan mengembuskan napas tak kalah mendengar Kenzi membuka mulut. "Kata Bi Muna memang Arin sempat pendarahan ...," ia melirik tangan Kenzi yang terkepal, sembari berjaga-jaga ia melanjutkan ucapannya, "tiga minggu lalu saat lo muncul tiba-tiba. Gue nggak senggaja mukul perut Ar—"
Bhukk...
Ryan meringis. Kepalan tangan Kenzi baru saja melayang di pipi kirinya. Tidak terlalu keras tapi tetap saja terasa sakit.
Pelan saja sakit apalagi keras. Ucap Ryan dalam hati sambil memegang pipi kirinya. Ini pukulan pertama Kenzi padanya dan mungkin juga pukulan pertama Kenzi pada orang yang disayangnya. Setahu Ryan, pertama kali Kenzi memukul orang saat usianya baru sepuluh tahun, tiga orang anak berusia lima tahun lebih tua darinya berakhir di rumah sakit dengan cedera patah tulang. Saat itu Kenzi memukul karena sudah tidak dapat menahan emosi kala melihat Ryan datang padanya dengan luka memar di beberapa bagian tubuhnya, terlebih sebelumnya Ryan kerap di-bully oleh tiga anak itu hanya karena Ryan suka memakai baju warna merah muda.
"Ingat masa lalu, eh?" Kenzi menaikkan sebelah alisnya melihat Ryan yang terdiam. Ryan mengangkat kepalanya mendengar teguran kakaknya. "Pink?" ejek Kenzi.
Ryan mendengkus, haruskah Kenzi mengingat-ingat hal itu lagi. Itu masa lalu jadi biarlah berlalu, tidak ada guna jika diingat. "Kenapa selama ini lo nggak bisa dihubungi?" Ryan mengalihkan ke topik semula. Selain karena tak mau Kenzi mengoloknya, ia juga ingin tahu di mana Kenzi selama ini.
"Bukannya kalian yang selama ini tidak bisa dihubungi?" Pertanyaan balik Kenzi membuat Ryan mengerutkan kening. "Aku selalu mencoba menghubungi kalian, tapi tidak pernah bisa. Pernah sekali aku berhasil menghubungi Arin tapi setelahnya langsung terputus. Aku juga sempat meminta Galih menghubungi kalian tapi—"
"Tunggu," Ryan memotong, "Galih? Kenapa bisa dia? Kalian sudah baikan?"
"Dan lo percaya dan maafin gitu aja?"
"Dia datang bersama pacarnya dan mesra sekali. Satu minggu dia mengikutiku, akhirnya aku memaafkan. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua."
Ryan mendengus, merasa heran mengapa kakaknya begitu pemaaf. Sangat berkebalikan dengan dirinya. "Gue nggak tahu gimana caranya Galih bisa nemuin lo di sana. Sementara gue sampe tiga kali ngirim orang ke sana malah ikut hilang semua." Ryan menatap Kenzi yang kini juga menatapnya. "Lo tahu, kak. Gue masih ngelihat kebencian di mata dia saat melihat Arin beberapa bulan lalu. Jadi gue nggak percaya kalau dia sudah berubah."
Kali ini Ryan yang mengepalkan tangan, sedang Kenzi terlihat lebih rileks. Ryan baru teringat, selain soal pendarahan Bi Muna juga menceritakan padanya sesuatu yang ganjil yang Arin lakukan tanpa sepengetahuannya.
"Kata Bi Muna, dia sering ngelihat subuh-subuh Arin keluar bawa sesuatu dan kembali sekitar setengah jam kemudian tanpa barang yang dibawa sebelumnya. Kalau Bi Muna tanya Arin selalu berkila. Karena penasaran Bi Muna ikuti, ternyata Arin membuang barang itu di pembuangan sampah di ujung kompleks. Awalnya Bi Muna nggak curiga tapi saking seringnya Arin membuang barang yang sama, akhirnya Bi Muna nekat membuka kotak yang dibuang Arin itu. Dan lo tahu apa isinya?"
Ryan menatap Kenzi yang ternyata tengah serius menatapnya yang berbicara. "Isinya beberapa tikus yang dibedah isi perutnya. Di sana juga ada surat yang isinya suruhan untuk tinggalin lo kalo mau bayinya selamat."
***
❤❤❤