(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
40



Arin memejamkan mata ketika merasakan kakinya menabrak sesuatu. Itu kotak hitam yang nyaris setiap malam diberikan seseorang padanya. Dalam keadaan kamar yang gelap gulita, ia menendang kotak itu pelan agar masuk ke dalam kolong tempat tidur. Lalu ia melanjutkan langkah menuju balkon kamar untuk menghirup udara malam yang dingin.


Cahaya dari luar masuk menerpa wajahnya yang penuh kerut ketakutan yang berusaha keras ia tahan. Rasa takut yang banyak dan berlebihan membuatnya khawatirkan akan memberi energi negatif pada calon buah hatinya.


Tidak sampai lima menit, Arin kembali menutup pintu balkon dan menguncinya dengan rapat. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu itu sambil mengelus perut besarnya. Tak disangka di usia yang belum genap dua puluh satu tahun ia akan memiliki malaikat kecil yang pasti akan menghiasi hari-harinya. Usai menenangkan pikirannya Arin bergerak menuju tempat tidur untuk mengistirahatnya tubuh dan pikirannya yang lelah.


Sudah tiga minggu sejak pertengkarannya dengan Ryan, yang artinya sudah selama itu pula Kenzi kembali. Tapi sampai saat ini ia belum bertemu dengan sang suami. Setelah keluar dari rumah sakit tempo hari karena pendarahan, Arin bergegas ke rumahnya dan Kenzi. Harapan bisa bertemu Kenzi di sana sirna melihat keadaan rumahnya masih sama seperti saat mereka tinggalkan. Kain-kain lebar masih menutupi perabotan.


Walaupun tidak begitu kotor —karena dua minggu sekali Arin bersama Ryan datang dan menyuruh orang untuk membersihkannya— tapi jelas terlihat kalau rumah itu belum tersentuh lagi oleh sosok manusia.


Ryan yang tak sekalipun muncul di hadapannya dan enggan mendengar kabarnya membuat Arin menutuskan untuk kembali tinggal di rumahnya seorang diri. Walau sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi, Arin tidak peduli. Yang ia pikirkan sekarang bisa segera bertemu Kenzi dan menjelaskan kesalahpahaman yang pria itu lihat.


Arin sempat mengerutuki dirinya sendiri karena berbuat nekat meminta Ryan menemaninya tidur. Tapi apa daya, demi bayinya agar baik-baik saja ia nekat melakukan itu. Sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.


Brakk…


Gedoran pelan di pintu balkon membuat Arin terbangun dari tidur dengan jantung yang berdebar-debar. Arin menelan salivanya dengan susah payah.


Dia datang lagi.


Arin meringis pelan. Inilah alasannya tidak menyalakan lampu rumahnya. Karena ia berharap tidak ditemukan oleh orang misterius yang selalu gencar menerornya. Namun, ia tetap saja ditemukan. Dan sejak malam keempat ia kembali tinggal di rumahnya ini, orang gila itu mulai lagi mengirimkannya kotak-kotak hitam sebagai hadiah istimewa, setiap hari sampai malam ini.


Ceklek...


Detak jantung Arin semakin memacu kala orang itu berhasil membuka pintu balkonnya. Ini sudah ketiga kalinya orang itu masuk mendatangi Arin di tempat tidur dalam sepuluh hari kunjungannya mengantar hadiah. Saat orang itu datang menghampirinya, Arin hanya bisa pura-pura tidur nyenyak sekana tanpa gangguan, lalu membiarkan orang itu menampar pipi atau menarik rambutnya.


Arin langsung menutup matanya saat sayup-sayup terdengar langkah kaki yang mendekat. Arin bisa merasakan kalau orang itu meletakkan sebuah kotak di samping kepalanya.


"Ah tidak, jangan di sini. Nanti kamu terlalu terkejut ya," ucap orang itu dengan tawa kecil yang terdengar menyeramkan di telinga Arin. Ini pertama kalinya orang itu berbicara, dan dari suaranya tampak seperti laki-laki. Lalu orang itu memindahkan kotaknya di atas meja di sisi kepala ranjang.


"Harusnya aku sudah membunuhmu, tapi jangan, terlalu enak. Akan lebih baik jika kamu tersiksa akan rasa takut terlebih dahulu." Ia tertawa terbahak seakan tak takut jika Arin tiba-tiba terbangun. "Aku pergi dulu," katanya lagi sambil menepuk keras pipi kanan Arin.


“Oh, tunggu dulu, aku kasih kamu hadiah tambahan.”


Tiba-tiba Arin merasa ada sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Sepertinya pipih dan tajam. Pisau? Lalu orang itu menarik garis lurus perlahan. Seperti pudding, pipi sudah terdapat goresan tipis dengan mudah. Rasanya perih sekali. Dan dapat Arin rasakan ada darah yang keluar dari luka itu.


"Sampai jumpa di lain kesempatan!" Sekali lagi orang itu memukul Arin sebelum benar-benar pergi.


***