(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
52



"Mas kok malah diam sih?" Gerutu Arin, ia memukul lengan kiri Kenzi cukup keras.


Kenzi terkekeh, "aku sudah bilang kalau aku akan selalu menemani kamu dirumah sampai kamu melahirnya, sampai dia berumur satu tahun kalau perlu. Aku ingin membayar masa-masa saat aku tidak ada disamping


kamu."


Arin cemberut, "kalau kamu nggak kerja nanti dapat uangnya dari mana? Kebutuhan dia pasti nggak sedikit biayanya." Katanya sambil mengelus perut.


Kenzi terkekeh lagi, "tabungan aku masih banyak, bisa kamu pakai untuk keliling Eropa. Lagi pula ada Om-nya yang kayak raya." Kenzi mengedipkan sebelah matanya pada Arin.


"Kok kesini?" Arin baru nyadari ketika mereka berhenti diparkiran sebuah mall. Kenzi hanya tersenyum lalu mengajak Arin keluar.


Masih dengan langkah pelan mereka menyusuri kawasan mall. Arin tidak tahu hendak mencari apa suaminya ini. Ia hanya mengikuti kemana Kenzi melangkahkan kaki.


Arin terperangah saat Kenzi membawanya masuk kesebuah toko perlengkapan bayi. Kenzi memilih dengan sangat antusias tapi tidak sekali pun ia melibatkan Arin dalam pilihannya. Dan Arin lebih terkejut lagi saat melihat Kenzi seakan tahu apa-apa saja yang mesti dipersiapkan saat menyambut kelahiran bayi.


Kenzi mengeluarkan ponselnya, lalu berucap panjang lebar seorang diri. "Setelan baju tangan panjang dan celana panjang, atasan lengan pendek dan lengan panjang, topi bayi, sarung tangan bayi, kaus kaki bayi, popok kain, oke, ceklis. Perlengkapan mandi, ceklis. Perlengkapan tidur, ceklis. Perlengkapan bepergian, ceklis. Perlengkapan kesehatan, oke. Perlengkapan makan, oke. Dan ...," Kenzi mengedarkan pandangannya kesekitar mengabaikan tatapan pegawai wanita yang melayaninya. "Oke, cukup." Ia tersenyum cukup lebar membuat wanita itu terpesona.


Namun lain lagi dengan Arin yang mendengus melihat Kenzi tersenyum pada wanita itu. Apalagi melihat tatapan terpesona wanita itu pada Kenzi. Ingin rasanya Arin mencungkil mata itu yang berani-berani menatap Kenzi penuh minat.


***


"Cemberut terus kamu dari tadi." Kenzi duduk di sebelah Arin yang bersendekap dada. Arin melengos saat Kenzi menatapnya lekat dari samping. "Kenapa sih? Kamu marah karena aku tidak mengikut-sertakan kamu saat memilih perlengkapan bayi kita?" Tanya Kenzi mencoba menebak. Tapi Arin tetap bungkam dan tak mau memandang Kenzi.


"Istriku yang cantik kenapa cemberut terus?" Tanya Kenzi sekali lagi. Kali ini dipadukan sengan rayuan basi.


"Kenapa tadi senyum-senyum sama pegawainya? Mau tebar pesona?" Sengit Arin dengan keras. Kenzi sempat terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar.


"Bukan-" ucapan Kenzi terhenti saat suara bel terdengar. Kenzi hanya menatap punggung Arin yang menjauh untuk mencari tahu siapa gerangan yang bertamu malam-malam seperti ini.


Kenzi menunggu,


Satu menit...


Dua menit...


Tiga, empat, lima menit...


Kenzi berdiri, mengapa Arin belum masuk juga. Akhirnya ia menyusul kedepan. Sampai di ruang tamu tidak ada siapa-siapa dan pintu depan tertutup rapat. Ia keluar, tidak ada siapa-siapa. Kemana Arin? Kenzi yakin sekali kalau Arin belum kembali saat membukakan pintu tadi.


Tapi...


Mungkin saja ia yang tidak melihat Arin masuk tadi. Kenzi masuk rumah lebih dalam, meneriakkan nama Arin. Awalnya tenang, tapi karena Arin tidak kunjung terlihat dan menjawab, Kenzi berteriak kencang memanggil nama Arin. Namun hasilnya tetap nihil.


Merasa sudah menyusuri semua sudut rumahnya, Kenzi berlari keluar rumah. Berharap ada Arin atau setidaknya ada orang yang bisa ia tanya. Tapi keadaan di luar sama sepinya di kuburan, tidak ada siapa pun yang terlihat beraktivitas diluar rumah.


Astaga, sekarang sudah malam dan ke mana perginya Arin.


.....