(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
66



Arin menyelesaikan tugasnya sampai membantu Kenzi memakai dasi. Karena ia berdiri di atas tempat tidur sedang Kenzi di lantai, Arin jadi bisa mengapai dahi Kenzi dengan mudah. Dikecupnya dahi itu dengan sayang.


“Hadiah, sekaligus penjaga. Biar mata, hidung, pipi, bibir, dan hatinya nggak ke mana-mana.” Arin mengecupnya sekali lagi, lalu turun mengecup bibir Kenzi agak lama. “Kalau yang ini special biar yang di bawah nggak ke mana-mana.”


Kenzi membalas dengan menumbukkan pelan kepalanya di dahi Arin. “Tapi nggak perlu disentuh, digoyang-goyang juga kan?” kata Kenzi melototi Arin sambil tangannya memegang kaki kanan Arin agar tidak jahil lagi.


Arin terkikik. “Yang itu bukannya punya aku, ya? Masa digituin aja nggak boleh,” katanya pura-pura cemberut.


Kenzi meniup mata Arin sampai tertutup. “Kamu tahu nggak, lama-lama kamu jadi mesum.”


Arin memiringkan kepalanya, bergaya sok imut. “kan kamu yang ajar, terutama yang di bawah sih.”


“Tuh kan, mesum.”


“Hahaha, sudah ah, kamu pergi kerja sana.” Arin mendorong Kenzi menjauh, lalu ia turun perlahan dari tempat tidur. “Tapi nggak ada sarapan ya, aku nggak sempat buat. Semalam kurang tidur banget, jadinya tadi kesiangan.”


Kenzi tersenyum. “Nggak apa-apa. Kamu sudah capek ngurusin Reva, sekarang malah aku ngerepotin kamu lagi.” Kenzi mengecup kepala Arin lalu mereka keluar bersama-sama. “Nanti pulang kerja aku janji beresin kamar dan masakin kamu makan malam. Terus besok juga buatkan sarapan kamu.”


“Janji ya?”


“Iya. Dan kayaknya kita perlu cari ART, buat bantu kamu dan bersih-bersih.”


“Boleh sih, aku terserah aja.”


“Dasar wanita, kebiasaan bilang terserah, tapi sebenarnya nggak benar-benar terserah.”


Arin tertawa. Lalu mengantar Kenzi sampai ke depan.


Sebelum berangat bekerja, Kenzi lebih dulu mencium Reva, mengajak anaknya berbicara sebentar.


“Besok-besok, usahakan cari keperluanmu sendiri. Jangan merepotkan Arin terus. Untung tadi ada ibu, kalau nggak ada, siapa yang mau jagain Reva?” pesan ibu Reva yang dibalas anggukan serta kekehan malu oleh Kenzi.


Setelahnya baru ia benar-benar berangkat bekerja.


***


Kenzi pulang cukup cepat. Jam empat sore sudah sampai di rumah. Ia memasuki rumah dengan terburu-buru, tidak sabar untuk bertemu istri dan anaknya.


“Mandi dulu, bersih-bersih badan, cuci muka cuci tangan dan kaki yang bersih baru ketemu Reva.”


Terguran ibu Arin yang sedang menonton tv di ruang tengah membuat langkah Kenzi memelan. Mengiyakan suruhan mertuanya lalu berjalan jinjit agar langkah buru-burunya tidak didengar oleh sang mertua.


Kenzi mengikuti suruhan Ibu Arin. Ia mandi segara, bersih-bersih tubuh sebersih-bersihnya. Berharap tidak ada kuman atau bakteri yang menempel lagi ditubuhnya. Lalu ia berlari mendatangi kamar anaknya.


Ternyata Arin tengah tertidur sambil menyusui Reva. Ibu dan anak itu sudah terlihat segar dan wangi, mereka sudah mandi. Tapi meskipun demkian tidak membuat gurat lelah di wajah Arin menghilang. Kenzi jadi tidak tega untuk membangunkan.


Dan tadi saat ia masuk ke kamarnya, ia cukup terkejut karena kamar mereka sudah kembali bersih dan rapi. Pasti Arin bela-belakan membersihkan kamar mereka meski dirinya juga lelah.


Ah betapa beratnya tugas istri. Sudahlah mengurus anak, mengurus rumah, eh suami lagi tak tahu diri minta diurus juga.


Kenzi janji takkan merepotkan Arin lagi. Mulai sekarang ia harus bisa kembali lagi seperti saat ia masih bujangan dulu, bisa mengurus diri dan rumah sendiri. Kalau perlu ia juga harus bisa memasakkan makanan enak dan sehat untuk istri dan anaknya.