
…
Baru saja mereka akan tertidur, ketika suara tangis bayi mengejutkan Arin dan Kenzi.
Arin terkekeh. Kenzi bergerak turun dan mengambil bayi mereka.
“Uhg Reva sayang.” Arin menerima Reva dalam gendongannya. Ia bergerak cepat membuka beberapa kancing baju bagian atasnya untuk menyusui anaknya.
“Sudah keluar ya?”
Arin berdecak mendengar pertanyaan Kenzi. “Bukannya empat hari lalu habis ngetes ya?”
Kenzi tertawa pelan. lalu memperhatikan anaknya menyusu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Astaga mereka lupa yang keluarga mereka yang tadi disuruh keluar. Jangan-jangan mereka marah.
Kenzi berlari kecil membukakan pintu. Ia meringis pelan ketika Ibu Arin melotot padanya. Ia melongok ke luar, tidak ada orang lain, hanya ada Ayah dan Ibu Arin.
“Masuk, Bu, Yah,” tawar Kenzi melebarkan pintu.
Ibu Arin mendengkus. “Kamu ini, baru juga juga beberapa hari nggak ketemu langsung memonopoli Arin,” ucap Ibu Arin sembari berjalan masuk.
Kenzi tertawa malu. “Ayah tidak masuk?”
“Ayah akan langsung pulang, tapi ada yang harus kita bicarakan Ken.”
Kenzi menutup pintu dan mengikuti Ayah mertuanya duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
“Tadi dokter Evan ke sini, mau mengjenguk Arin dan bertemu kamu untuk membicarakan perihal hukuman Galih.”
“Kalau menurut Ayah baiknya bagaimana?”
Ayah Arin menepuk pundak Kenzi. “Ken, Arin memang anak Ayah. Tapi kamu suaminya, kamu yang bertanggung jawab atas dia. Ayah percaya kamu bisa membuat keputusan yang baik untuk keselamatan Arin.”
“Galih sudah keterlaluan, sudah dua kali ia mencelakai Arin. Mungkin jika sesuai hokum dia akan dipenjara beberapa tahun sesuai keselahannya. Tapi, …” Kenzi menarik napas lalu diembuskannya perlahan. “Aku takut dendamnya pada Arin akan semakin besar saat keluar nanti.”
“Ayah Galih sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Galih itu pintar bersandiwara.” Ayah Arin tertawa pelan. “Dulu itu berapa psikiater yang dikibulinya.”
Iya. Benar juga. Tapi kini Galih sudah dewasa.
Keduanya bersamaan menyandarkan kepala di dinding. Memikirkan bagaimana baiknya.
“Mungkin kita memang perlu menyelesaikan ini lewat hukum, Ayah. Nanti kita lihat keputusan pengadilan seperti apa. Juga sembari cari cara lain.”
Ayah Arin mengangguk setuju saja. Beginilah kalau keluarga orang yang mencelakai ada hubungan dekat dengan keluarga yang dicelakai.
Tiba-tiba Ibu Arin keluar dari ruang inap Arin dan menghampiri suami dan menantunya. “Ken, kamu mau ikut menginap di sini atau mau pulang juga? Tapi Ibu sarankan kamu pulang saja. Kamu nggak guna ada di sini,” katanya lalu kembali ke ruangan inap Arin.
Kenzi meringis. Samar-samar ia mendengar suara pintu dikunci.
Ayah Arin tertawa pelan. “Kamu diketusi lagi. Siapa suruh buat anaknya terluka.”
"Ken, minta maaf ya, Yah, atas apa yang terjadi pada Arin. Seandainya aku tidak egois, mungkin-"
"Kamu menyesal sudah menikahi Arin?"
"Bukan begitu maksudnya, Yah."
Ayah Arin tertawa melihat Kenzi yang gelagapan. Lalu keduanya terdiam cukup lama.
“Ayo Ayah, Ken antar pulang.” Kenzi berdiri diikuti ayah mertuanya.
“Kamu mau pergi ke mana?” tanyanya sembari berjalan.
“Ada yang harus Ken bicarakan dengan Mama dan Papa, Yah.”
Ayah Arin mengangguk mengerti. Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran. Sudah hampir tengah malam. Keadaan rumah sakit sudah mulai sepi.