
"Arin!"
Arin tersentak mendengar namanya
disebut dengan keras. Ia menoleh pada Zevana yang memanggilnya. Lalu menatap
sekelilingnya yang sudah kosong.
"Susul kak Ken sana! Dia pasti
marah."
Arin mengangguk lalu menyusul Kenzi.
Ia tadi tidak melihat kemana arah perginya Kenzi hanya saja kakinya membawanya
menuju kekamar mereka.
Tadi usai Arin mengiyakan keinginan
Hanna, Hanna langsung pergi, disusul Dika dan kemudian Kenzi dan juga Ryan.
Sedang Devan terpaksa pergi lebih dulu meninggalkan Zevana karena memdengar
suara tangis anaknya.
Arin membuka pintu kamar mandi karena
tidak terlihat ada Kenzi dikamar. Tapi didalam kamar mandi juga tidak ada. Arin
membuka pintu balkon tapi tidak ada juga. Arin keluar kamar, menuruni anak
tangga dan berniat keluar rumah.
Saat melewati ruang tengah yang
otomatis melewati kamar mertuanya. Samar Arin mendengar teriakan yang cukup
keras. Penasaran, Arin mendekat. Ia menempelkan sebelah telinganya didaun
pintu. Tanpa ia sadari, tindakannya itu termasuk tindakan lancang yang belum
pernah ia lakukan sebelumnya.
"Mama belum puas, Ken?"
"Belum puas? Sampai kapan mama
akan merasa puas? Sampai Arin benar-benar ninggalin Ken?"
Bisa Arin bayangkan bagaimana kerasnya
suara Kenzi didalam sana. Padahal Kenzi sedang berucap dengan orang tuanya. Apa
Kenzi benar-benar berubah karenanya? Pikiran Arin berkecamuk.
Setelah beberapa saat hening, suara
Kenzi kembali terdengar. "Kalau sampai itu terkadi, Ken ngga tahu bisa
maafin Mama atau ngga."
Tiba-tiba pintu terbuka membuat Arin
terlonjak. Ia langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat Kenzi berada
dihadapannya. Ia hendak berucap tapi Kenzi berlalu begitu saja tanpa melirik apalagi
menatapnya.
Arin masih didepan kamar yang pintunya
terbuka. Ia menatap kedalam dimana menampilkan Hanna yang duduk ditepi ranjang
dengan sesekali menghela nafas.
"Kenapa kamu masih berdiri
disana?" Suara dingin Hanna kembali masuk ketelinga Arin. Dan dengan kikuk
Arin membalikkan tubunnya hendak pergi.
"Maksud Mama Masuk, bukan
pergi."
Arin kembali membalikkan tubuhnya dan
masuk kedalam kamar. "Tutup pintunya!" Ia melakukan perintah Hanna
dalam diam. Ia gugup setengah mati.
Hanna mengangkat kepalanya menatap
Arin. Sedetik kemudian Hanna melemparkan senyum ramah kepada Arin membuat
wanita itu terperangah.
Hanna menepuk kasur disampingnya.
"Duduk disini! Disamping mama."
Arin menatap Dika seakan meminta
persetujuan dan Dika menganggukkan kepalanya pelan.
Arin terkejut karena dengan tiba-tiba
Hanna memeluknya begitu ia duduk. Ia bisa merasakan hangat pelukan seorang ibu
dari pelukan Hanna. Karena rasa rindu pada ibu kandungnya, ia membalas pelukan
Hanna tak kala erat.
begitu ia melepaskan pelukannya.
Arin memandang Hanna ragu. "Mm
Mama, kalau belum bisa nerima Arin, ngga usah dipaksa. Ucapan Kak Ken ngga usah
dipikirin! Arin yakin kak Ken ngga serius ngomong gitu."
Hanna menghela nafasnya pendek.
"Kamu ini, apa ngga mikir kalau selama ini Mama cuma pura-pura?"
"Hah?"
"Kenapa Mama biarin kamu manggil
Mama dengan sebutan "Mama"kalau Mama benci sama kamu?"
Arin terdiam berusaha mencerna ucapan
Hanna. "Jadi selama ini Mama pura-pura? Mama bohong? Mama..." Arin
berhenti, ia menunduk sebentar lalu mendongak lagi. "Mama kok jahat
sih?" Rengeknya tanpa sadar.
Hanna tertawa pelam mendengar nada
manja Arin. "Kamu manja sekali."
Arin menunduk lagi. "Maaf,"
Lagi-lagi Hanna membawa Arin
kepelukannya. Ia mengelus punggung Arin dengan sayang. "Maafin Mama, Maaf
mama udah kasarin Arin, mama selalu dingin sama Arin, ucapan mama juga kadang
nyakitin Arin. Tapi itu semua tidak benar-benar dari hati kok. Mama cuma mau
menguji Arin saja."
"Apa semuanya tahu kalau mama
cuma sandiwara?" Hanna mengangguk. "Termasuk kak Ken?" Lagi
Hanna mengangguk. "Berarti kak Ken marah itu juga sandiwara?"
Tanyanya lagi dengan nada kecewa.
Kali ini Hanna menggeleng.
"Kemarahan Ken bukan sandiwara sayang." Arin berusaha mencari
kejujuran dari tatapan mata Hanna. "Dia benar-benar marah sama mama karena
tidak menghentikan sandiwara ini. Untuk yang kemarin-kemarin dia masih bisa
toleransi, tapi kalau yang malam ini katanya mama sudah keterlaluan karena
minta kamu ninggalin dia."
"Kenapa mama melakukan semua ini?
Dan kalau kak Ken ngga suka sama tindakan mama, dia kan bisa kasih tahu
Arin."
Hanna menghela nafas pelan.
"Sekali lagi mama minta maaf. Mama cuma mau lihat kesungguhan kamu, dan
terlebih lagi kesungguhan Ken. Kalau soal kenapa dia tidak kasih tahu kamu, itu
karena dia sudah berjanji tidak akan kasih tahu kamu. Kenzi, dia pribadi yang
akan selalu menepati janji. Apapun janjinya akan dia tetapi." Dan
mungkin karena itulah dia menikahi kamu. Sambung Hanna dalam hati.
"Mama ingin minta satu hal
sayang." Ditatapnya Arin yang masih terdiam dengan lembut. Ia menggenggam
tangan Arin erat. "Jangan tinggalkan Ken apapun yang terjadi. Setialah
hanya pada Ken. Dan... tolong kasih mama cucu secepatnya."
Arin terkekeh. "Itu dua hal, Ma. Bukan cuma satu." Ucapan Arin membuat
Hanna ikut tersenyum.
"Ucapan Ibu mertuamu memang tidak
pernah jelas, Rin." Celetuk Dika tiba-tiba yang posisinya tak jauh dari
mereka.
Terlihat keterkejutan diwajah Arin
tapi setelahnya ia tertawa terbahak membuat Hanna dan Dika kebingungan. Apa yang
membuat menantu dari anak tertua mereka itu tertawa.
"Arin.. Arin ngga tahu kalau Papa
ada disini." Kata Arin setelah bisa meredahkan ketawanya. "Kirain
tadi cuma berdua."
"Ada-ada saja kamu, Rin."