(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
17



"Arin!"


Arin tersentak mendengar namanya


disebut dengan keras. Ia menoleh pada Zevana yang memanggilnya. Lalu menatap


sekelilingnya yang sudah kosong.


"Susul kak Ken sana! Dia pasti


marah."


Arin mengangguk lalu menyusul Kenzi.


Ia tadi tidak melihat kemana arah perginya Kenzi hanya saja kakinya membawanya


menuju kekamar mereka.


Tadi usai Arin mengiyakan keinginan


Hanna, Hanna langsung pergi, disusul Dika dan kemudian Kenzi dan juga Ryan.


Sedang Devan terpaksa pergi lebih dulu meninggalkan Zevana karena memdengar


suara tangis anaknya.


Arin membuka pintu kamar mandi karena


tidak terlihat ada Kenzi dikamar. Tapi didalam kamar mandi juga tidak ada. Arin


membuka pintu balkon tapi tidak ada juga. Arin keluar kamar, menuruni anak


tangga dan berniat keluar rumah.


Saat melewati ruang tengah yang


otomatis melewati kamar mertuanya. Samar Arin mendengar teriakan yang cukup


keras. Penasaran, Arin mendekat. Ia menempelkan sebelah telinganya didaun


pintu. Tanpa ia sadari, tindakannya itu termasuk tindakan lancang yang belum


pernah ia lakukan sebelumnya.


"Mama belum puas, Ken?"


"Belum puas? Sampai kapan mama


akan merasa puas? Sampai Arin benar-benar ninggalin Ken?"


Bisa Arin bayangkan bagaimana kerasnya


suara Kenzi didalam sana. Padahal Kenzi sedang berucap dengan orang tuanya. Apa


Kenzi benar-benar berubah karenanya? Pikiran Arin berkecamuk.


Setelah beberapa saat hening, suara


Kenzi kembali terdengar. "Kalau sampai itu terkadi, Ken ngga tahu bisa


maafin Mama atau ngga."


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Arin


terlonjak. Ia langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat Kenzi berada


dihadapannya. Ia hendak berucap tapi Kenzi berlalu begitu saja tanpa melirik apalagi


menatapnya.


Arin masih didepan kamar yang pintunya


terbuka. Ia menatap kedalam dimana menampilkan Hanna yang duduk ditepi ranjang


dengan sesekali menghela nafas.


"Kenapa kamu masih berdiri


disana?" Suara dingin Hanna kembali masuk ketelinga Arin. Dan dengan kikuk


Arin membalikkan tubunnya hendak pergi.


"Maksud Mama Masuk, bukan


pergi."


Arin kembali membalikkan tubuhnya dan


masuk kedalam kamar. "Tutup pintunya!" Ia melakukan perintah Hanna


dalam diam. Ia gugup setengah mati.


Hanna mengangkat kepalanya menatap


Arin. Sedetik kemudian Hanna melemparkan senyum ramah kepada Arin membuat


wanita itu terperangah.


Hanna menepuk kasur disampingnya.


"Duduk disini! Disamping mama."


Arin menatap Dika seakan meminta


persetujuan dan Dika menganggukkan kepalanya pelan.


Arin terkejut karena dengan tiba-tiba


Hanna memeluknya begitu ia duduk. Ia bisa merasakan hangat pelukan seorang ibu


dari pelukan Hanna. Karena rasa rindu pada ibu kandungnya, ia membalas pelukan


Hanna tak kala erat.


begitu ia melepaskan pelukannya.


Arin memandang Hanna ragu. "Mm


Mama, kalau belum bisa nerima Arin, ngga usah dipaksa. Ucapan Kak Ken ngga usah


dipikirin! Arin yakin kak Ken ngga serius ngomong gitu."


Hanna menghela nafasnya pendek.


"Kamu ini, apa ngga mikir kalau selama ini Mama cuma pura-pura?"


"Hah?"


"Kenapa Mama biarin kamu manggil


Mama dengan sebutan "Mama"kalau Mama benci sama kamu?"


Arin terdiam berusaha mencerna ucapan


Hanna. "Jadi selama ini Mama pura-pura? Mama bohong? Mama..." Arin


berhenti, ia menunduk sebentar lalu mendongak lagi. "Mama kok jahat


sih?" Rengeknya tanpa sadar.


Hanna tertawa pelam mendengar nada


manja Arin. "Kamu manja sekali."


Arin menunduk lagi. "Maaf,"


Lagi-lagi Hanna membawa Arin


kepelukannya. Ia mengelus punggung Arin dengan sayang. "Maafin Mama, Maaf


mama udah kasarin Arin, mama selalu dingin sama Arin, ucapan mama juga kadang


nyakitin Arin. Tapi itu semua tidak benar-benar dari hati kok. Mama cuma mau


menguji Arin saja."


"Apa semuanya tahu kalau mama


cuma sandiwara?" Hanna mengangguk. "Termasuk kak Ken?" Lagi


Hanna mengangguk. "Berarti kak Ken marah itu juga sandiwara?"


Tanyanya lagi dengan nada kecewa.


Kali ini Hanna menggeleng.


"Kemarahan Ken bukan sandiwara sayang." Arin berusaha mencari


kejujuran dari tatapan mata Hanna. "Dia benar-benar marah sama mama karena


tidak menghentikan sandiwara ini. Untuk yang kemarin-kemarin dia masih bisa


toleransi, tapi kalau yang malam ini katanya mama sudah keterlaluan karena


minta kamu ninggalin dia."


"Kenapa mama melakukan semua ini?


Dan kalau kak Ken ngga suka sama tindakan mama, dia kan bisa kasih tahu


Arin."


Hanna menghela nafas pelan.


"Sekali lagi mama minta maaf. Mama cuma mau lihat kesungguhan kamu, dan


terlebih lagi kesungguhan Ken. Kalau soal kenapa dia tidak kasih tahu kamu, itu


karena dia sudah berjanji tidak akan kasih tahu kamu. Kenzi, dia pribadi yang


akan selalu menepati janji. Apapun janjinya akan dia tetapi." Dan


mungkin karena itulah dia menikahi kamu. Sambung Hanna dalam hati.


"Mama ingin minta satu hal


sayang." Ditatapnya Arin yang masih terdiam dengan lembut. Ia menggenggam


tangan Arin erat. "Jangan tinggalkan Ken apapun yang terjadi. Setialah


hanya pada Ken. Dan... tolong kasih mama cucu secepatnya."


Arin terkekeh. "Itu dua hal, Ma. Bukan cuma satu." Ucapan Arin membuat


Hanna ikut tersenyum.


"Ucapan Ibu mertuamu memang tidak


pernah jelas, Rin." Celetuk Dika tiba-tiba yang posisinya tak jauh dari


mereka.


Terlihat keterkejutan diwajah Arin


tapi setelahnya ia tertawa terbahak membuat Hanna dan Dika kebingungan. Apa yang


membuat menantu dari anak tertua mereka itu tertawa.


"Arin.. Arin ngga tahu kalau Papa


ada disini." Kata Arin setelah bisa meredahkan ketawanya. "Kirain


tadi cuma berdua."


"Ada-ada saja kamu, Rin."