(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Reva - Ryan - Arin



“Reva jangan dilepas!”


“Gendong terus!”


“Jangan biarkan jalan sendiri!”


“Jangan terlalu dekat binatang buas!”


“Hati-hati!”


“Jangan dekat-dekat kuda nil!”


“Jangan dekat-dekat harimau!”


“Jangan terlalu dekat binatang buas!”


“Hati-hati!”


Rentetan sms dari Kenzi memenuhi gawai Ryan. Sudah seperti orang mengajak tawuran. Setiap sms-nya tak pernah lepas dari tanda seru. Mempertegas kalimat perintahnya. Membuat Ryan mendengkus pelan.


Sekarang Ryan dan Reva sedang duduk berpangkuan di sebuah kedai es krim. Masih terlalu terik untuk membawa Reva ke kebun binatang. Dan lagi mereka pergi tanpa persiapan, tanpa perlengkapan untuk Reva, seperti topi dan lain-lainnya.


Reva sudah tidak lagi menyusu pada Arin jadi tidak terlalu pusing jika Reva sampai berjam-jam jauh dari ibunya. Asal jangan sampai lebih dari lima jam saja.


Ryan tertawa pelan melihat Reva yang semangat makan es krimnya sampai berantakan di sekitar mulut. “Enak?”


Reva menggeleng membuat Ryan mengernyit heran.


“Nggak ada Papa nggak enak.”


Ryan membuang muka, menggaruk kepala yang tidak gatal. Dasar anak Kenzi, apa-apa harus ada papanya.


“Kalo nggak enak ya jangan dimakan dong, Sayang.”


Reva diam saja, anak kecil itu lebih memilih fokus pada es krimnya daripada menanggapi omongan Ryan. Ia ingin cepat-cepat selesai lalu pergi ke kebun binatang.


“Sudah. Ayo ke kebun binatang, Om.” Reva membalikkan tubuhnya menghadap Ryan, meminta gendong.


Ryan memberikan air mineral untuk diminum Reva, agar tak batuk. Lalu dengan cekatan Ryan membersihkan sekitaran mulut dan tangan Reva yang kotor dengan tisu basah. Tisu basah, sekarang menjadi barang wajib ada di mobilnya karena untuk menjaga-jaga Reva sewaktu-waktu ikut padanya.


Sesampainya di kebun binatang, Reva sangat aktif. Tak hentinya ia bergerak dalam gendongan Ryan, membuat laki-laki itu kewalahan. Beberapa kali Reva ingin turun dan ingin lebih dekat dengan hewan, tapi tentu Ryan takkan mengikuti permintaan Reva. Bukan hanya karena perintah Kenzi, tapi ia juga tak mau Reva kenapa-kenapa.


Reva cemberut. Hanya sebentar lalu kembali ringan ketika monyet bergelantungan. Melihat orang-orang memberi makan, Reva pun juga ingin melakukannya.


“Nggak boleh, Sayang. Reva masih kecil.”


Mendengar larangan Ryan, Reva langsung bersedih dan lemas. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Ryan. Matanya berkaca-kaca. “Pulang,” rengeknya pelan.


Ryan menghela napas pelan. Keponakannya yang satu ini sangat pintar mengambil simpati orang. Tapi ia tak boleh tergoda. Bahaya. Bisa dicincang habis dia sama kakaknya kalau sampai Reva terluka.


***


Sesampainya di rumah, Reva sudah dalam keadaan tertidur. Arin menyuruh Ryan untuk meletakkan Reva langsung di tempat tidur.


“Reva kayaknya demam, Rin. Hangat badannya.”


Arin memeriksa dahi Reva, dan ternyata benar, Reva demam. “Kelamaan nggak ketemu Kenzi, nih. Nggak papa, besok pagi juga Kak Ken sudah ada di sini tanpa diberitahu.”


Ryan tertawa. Ia baru tahu ada yang seperti itu. Bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya meski sejak berjauhan. “Gue pulang.”


Arin yang duduk di tepi ranjang menoleh pada Ryan yang hendak keluar kamarnya. Arin berdiri menghampiri. “Nggak makan dulu?” Mereka keluar bersamaan dan berjalan beriringan turun ke lantai satu.


“Masak apa?”


“Ada cumi pedas manis tuh. Masak lebih seporsi. Sayang kalau nggak ada yang makan.”


“Tahu nggak ada orang malah masak banyak.”


“Kan ada lo, gimana sih.”


Arin duduk di kursi makan lebih dulu, sedang Ryan menyiapkan makanannya sendiri. Ambil piring, nasi dan air minum sendiri. Malah Ryan juga mengambilkan untuk Arin.


***


***Hai, maaf ya kemarin nggak update. Mendekati lebaran, kesibukan mulai berdatangan 😭


Terima kasih yang udah vote like dan komen. kalian penyemangatku 😘😘


💛💛💛***