(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Preview S2 - 4



*Jadi, bab preview ini hanyalah pratinjau.


Sedikit cuplikan kisah Kenzi dan Arin saat hamil anak ketiga.


Selamat membaca dan terima kasih 😘😘


💛💛💛*


Cukup lama Kenzi mengemudi tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya kendaraan roda dua miliknya berhenti di depan rumah besar dengan desain klasik. Kenzi membunyikan bel dengan tergesa. Tidak peduli jika kelakuannya sangat mengganggu pemilik rumah.


Kenzi mundur selangkah saat mendengar suara kunci dari dalam. Hanya tinggal menunggu pintu terbuka saja rasanya seperti menunggu berhari-hari. Sangat lama terasa.


“Di mana Arin?” Tanya Kenzi basa-basi begitu pintu terbuka. “Galih di mana Arin?” tanyanya sekali lagi tanpa peduli dengan wajah Galih yang menahan kesal.


Plakk…


Rasa panas langsung menjalar di pipi kiri Kenzi. Harusnya Kenzi marah tapi ia diam saja, merasa pantas dengan yang ia dapat. Atau mungkin tamparan itu tidak seberapa.


“Masih peduli lo sama Arin?” tak cukup sekali, Risda, orang yang menampar Kenzi, kembali meninju pipi kanan pria itu dengan tangan kirinya. Tak lupa tatapan tajamnya terus ia berikan pada Kenzi. Diamnya Kenzi membuat Risda semakin kesal, ia pun memilih masuk ke dalam rumah ketimbang harus berhadapan dengan pria itu lebih lama.


“Arin ada di dalam,” Galih angkat bicara sepeninggalnya Risda dari hadapan mereka. “Lagi tidur ditemani Langit.” Galih kemudian melebarkan pintu mempersilahkan Kenzi masuk.


“Dia udah nangis begitu sampai di sini. Udah gitu nggak henti-henti juga nggak mau cerita. Gue nggak tahu lo apain dia sampe pergi dari rumah tanpa bawa duit dan … nyeker. Lo ditunggu-tunggu tapi nggak dateng-dateng. Nelpon buat nanyain juga enggak. Di situ yang buat Risda makin marah sama lo.” Galih membuka sebuah pintu dengan perlahan. Masuk dengan derap langkah yang dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu. “Syukurnya dia bisa makan begitu disuapi Langit.”


“Langit,”


“Ssst…” Langit menginterupsi suara Kenzi agar berhenti sembari melepaskan tangan Arin yang membelit tubuhnya. Anak berusia lima tahun itu bergerak sangat hati-hati seolah menjaga agar adiknya tidak terjaga.


“Papa Ken, bisa tidur di sini.” Beritahu Langit dengan suara berbisik.


Belum Langit beranjang lebih jauh terdengar kembali isak tangis Arin yang sempat berhenti. Dengan cepat Langit mengelus dan menepuk-nepuk kepala Arin dengan sayang. Setelah Arin terlihat tenang barulah Langit berdiri.


“Maafin Papa ya, karena merepotkan dan mengganggu waktu istirahatmu.” Kenzi duduk ditepi ranjang mengantikan Langit.


“Nggak apa-apa kok, Pa. Langit bangun sendiri, bukan karena terganggu dengan kedatangan Mama,” kata Langit dengan senyum khasnya yang memukau.


“Ayo kita tidur sayang,” Langit menoleh pada ayahnya lalu kembali memandang Arin yang sudah tertidur pulas dengan gerakan tangan Kenzi di kepala Arin. Ia tersenyum kecil lalu mengangguk.


Melihat anggukan itu, Galih mengendong Langit tanpa aba-aba. Selang beberapa detik kemudian Langit langsung jatuh tertidur. Kasian anak itu, terbangun tengah malam dan harus menenangkan Arin.


Setelah yakin Galih dan putranya sudah keluar dan pintu tertutup rapat, Kenzi membaringkan tubuhnya di samping Arin. Dipandanginya wajah kusut itu. Jejak air mata terlihat di mana-mana. Dan mata bengkak Arin pun tidak bisa berbohong.


Berapa jam wanitanya ini menangis?


Kini, Kenzi benar-benar menyesal sudah mengabaikan Arin. Berlebihan meluapkan amarah dan melupakan fakta tentang janin yang sedang dikandung Arin, anak ketiga mereka. Ia sungguh menyesal dan berjanji takkan mengulanginya lagi.


“Janji itu perlu bukti, bukan hanya ucapan.” Suara serak Arin terdengar seakan ia bisa membaca pikiran Kenzi. Mata bengkaknya perlahan terbuka, dan menatap Kenzi sayu.


Dengan pelan Kenzi merapikan rambut-rambut kecil yang berantakan mengenai wajah Arin. “Kenapa kamu datang ke sini dan merepotkan Langit?”


“Kamu terlihat lebih mencintai Langit ketimbang aku.”


“Dan kamu pun lebih mencintai pekerjaanmu dari pada aku,” balas Arin tanpa mengalihkan tatapannya.


“Maaf,”


“Jangan minta maaf! Aku tidak suka.”


“Maaf,”


Diawal Arin mungkin melarang Kenzi untuk meminta maaf. Tapi jangan tertipu dengan ucapannya. Ketika Arin bilang “Jangan Lakukan!” maka Kenzi harus lakukan sebanyak yang Arin mau, seperti permintaan maaf itu. Salah satu sikap dan kelakuan aneh Arin semenjak hamil ketiganya ini, selain hobi menjahili Kenzi dan selalu ingin dekat-dekat dengan Langit, putra sulung Galih dan Risda.


“Jangan seperti itu lagi!”


“Maaf.”


“Aku bisa saja membenci kamu,”


“Maaf.”


“Tapi aku tidak melakukannya,”


“Maaf.”


“Lebih tepatnya tidak bisa melakukannya.”


“Maaf.”


“Karena aku terlalu mencintai kamu.”


“Dan aku lebih lebih lebih mencintai kamu, … maafkan aku.”


***


Yeeeeeay


Sudah selesai ya bab previewnya.


Makasih buat semuanya yang sudah meluangkan waktu untuk baca.


Terlebih lagi yang udah vote, like dan komen. Uwuuuu itu buat penyemangat banget sih hehe


makasih banget love love love😘😘😘😘


Pokoknya kalian terbaik. Makasih 😘😘


💛💛💛