(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
57




Arin terdiam, ia menunduk, tak mau menatap wajah Kenzi.


Arin cukup syok mendengar ungkapan suaminya. Tak menyangka dirinya hampir terbunuh dua kali dengan sengaja. Dan itu karena Kenzi. Karena Kenzi yang mencintainya.


Arin terkekeh pelan, menertawakan kemalangannya yang menerima cinta dan kebencian secara bersamaan. Dan mungkin kebencian yang ia dapat lebih besar dari yang cinta yang ia terima.


“Kenapa kamu tetap menikahi aku sementara kamu tahu aku akan semakin dalam bahaya?”


“Maaf, aku memang egois,” jawab Kenzi dengan lirih.


Arin menghela napas. “Dasar bodoh,” ucapnya sambil menempeleng Kenzi dengan keras. Ia bertanya karena ingin tahu, bukan untuk mendengar permintaan maaf Kenzi.


“Kalau aku minta kamu cer—”


Ucapan Arin terhenti seketika karena bibirnya dibungkam oleh Kenzi dengan ciuman. Arin sempat meringis karena ciuman yang Kenzi berikan terasa kasar dan terburu-buru.


Kenzi baru melepaskan ciumannya setelah dua menit kemudian. Ia menyeka liurnya yang berantakan di bibir Arin yang membengkak. Ia mengelus bibir itu pelan sambil bergumam maaf. Lalu menempelkan dahi mereka.


“Tolong, jangan pernah ucapkan kamu mau pergi. Kalo kamu pergi, aku bagaimana?”


“Harusnya yang bertanya itu aku. Sebenarnya tadi aku takut kalo kamu langsung mengiakan. Kan niatnya cuma menggoda.” Arin berusaha menunduk. Ia malu sekaligus bersyukur, pasalnya bagaimana kalau Kenzi tidak menghentikan lalu dengan menyetujui permintaannya. Dia pasti menyesal sekali, lalu merengek-rengek minta rujuk kembali.


“Makanya kalau bicara jangan sembarangan.”


Arin menjauh dari Kenzi, sedikit bergeser ke tepi. “Ikut baring sini ya,” Arin memosisikan tubuhnya berbaring menyamping agar mereka bisa bersama di atas ranjang rumah sakit yang kecil itu.


Kenzi ikut berbaring. “Terus mereka yang di luar itu?”


“Biarkan saja, mereka pasti tahu kalau kita kangen-kangenan.” Perlahan tangan Arin masuk ke dalam baju Kenzi, mengelus-elus punggung suaminya tanpa penghalang apapun. “Tadi aku tanya kenapa kamu masih mau menikahiku?”


“Ya karena aku cinta sama kamu.”


“Sangat cinta, terlalu cinta, cinta sekali.”


Jawaban apa itu. Arin cemberut. Selesai mengelus punggung Kenzi, tangan Arin berpindah mengelus wajah sang suami yang belum cukuran.


“Kalau memang aku sudah pernah hampir terbunuh karena dekat sama kamu, kenapa orang tuaku masih mau menerima kamu sebagai menantu ya?”


Kenzi tertawa. “Bagaimana tidak mau kalau semua kebutuhanmu aku yang tanggung?”


Arin mengernyit.


“Kamu pikir orang tuamu mudah memberikan apa yang kamu minta perihal kebutuhanmu sejak SMP hingga sehari sebelum menikah itu karena mereka sayang sekali sama kamu?” Kenzi tertawa. “Sejak SMP, semua kebutuhanmu itu aku yang penuhi. Pakai uangku.”


Arin berdecak. “Aku dibeli gitu?”


Kenzi tertawa lagi. “Bukan dibeli. Itu sebagai salah satu bentuk keseriusanku sama kamu. Dan sebenarnya mereka agak berat menerimaku. Tapi karena kesungguhanku, akhirnya mereka percayakan kamu ke aku.”


Arin diam, Kenzi pun ikut diam. Mereka bertatapan cukup lama.


“Jadi maaf kalau selama sama aku, kamu belum cukup bahagia.”


Arin tersenyum miring. “Huh, kalau begitu mulai sekarang kamu harus lebih bekerja keras membuatku bahagia.”


Gemas dengan ekspresi Arin, Kenzi menarik pipinya.


“Oh iya, bagaimana dengan Galih? Bagaimana kamu menghukum dia? Masukan dia ke penjara kah?”


Kenzi menghela napas. Tampak berpikir sejenak sebelum menjawab Arin. “Masalah Galih aku serahkan pada orang tuamu dan orang tua Galih. Yang masalah kecelakaan dulu juga mereka yang urus. Tapi mungkin kali ini Galih akan suulit lolos dari hukum.”


“Semoga setelah ini, dia tidak akan jahat lagi. Baik sama aku atau sama orang lain.” Arin menenggelamkan wajahnya di dada Kenzi. Menghirup dalam-dalam aroma suaminya. “Ngomong-ngomong kamu sudah berapa hari nggak mandi?”