(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
39



"Mas, Mas Ryan!"


Ryan menoleh pada Toto yang memanggilnya saat hendak masuk ke dalam mobil. Ia baru keluar dari setelah tiga jam mengurung diri di dalam kamar. Menulikan telinga, memfokuskan pikiran, berusaha mencari cara dan menyusun kalimat agar Kenzi mau memaafkan dirinya.


"Kenapa?" Ryan merepon tak suka, yakinnya ini ada sangkut pautnya dengan Arin.


Suara dingin yang Ryan keluarkan membuat Toto bergidik ngeri. Pasanya majikannya ini belum pernah ia dengar mengeluarkan seperti itu. Berarti Ryan tadi benar-benar marah.


"Anu ... anu itu...."


"Apa?" bentakkan Ryan semakin membuat Toto gugup mengutarakan maksudnya.


"Anu ... Mbak Arin...."


Ryan mendengkus, "Persetan dengan dia," potongnya cepat lalu masuk ke dalam mobil dan pergi.


Toto memandang kepergian mobil Ryan dengan lemas. Ia mengusap wajahnya melas. "Ya Allah, mbak Arin. Duh piye iki?" Lalu Toto mengambil ponsel miliknya di saku baju dan menelepon seseorang.


"Piye, To?" Belum Toto menyapa suara di seberang sana sudah lebih dulu bertanya.


"Duh, mas Ryan baru denger nama mbak Arin aja langsung ngumpat ih, Bu'e," jelas Toto dengan logat khasnya.


Bi Muna menghela napas di seberang sana. "Yo wes, mbak Arin-nya juga bilang jangan kasih tahu siapa-siapa."


"Alhamdulillah, baik-baik saja. Ya sudah tak tutup yo?"


Toto mendesah lega, setidaknya majikannya yang satu itu, Arin, baik-baik saja. Toto sempat takut kalau Arin mengalami hal serius di saat kemarahan Ryan dan Kenzi masih di atas kepala. Kalau sampai itu terjadi entah harus bagaimana mereka.


Setelah Ryan marah-marah pada Arin dan masuk ke dalan rumah, wanita itu langsung terduduk begitu saja. Pandangannya ke sana-kemari seperti orang linglung. Perutnya yang sakit akibat pukulan tak sengaja Ryan saat bangun tidur, serta pikirannya yang ruwet tentang Kenzi membuat Arin tak seolah tak punya tenaga. Sampai tidak menyadari ada yang merembes melewati pahanya.


Arin baru menyadarinya ketika Bi Muna mengajaknya masuk ke dalam rumah. Saat itu keduanya langsung panik. Arin yang sudah pusing semakin tidak bertenaga, ia takut terjadi sesuatu pada anaknya. Lalu dengan gesit Bi Muna dan Mang Ujang mengantarkan Arin ke rumah sakit.


Tak lupa Bi Muna menitipkan pesan agar membertahu Ryan perihal kondisi Arin. Tapi Toto baru bisa menemui Ryan tidak jam kemudian karena Ryan tak pernah menyahut saat dipanggil. Pasti Ryan tak ingin diganggu dulu.


Toto yakin tuannya Kenzi hanya salah paham, lalu Ryan yang sedang panik dengan kesalahpahaman Kenzi membuatnya hilang kendali dan melampiaskannya pada Arin. Ryan tidak tahu saja, kalau laki-laki itu sedang tidak ada di rumah Arin akan lebih banyak diam dan murung, terkadang juga Arin terlihat ketakukan.


Toto tidak tahu apa yang Arin lalui dan dirasakannya, tapi Toto bisa mengerti kalau selama Kenzi tidak ada, Arin seperti mencari perlindungan pada Ryan. Karena rasa takut yang biasa Toto lihat hilang saat Arin bersama Ryan.


Entah apa yang sudah Arin alami sampai tidak pernah bisa bercerita jujur pada Ryan. Sampai membuat wanita itu bersikap tidak wajar dan di luar batas pada adik iparnya sendiri. Dan Toto yakin Arin tidak menaruh perasaan lebih pada Ryan. Memang tatapan Arin pada Kenzi dan Ryan sama-sama cinta. Tapi bedanya cintanya pada Ryan hanya sebatas cinta adik pada kakaknya, sedang pada Kenzi-lah cinta yang sebenarnya.


Toto terkekeh sendiri dengan pemikirannya, tapi ia yakin apa yang dipikirannya benar, setidaknya sembilan puluh persen.


***