
Kenzi keluar setelah hampir tiga jam berada di kamar mandi. Ia melihat Arin berbaring meringkuk di tengah tempat tidur. Kenzi menghampiri istri mungilnya dengan wajah sendu.
"Kenapa kamu menangis?" Kenzi merapikan rambut-rambut yang berserakan di wajah istrinya. "Karena aku atau karena Ryan? Karena tidak bertemu Ryan?" Kenzi tertawa hambar, "pasti karena Ryan, kan? Maaf, aku egois."
Kenzi berdiri, tanpa menoleh lagi ia meninggalkan Arin dikamar seorang diri.
Kenzi memilih tidur diruang baca, ia kembali merasa kecewa ada Arin. Tapi sekecewanya pada Arin, ia lebih kecewa pada dirinya sendiri karena terlalu egois dan belum bisa melepaskan Arin untuk orang lain. Walaupun itu adiknya sendiri.
Kenzi tidak bodoh, ia melihat tatapan Ryan yang berbeda terhadap Arin. Tatapan para kaum adam yang tertarik pada kaum hawa. Kenzi tahu Ryan menyimpan rasa pada Arin. Dan biar bagaimana pun mereka sama-sama laki-laki jadi tidak sulit untuk menebak tatapan itu, terlebih lagi mereka juga besar bersama.
Kenzi terbangun saat merasa tidak bisa mengangkat tangan kanannya dan ada belitan tangan ditubuhnya. Dalam keadaan remang-remang bisa Kenzi lihat wajah damai Arin yang tertidur dengan berbantalan lengannya sambil memeluk tubuhnya. Jika melihat sikap Arin yang seperti ini siapa yang akan menduga kalau Arin juga tengah bermain api di belakangnya. Dan sekali lagi Kenzi bersikap egois dengan membalas pelukan Arin tak kalah erat. Dalam hati Kenzi masih terus berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dan wanita dalam pelukannya ini akan terus menjadi teman hidupnya sampai akhir hayat.
***
Tawa menyambut ketika Kenzi menapakkan kakinya memasuki ruang tengah di rumah orang tuanya. Di sana ada kedua orang tuanya duduk bersampingan, ada Arin dan Ryan yang duduk juga bersampingan. Tadi, pagi-pagi sekali sebelum Kenzi berangkat kerja, ia terlebih dulu mengantar Arin ke rumah orang tuanya.
Kenzi tersenyum kecut menyadari bahwa mereka terlihat seperti sebuah keluarga bahagia. Ada kedua orang tua yang sehat, ada anak yang bisa dibanggakan dan ada menantu yang cantik. Hanya tinggal menunggu kehadiran cucu yang lucu saja. Kenzi berlalu begitu saja, tanpa menyapa tanpa ada niatan menginterupsi apalagi ikut bergabung dan bercanda bersama.
Kenzi terjengkit ketika membuka pintu kamar mandi, ia baru saja selesai membersihkan diri dan hendak keluar dari kamar mandi ketika tiba-tiba Arin muncul di balik pintu.
"Kamu kapan sampai?"
Kenzi menghela nafas pelan melihat Arin yang bertanya tanpa merasa bersalah karena mengejutkannya sampai nyaris terjatuh. Kenzi berlalu begitu saja melewati Arin tanpa menghiraukan pertanyaan Arin.
"Kak Ken!" sentak Arin setelah menunggu beberapa lama tapi tidak mendapat jawaban. "Kak, aku tanya," lanjutnya. Gerakan Kenzi memang terhenti tapi masih membelakangi Arin seperti tidak ada niat untuk menatap Arin.
"Kak Ken!" Arin menaikan volume suaranya, merasa kesal karena tidak diacuhkan. Arin membalikkan paksa tubuh besar Kenzi. "Kak Ken, aku tanya ya dijawab dong. Kapan sampainya? Kenapa aku nggak tahu?"
"Pernah kamu menyadari keberadaanku saat tengah bersama Ryan?" balas Kenzi dingin dan membuang muka. Laki-laki itu memilih mengambil salah satu buku diatas rak, memilih larut pada bacaannya dari pada memedulikan Arin.
Sementara Arin berdiri mematung di tempat semula. Pertanyaan Kenzi mengganggu pikirannya. Ia tidak tahu mengapa Kenzi sampai bertanya demikian. Memangnya kapan ia mengabaikan Kenzi saat bersama Ryan. Ia merasa tidak pernah. Iya, tidak pernah. Yakin Arin dalam hatinya.
"Kak Ken kenapa sih? Datang nggak ditahu tiba-tiba marah. Kak Ken lagi PMS ya?" ucap Arin dengan suara manja khasnya, berharap dapat mencaikan suasana yang tiba-tiba tegang. Ia menghampiri Kenzi yang duduk bersandar di kepala ranjang.
Arin duduk tepat di samping Kenzi dengan wajah cemberut. Ia menoleh lalu mendengkus melihat Kenzi yang masih tidak acuh. Lalu tiba-tiba ide konyol muncul di kepalanya. Dengan perlahan Arin memasukkan kepalanya di antara kurungan tangan Kenzi yang memegang buku dari bawah. Tepat saat wajah mereka bertatapan, Kenzi menutup matanya membuat Arin mencebik. Dan muncul lagi sebuah ide dikepalanya. Arin dengan tiba-tiba mencium kedua mata Kenzi yang terturup secara bergantian. Sontak hal itu membuat Kenzi membuka matanya. Dan tepat saat itu Arin juga mengecup bibir Kenzi.
Kenzi menyekah saliva yang masih ada di sudut bibir Arin. "Aku harus pergi ke
Chicago besok pagi. Paling lama mungkin sekitar dua-tiga bulan."
"Chicago?" Arin memutar kepalanya berpikir. "Di mana itu? Korea?" tanyanya polos.
Kenzi tertawa. "Amerika. Nanti mau tinggal di rumah saja atau di-"
"Di sini," potong Arin cepat.
Pasti karena ada Ryan bukan?
"Kalau di sini ada Kak Iyan," lanjut Arin bersamaan dengan suara hati Kenzi yang menebak alasan Arin memilih di rumah orang tuanya.
Karena Ryan. Kenzi tersenyum menyembunyikan sakit hatinya. "Iya, di sini ada Ryan yang bisa menemani kamu kalau mau bepergian." Kenzi memindahkan Arin yang tadi sudah naik di pangkuannya. "Ayo makan malam!"
Makan malam berlangsung hangat seperti biasanya. Kenzi juga membahas perihal keberangkatannya yang terkesan mendadak dan bisa dikatanya cukup lama. Tidak ada yang terlihat sedih dengan niat kepergiannya termasuk Arin sendiri yang notabene istri laki-laki itu . Wanita itu terlihat biasa saja seperti kepergian suaminya yang bisa memakan hitungan bulan bukanlah masalah besar.
Ada Ryan. Lirih Kenzi dalam hati. Senyum di bibirnya hanya untuk menutupi kekecewaannya pada Arin yang biasa saja. Wanita itu lebih berat ditinggal Ryan pergi daripada dirinya. Lagi-lagi Kenzi tertawa miris.
"Kamu kenapa tertawa?" tanya Arin merasa heran dengan Kenzi yang tiba-tiba
tertawa.
"Tidak apa-apa."
Arin mendekatkan diri pada Kenzi. "Nanti kita sering-sering video call atau telfonan ya. Eh, jangan, Video call saja biar bisa anu." Arin tertawa pelan berharap suaranya agar tidak terdengar oleh kedua
mertuanya atau pun Ryan yang ada di hadapannya.
Kenzi mengangguk pelan. "Iya,"
...