(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
64



Pemakaman sudah usai sejak beberapa jam yang lalu. Saat perjalanan pulang tadi, Kenzi sempat melihat penampakan Galih di sana. Ikut menghadiri pemakaman mamanya. Galih tampak kusut dan berantakan. Pasti Galih sangat terpukul juga mendengar kabar Hanna meninggal. Pasalnya Galih dan Hanna juga cukup dekat seperti ibu dan anak, bahkan perlakuan Hanna pada Galih lebih baik ketimbang pada Kenzi.


Namun, Kenzi tidak peduli. Itu semua sudah lewat. Ia hanya tak mengira Galih akan membuang muka ketika bertemu pandang dengannya. Mungkinkah karena malu datang dengan pengawalan dari polisi? Entahlah. Kenzi tidak ambil pusing tentang itu. Dia hanya takut Galih melarikan diri lalu mencoba mencelakai Arin lagi.


Saat ini Kenzi, Dika, Ryan, dan juga Zevana sedang berkumpul di kamar Dika. Ryan dan Kenzi duduk bersandar di sofa. Zevanna berbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Dan Dika duduk di tepi ranjang dengan memegang figura dirinya dan Hanna yang sedang tertawa.


Sudah satu ja berlalu, tapi tidak satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Tidak menangis apalagi meratapi. Mereka seolah mengemangati satu sama lain dalam diam. Seperti hanya cukup bersama, tanpa ucapan menenangkan yang tidak begitu berarti.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Arin masuk dengan ragu. Melihat Dika yang terus mengelus figura di tangannya, Arin pun lebih dulu mendekati Dika. Berusaha abai pada suaminya yang cukup terguncang.


Dengan pelan Arin menggenggam tangan Dika. “Mama cantik ya, Pa.”


Dika tersenyum lalu mengangguk. “Kalau dia punya salah sama kamu, maafin ya?”


“Hmm,” Arin bergumam, tampak berpikir membuat Dika mendongak. “Arin mau maafin tapi ada syaratnya.”


Dika mengerutkan kening.


“Papa harus semangat. Sedihnya ditunda dulu. Biar Mama di sana juga tenang ninggalin kita.” Arin tersenyum yang kemudian tertular pada Dika. “Papa harus makan dulu.”


“Tapi Papa nggak lapar, Arin.”


“Papa belum makan loh dari kemarin.”


“Kamu urus suamimu saja, dari kemarin dia juga belum makan. Dan juga pasti dia yang paling terpukul.”


Arin bergumam oke lalu pergi ke luar kamar. Dan tak sampai sepuluh menit Arin masuk lagi dengan nampan berisi makanan di tangannya. Ada juga dua orang kerabat yang belum pulang membawa makanan itu masuk.


Arin terkekeh pelan. “Nggak ada yang mau makan di luar sih, jadi aku bawa ke sini aja.”


Melihat usaha Arin yang ingin mereka makan, Dika, Ryan dan Zevana pun bergerak mengambil makanan dan makan. Hanya Kenzi yang masih diam bersandar di sofa dengan menutup mata. Tapi Arin tahu Kenzi tidak tidur.


Arin mendekat dan duduk miring di samping Kenzi, begitu rapat. Ia mengambil bantal lalu menutupi wajah mereka. Dengan pelan, Arin menjilat bibir merah Kenzi. Sedetik kemudian Kenzi membuka mata dan menoleh pada Arin dengan pandangan bertanya.


“Makan,” jawab Arin pelan.


Kenzi tersenyum kecil, mengecup bibir Arin singkat lalu naik ke dahi. “Setelah ini jangan banyak gerak dulu.”


Arin mengangguk pelan lalu menyingkirkan bantal itu dari wajah mereka. Dan Arin cukup terkejut ketika mendapati dirinya ditatap serentak oleh Dika, Ryan dan Zeva dengan pandangan menggoda.


Arin malu, tapi ia cukup senang karena mereka setidaknya sudah bisa diajak bercanda sedikit.


***


Aku minta maaf kalau beberapa hari ini up-nya sedikit. Sebenarnya beberapa hari ini saya kurang sehat, dan sekarang pun belum pulih benar.


Terima kasih karena sudah setia menunggu.


Love you all 😙😙


♥♥