
Tidak terasa sudah seminggu keberadaan Risda di kediaman Atharis. Selama seminggu itu Ryan dan Risda saling bergantian menjaga Arin. Tidak ada yang mengeluh meski mereka tidak pernah tertidur nyenyak tanpa gangguan. Apalagi tiga hari terakhir menjelang sembuh totalnya Arin, wanita itu mendadak manja. Risda tidak masalah dengan permintaan aneh-aneh Arin yang kadang tidak masuk akal mengingat keadaan wanita itu yang tengah berbadan dua dan tidak adanya sang suami disisinya. Risda hanya merasa sikap manja Arin pada Ryan sudah melebihi kapasitas. Beberapa kali Risda menegur Arin akan hal itu dan Arin hanya diam dan mengangguk tapi dua jam setelahnya suhu badannya kembali naik membuat Risda khawatir.
"Astaga, siapa sih lo sampe buat gue khawatir kayak gini?" Gerutu Risda pada Arin yang saat itu suhu tubuhnya meningkat dan tengah tertidur. Risda tidak habis pikir mengapa dinasehati begitu saja suhu tubuhnya langsung naik.
Dihari terakhir Arin dinyatakan sembuh total oleh dokter Evan, Risda pulang kerumahnya malam harinya dengan diantar Ryan. Arin menolak, ia tak mau jika Ryan mengantar Risda pulang. Saat ditanya alasannya Arin malah berlari kedalam rumah meninggalkan Ryan dan Risda. Ryan tak ingin ambil pusing, karena tidak mungkin ia membiarkan Risda pulang sendirian meski diantar supirnya sekalipun. Ryan ingin mengantar Risda langsung juga karena ingin meminta maaf sekaligus berterima kasih pada orang tua Risda karena telah mengizinkan anak perempuannya menginap dirumahnya untuk membantunya merawat Arin. Sepulangnya Ryan dari rumah Risda, sebuah chat masuk dari Arin membuat Ryan tertawa dan menggeleng tak percaya.
Istrinya Abang: Mintain rujaknya mas Dewo, ingat! MINTA, bukan beli. Kalo nggak jangan harap bisa masuk rumah.
Pesannya di sertai foto Arin yang memasang tampang galak sedang duduk di kursi di depan pintu pagar menghalangi jalan, lengkap dengan Mang Ujang yang tengah memayungi Arin agar wanita hamil itu tidak terkena embun malam.
Ryan berdecak, lalu memutar laju mobilnya untuk meminta apa yang diinginkan kakak iparnya. Iya, kakak ipar. Ryan sadar betul itu, dan selamanya Arin akan tetap jadi kakak iparnya.
***
Arin membuka pintu dengan senyuman lebar, menyambut kepulangan Ryan dengan suka cita. Apalagi saat melirik tangan Ryan yang tidak kosong. Sebuah kantong plastik bening yang dipegang Ryan semakin membuat senyumnya melebar.
"Makin sayaaang banget sama kak Iyan," katanya sambil menggandeng sebelah tangan Ryan. Masih dengan senyum lebarnya. Sedang Ryan hanya menggeleng pelan.
Tiga bulan berlalu terasa begitu cepat seiring dengan semakin membuncitnya perut Arin. Dan selama tiga bulan itu Ryan berusaha menjadi adik ipar yang siaga, berusaha menjaga Arin seorang diri. Pesan-pesan dan perintah Hanna untuk menjaga Arin dijalankan dengan baik oleh Ryan. Tapi tidak dengan ucapan Hanna yang menyuruhnya untuk mengambil kesempatan. Semua yang ia lakukan terhadap Arin murni hanya untuk menjaga istri dan calon anak kakaknya, tidak ada maksud lain.
"Mau langsung mandi?" tanya Arin saat melihat Ryan tidak ikut duduk bersamanya di ruang tengah. Ia pun menarik tangan Ryan agar ikut duduk. "Di sini dulu, temani aku makan. Lagian ngapain mandi buru-buru, nggak bau kok."
Kata "temani makan" yang diucapan Arin benar-benar berarti temani makan. Hanya menemani, tanpa Ryan ikut merasakan apa yang sedang dimakan Arin. Wanita yang usianya belum genap dua puluh tahun itu hanya menggunakan bahu Ryan untuk dijadikan sandaran saat makan.
Plak...
"Beli sendiri dong!" Arin menatap horor Ryan yang mencoba mengambil satu siomay miliknya. "Jangan ngambil punya orang!"
Ryan mencebik. Sudahlah disuruh-suruh kayak pembantu, minta beli makanan pakai uang dia, dijadikan tempat sandar saat makan, tidak dibagi pula makanannya. Membiarkan Ryan menelan ludahnya sendiri. Tadi Ryan sudah membeli lebih dari porsi biasa yang Arin minta karena niat hati ia juga ingin mencicipi walau hanya satu. Tapi apa daya ia tak bisa ikut menikamti karena siomaynya ia jadikan satu dengan punya Arin.
"Pempek yang kemarin masih ada loh, makan aja, aku sudah nggak mau." Tuh kan, makanan kemarin yang ia tawari pada Ryan. Padahal siomay yang ada di depannya saja tak mungkin bisa ia habiskan sendiri.
"Nggak usah," jawab Ryan pelan. Lalu tangan kanan Ryan digerakkan Arin untuk memeluk wanita itu. Ryan menoleh, ia tidak bisa melihat ekspresi Arin seperti apa karena Arin bersandar miring dibahunya dengan tangan kanan Ryan memeluk bahu Arin sembari sesekali mengelus lengannya. Saat Arin menarik tangan Ryan itu adalah pertanda bahwa wanita itu sudah merasa kenyang. Dan tak butuh waktu lama setelahnya Arin akan tertidur dengan
sendirinya.
Setelah memastikan Arin sudah tertidur pulas, baru Ryan mencoba bergerak. Berusaha mengangkat Arin pelan dan memindahkannya ketempat tidur. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan rutin setiap hari sejak tiga bulan terakhir.
"Kak Ken!"
Lagi. Arin mengigau lagi. Entah apa yang ia mimpikan tentang Kenzi yang membuatnya kadang menangis, tersenyum bahkan tertawa. Selalu berbeda setipa harinya.
Ryan tahu, dibalik setiap sikap manja dan ceria Arin, wanita itu tengah memendam kerinduan mendalam pada sang suami. Meski Arin terlihat baik-baik saja, tapi Ryan tahu, saat sendiri, wanita itu sering melamun bahkan sampai meneteskan air mata sembari mengelus perut buncitnya. Biar bagaimana pun ia seorang wanita yang menginginkan sang suami berada di sisinya terlebih ia sedang hamil anak pertama, setidaknya ia mengetahui bagaimana kabar sang suami.
"Kak Iyan?" Arin membuka matanya. "Peluk!" Tangannya menarik Ryan agar berbaring disampingnya.
Cukup lama mereka berada di posisi itu. Sebelum menyusul ke alam mimpi, Ryan buru-buru melepaskan pelukan Arin. Ia masih waras untuk tidak tidur dengan kakak iparnya di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama.
***
***bersambung
Arin kenapa kamu begitu sayang? 😭😭
makasih banget buat kalian yang udah vote dan like. nggak ada duanya memang kalian yang terbaik 😘😘😘💛💛💛***