
Sesampainya di rumah sakit, tepatnya di ruangan dokter Evan, keduanya hanya duduk bersebelahan dengan waktu yang cukup lama. Karena orang yang mereka tunggu sedang menghadiri rapat. Entah rapat apa, yang Arin yakini pasti rapat itu dihadiri oleh petinggi-petinggi rumah sakit. Ah entahlah, Arin pusing.
"Lama ya?" Gumam Ryan pelan.
"Dokter lain?" Sahut Arin yang ternyata mendengar gumaman Ryan.
Ryan menggeleng. "Mama nggak pernah mau dokter lain, Mama cuma mau sama Om-" Ucapan Ryan terhenti ketika pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok yang sedari tadi ditunggu-tunggu.
"Maaf ya, rapat tadi itu mendadak dan sebenarnya ini belum selesai. Hanya saja Om ada jadwal operasi." Kata Evan menjelaskan. "Hanna tadi sudah beritahu. Apa keluhanmu hanya mual dan muntah, Arin?"
Arin mengangguk. "Iya, dengan pusing sedikit sejak semalam. Eh, sudah beberapa hari sih. Hanya begitu saja bukan berarti ada apa-apakan? Mama saja yang-"
"Bisa jadi itu masalah serius Arin." Potong Evan. Dan perkataannya itu membuat mata Arin membola. "Kamu bisa memastikan ada apa dengan perutmu pada dokter kandungan. Maaf, Om buru-buru, permisi. Sampai jumpa, Arin." Katanya dengan diakhiri kedipan sebelah mata. Ryan tahu kode itu.
Tidak ingin membuang waktu, Arin segera menarik Ryan untuk pergi kedokter kandungan. Begitu sampai ditujuan, Arin menceritakan keluhanya dengan wajah panik tapi sedikit yakin bahwa ia tidak apa-apa.
"Kapan terakhir kamu menstruasi?" tanya sang dokter.
Dan Arin membalas dengan polos. "Menstruasi ada hubungannya dengan mual dan muntah kah, Dok?"
Dokter wanita itu tertawa pelan. "Saya tidak bisa memastikan karena gejala yang kamu alami baru hari ini. Untuk memastikan lebih jelasnya, kita perlu melakukan pemeriksaan lebih-"
"Iya, saya mau," potong Arin cepat. Ia tidak perduli dengan penjelasan dokter itu. Yang ia butuh adalah informasi bahwa ia baik-baik saja. Saat itu juga Arin disuruh bersiap, ia tidak tahu apa namanya dan apa tujuan, fungsi dan segala macamnya. Ia tidak mengerti dunia kedokteran. Dijelaskan seratus kali pun belum tentu ia ingat apalagi mengerti. Bagi Arin dunia kedokteran sepuluh kali lebih rumit dari rumus matematika. Sangat memusingkan. Dan mungkin pemikirannya itu termasuk pemikiran aneh.
"Selamat ya kamu hamil." Mata Arin membola seketika. "Prediksi saya sudah masuk tiga bulan."
"Serius? Kok bisa?" Pertanyaan yang terlontar begitu saja dengan nada terkejut dari bibir Arin membuat Ryan dan dokter Eka mengerutkan kening. "Bukan, maksudku begini, dokter bilang saya sudah hamil tiga bulan, tapi kenapa nggak ada tanda-tandanya?"
"Mungkin ada, hanya kamu saja yang tidak sadari. Bagaimana dengan suamimu, apa dia tidak pernah mengatakan sesuatu? Mungkin seperti kamu terlihat berbeda."
Arin menggeleng sambil mengingat. "Kenapa nggak dokter tanya langsung ke dia aja?" Tunjuk Arin pada Ryan.
Dokter wanita yang akrab disapa Eka itu tertawa diikuti dengan Ryan yang geleng-geleng kepala. "Saya tahu Ryan bukan suamimu. Kamu, Arin, istri Kenzi. Saya tahu."
Menit demi menit berlalu, dengan terpaksa Ryan membujuk Arin agar mau pulang. Karena di luar ruangan masih banyak yang mengantri.
Arin keluar dengan senyum cerah menghias wajah. Tangan kanannya membelit lengan Ryan dengan manja. Baru dua langkah kaki bergerak menjauhi pintu mereka berpapasan dengan Galih, laki-laki yang berusaha dihindari oleh Ryan. Berusaha menghindarkan Arin dari pandangan Galih lebih tepatnya.
Dengan spontan Ryan menarik Arin kebelakang tubuhnya. Bersikap seakan ingin melindungi wanita itu.
"Wow," Mata Galih menatap tangannya Arin yang masih melingkari lengan Ryan. Lalu tatapan matanya naik melihat papan nama yang tertera dipintu ruangan dokter Eka. "Dokter kandungan? Lucu sekali." Galih mendesis, ia berucap dengan suara yang cukup lantang. "Luar biasa. Pacaran dengan adiknya tapi menikah dengan kakaknya, lalu pergi kedokter kandungan dengan adiknya. Entah si adik hanya berbaik hati mengantar kakak ipar atau memang mengantar calon ibu dari anak-"
"Bukan urusanmu!" Arin memotong dengan keras. Diliriknya ibu-ibu yang menunggu sedang berbisik-bisik dan mulai menatap sinis padanya karena ucapan Galih. "Dasar gila!" Bentaknya lalu menarik tangan Ryan untuk pergi menjauh dari sana. Arin tidak tahu bagaimana Ryan tengah menahan emosinya akan ucapan Galih. Bisa saja Ryan menonjok Galih saat itu juga tapi itu pasti akan menimbulkan keributan.
Galih menatap kepergian dua manusia itu dengan kedua tangan terkepal. "Arin tidak pantas untuk Kenzi. Aku harus segera menyingkirkan wanita ****** itu dari hidupnya," desisnya sangat pelan. Perlu diketahui, ia tidak menyukai Arin, tepatnya membenci Arin dari dulu sampai sekarang. Bukan hanya Arin, tapi siapa saja yang merebut Kenzi darinya.
***
Ryan menepihkan mobilnya saat berada dijalan yang sepi. Ditolehkan kepalanya menghadap Arin yang sudah berkeringat dingin sejak keluar dari rumah sakit. Ryan tidak tahu mengapa Arin terlihat begitu ketakutan melihat Galih.
"Kamu kenapa?" Ryan bertanya sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Arin. Arin hanya membalas dengan gelengan beberapa kali. "Ucapan Galih tidak usah kamu pikirkan!"
Arin kembali menggeleng. "Dia... dia psikopat, kan? Dia orang jahat." Ia menoleh pada Ryan, bibirnya bergetar dengan kentara.
"Dia bukan orang jahat dan bukan psikopat. Kamu tenang saja ya." Ryan berusaha menenangkan Arin tapi tampaknya ucapannya itu tidak berpengaruh.
"Tapi dia-"
Tiba-tiba Ryan menarik Arin kedalam pelukannya. " Dia tidak akan menyakiti kamu. Dan tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Sekarang kamu tidak boleh banyak pikiran, kasian bayi kamu." Sekali lagi Ryan berusaha menenangkan Arin. Tangannya bergerak mengelus punggung wanita itu. Perlahan deru nafas Arin yang cepat terdengar teratur. Wanita itu tertidur. Mungkin terlalu lelah.
Maafkan aku, Kak, karena melanggar janji.
***