
Waktu masih terus berjalan. Setiap
hari Arin semakin banyak makan. Dan yang pasti makan yang dingin-dingin dipagi
hari sekarang adalah hobinya dan itu terjadi setiap hari. Setiap kali Kenzi
menegurnya, Arin pasti akan marah-marah tidak jelas. Tapi lima menit setelahnya
ia akan berbicara manja pada Kenzi.
Jujur ada rasa senang terselip dihati
Kenzi tapi hal itu juga membuatnya merasa ada yang aneh pada Arin. Tapi
berusaha ia enyahkan hal-hal negatif yang ada dipikirannya.
Kenzi merapikan pekerjaannya. Siang
ini Mike mengajaknya untuk makan diluar. Kenzi menurut saja saat Mike
mengatakan akan makan di cafe yang cukup jauh dari kantor. Toh ia tak perlu
buang-buang bensin dan tenaga untuk menyetir.
Begitu sampai, Mike langsung memilih
duduk dimeja yang tak jauh dari meja kasir. Melihat gelagat Mike yang sesekali
melirik ke arah kasir, Kenzi langsung tahu alasan dibalik pemilihan cafe itu.
Bukan karena makanannya yang lezat melainkan karena sang kasir sudah menarik
perhatian Mike.
"Siapa namanya?" Tanya Kenzi
tepat saat pramusaji yang mengantarkan makanan mereka berbalik untuk pergi.
Mike mendongakkan kepalanya.
"Maksudnya?" Tanya tak mengerti, atau mungkin pura-pura tidak
mengerti.
Kenzi menelaàw makanannya, "Cewek
yang sedang kamu incar."
Mike seketika tersedak, ia minum
sambil sesekali terbatuk. "Karenina. Tapi kayaknya doi udah ada yang
punya." Katanya lesu.
Kenzi tertawa. "Katanya
playboy,"
Mike mendelik. "Biar kata gue
playboy, tapi gue punya prinsip ya untuk ngga jadi orang ketiga dalam hubungan
orang." Katanya dengan aksen kesal yang kentara.
Bosan hanya melihat tampang Mike yang
sudah secara terang-terangan menatap wanita bernama Karen, Kenzi mengedarkan
pandangannya kesembarang arah. Lalu matanya berhenti ketika menangkap dua sosok
yang begitu dikenalnya. Arin dan Ryan. Wajah keduanya tampak begitu berseri
membuat otak Kenzi berkerja cepat memikirkan sesuatu yang negatif. Dengan sisa
Kenzi lalu mengambil ponselnya dan
mencoba menghubungi Arin. Berbasa-basi menanyakan keberadaan wanita itu. Kenzi
ingin tahu apakah Arin jujur atau malah berbohong yang entah dengan alasan apa.
Kenzi bisa melihat keterkejutan
diwajah Arin saat deringan pertama, lalu deringan selanjutnya sudah operator
yang menjawab. Tak lama masuk pesan singkat dari Arin.
Msh kliah
Kenzi membaca pesan Arin. Ciri khas
Arin dalam menulis pesan atau chat adalah teksnya tidak pernah disingkat. Arin
hanya menyingkatnya jika ia dalam keadaan sibuk atau tidak bisa diganggu. Dan
jika tidak melihat Arin sekarang, sudah pasti ia akan percaya bahwa wanita itu
memang sedang kuliah. Tapi lihatlah sekarang, wanita muda itu sedang duduk
manis dan bercanda ria dengan adik iparnya.
Jujur, hati Kenzi mulai panas. Ingin
rasanya ia menghampiri mereka tapi melihat raut wajah Arin yang terlihat lebih
bahagia dari biasanya, membuat Kenzi tak kuasa melihat lebih lama. Akhirnya ia
hanya diam dan menundukkan kepala. Berusaha keras menahan emosinya agar tidak
meledak dan berakhir dengan menjadikan dirinya sebagai tontonan.
"Kita balik." Kata Kenzi
datar tanpa menanggapi Mike yang memasang tampang bingung.
Apa memang ini alasan dibalik perubahan
Arin? Sikap manis dan takut ditinggalkan hanyalah kedok untuk menutupi
kesalahannya. Rasanya Kenzi tidak ingin percaya, tapi apa yang dilihatnya
bukanlah mimpi.
Dalam perjalanan kembali ke kantor
Kenzi hanya diam begitu pun Mike yang sempat melihat adanya keberadaan Arin dan
Ryan di cafe tempat makan mereka tadi.
Pikiran Kenzi dipenuhi dengan apa yang
harus ia lakukan, dan bagaimana ia harus bersikap. Apakah ia harus meluapkan
emosinya langsung atau diam saja dan menunggu sampai mana kegilaan yang Arin
lakukan. Kenzi tertawa, salahkah jika menyebut tingkah Arin dengan kegilaan? Oh
bukan hanya Arin tapi juga dengan Ryan. Harusnya ia curiga sejak awal kalau
mereka mungkin memiliki rasa yang nyata.
***
makasih yang udah ngasih vote. terharu akutuh 😭😭
makasih yaa 😘😘