(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
15



Kenzi hanya melirik sekilas Arin yang


baru masuk kedalam kamar. Ia kembali memfokuskan diri pada bacaannya. Beberapa


saat kemudian ia kembali mendongak saat merasakan kasur bergoyang yang disertai


helaan nafas panjang Arin. Arin baru saja membanting tubuhnya ke atas kasur.


"Kenapa?" Kenzi menutup


bukunya dan fokus pada Arin yang wajahnya kembali ditekuk meski matanya


terutup. "Dapat omongan pedis Mama lagi?" Ia merapikan anak rambut


yang berserakan diwajah Arin.


"Nggak,"


"Terus?"


Arin membuka matanya, ia menatap Kenzi


yang juga tengah menatapnya. Semalam Kenzi sudah meminta maaf atas kata-kata


yang diucapkan Hanna dan meminta Arin agar tidak memikirkannya. Meski Arin


mengiyakan tapi ada satu yang masih ia pikirkan. Perihal mengapa Kenzi


menikahinya.


Untuk beberapa saat mereka hanya


saling tatap. Lalu perlahan Kenzi menurunkan kepalanya. Ia mengecup dahi Arin,


turun ke hidung lalu turun ke bibir. Hanya kecupan singkat tidak lebih. Tapi


sukses membuat pipi Arin merona.


"Kenapa kak Ken persis


bunglon?" Tanya Arin menghancurkan suasana hening diantara mereka.


"Bunglon?" Kenzi mengeryit.


"Maksudnya?"


"Iya, sikap kak Ken suka


berubah-ubah. Kadang baik, perhatian, lembut, tapi juga tiba-tiba bisa jadi


dingin, galak, pendiam. Dan mungkin masih banyak lagi." Jelas Arin sambil


menerawang sikap Kenzi yang pernah dilihatnya.


Sudat bibir Kenzi berkedut.


"Hahaha.. masa?" Godanya. "Terus Arin suka sikap yang


mana?"


"Yang baik lah."


"Kalau begini?" Kenzi


kembali menurunkan wajahnya. Kali ini ia langsung mencium bibir Arin. Ciuman


yang awalnya lembut berubah menjadi menjadi lebih menuntut.


***


Zevana keluar dari kamarnya dengan semangat. Ia mengintip ke lantai bawah.


Berpikir dimana kira-kira Arin berada. Lalu langkahnya menuju kamar Kenzi yang


masih dilantai atas.


Masih dengan semangat Zevana mengetuk


pintu kamar Kenzi. Ketukan pertama tak ada sambutan, ia mengetuk lagi tapi


masih tidak ada sambutan. Ia mulai berpikir kalau didalam sana tak siapa pun.


Tepat saat ia berbalik, pintu kamar


terbuka. Zevana berbalik lagi dan melihat Kenzi yang membuka pintu hanya dengan


menggunakan celana boxer.


"Kenapa?" Tanya Kenzi dengan


nada kesal yang kentara.


"Arin mana, Kak?" Tanya


Zevana balik tidak menghiraukan Kenzi yang terlihat kesal.


"Lagi tidur,"


"Bangunin dong!" Pinta Zevana.


Kenzi melihat kebelakang lewat


bahunya. "Ngga, dia capek." Katanya sambil mendorong pintu agar


menutup.


"Eeh.." Tahan Zevana


menggunakan tangan dan kakinya. "Capek kenapa coba? Ngga usah bohong deh


Kak, tadi masih baik-baik aja tuh." Lanjutnya sambil berusaha membuat


pintu terbuka lebih lebar.


Kenzi melotot tapi adiknya itu tidak


perduli dan terus berusaha agar pintu terbuka lebar. Terjadinya aksi saling


dorong pintu dengan arah berlawanan. Dalam hati Kenzi berdecak kesal karena


tenaga Zevana terasa lebih besar karena dapat mengimbangi tenaganya.


"Buka dong, kak!" Pinta


Zevana memelas.


"Ngga." Dan Kenzi masih


teguh dengan pendiriannya.


Zevana. Ia melepaskan sebelah tangannya yang bersender dikusen pintu dan dengan


cepat mengarahkan telunjuknya keperut Kenzi. Seketika Kenzi mundur dan otomatis


kekuatannya tangannya menahan pintu menurun sehingga Zevana berhasil membuka


pintu lebih lebar.


Matanya membola begitu pintu terbuka.


Disana, diatas ranjang, Arin terbaring setengah menelungkup dengan punggung


telanjang. "Hadeehh.. masih pagi kali kak." Celetuknya.


Kenzi ikut melihat Arin. Tepat saat


komentar Zevana berakhir, Arin bergerak pelan dalam tidurnya. Tapi gerakan


singkat itu mampu membuat selimut yang dikenakannya menurun. Dan Zevana semakin


berdecak melihat pemandangan didepannya itu.


"Liatin apa sih?"


Suara tiba-tiba dari belakang Zevana


mengejutkan Kenzi. Dengan cepat ia melangkah maju keluar kamar dan menutup


pintu tanpa menoleh. Ia dan Zevana sama-sama melotot pada Devan yang sekang


sudah berdiri tepat dibelakang Zevana.


"Liat ap- akh." Devan


mengelus perutnya yang disikut oleh istrinya.


Zevana mengabaikan Devan yang sesekali


meringis pelan. "Bangunin dong kak!" Pintanya sekali lagi.


"Buat apa sih?"


Zevana terseyum dan mengelus perutnya


yang rata. "Pengen makan puding yang kayak waktu itu Arin kasih."


Katanya dengan mata berbinar dan terdengar manja.


Kenzi mendengus. "Nanti sore 'kan


bisa."


Zevana beralih menatap Devan dan


melingkarkan tangannya dilengan Devan. "Mass.." rengeknya manja


dengan mata berkaca-kaca.


Dalam hati Kenzi merutuki hormon ibu


hamil yang kadang membuat Zevana bertingkah menjijikan. Sekarang ia masih bisa


bersyukur karena tingkah menjijikan Zevana masih berada dilevel rendah.


Tunggulah saat kehamilannya memasuki bulan ketujuh, Zevana pasti berubah


menjadi wanita yang selalu ingin dimanja, selalu ingin menang sendiri, dan


pastinya tingkah sangat sangat menjijikan bagi Kenzi.


Tiba-tiba pintu dibelakang Kenzi


terbuka menampakkan Arin dengan pakaian yang berbeda dengan pagi tadi.


Rambutnya basah tanda ia telah mandi. Tapi meski begitu matanya masih terlihat


merah dan mengantuk.


"Arin!" Pekik Zevana girang.


"Aku mau puding yang waktu itu kamu kasih." Katanya tak tahu malu.


Arin menatap Kenzi dan Devan


bergantian. Ia tidak mengerti maksud dari kalimat Zevana.


"Waktu dia kerumah tempo hari,


kamu kasih dia puding 'kan. Dia ngidam mau makan puding itu lagi." Jelas


Kenzi.


"Oh-" Arin menguap


tiba-tiba. "Hh ayo aku buatin." Katanya sambil meraih tangan Zevana


dan melangkah maju tapi langkahnya terhenti karena Kenzi memegang tangannya


yang lain.


"Kalau masih mengantuk, istirahat


saja lagi. Tidak usah hiraukan permintaan Zevana. Sebentar sore kan bisa."


Kata Kenzi lembut yang dibalas senyum dan gelengan oleh Arin.


"Aihh.. Kak Ken, perhatian


banget." Pekik Zevana tiba-tiba dengan suara girang.


Kenzi memutar bola matanya malas. Aksi


menjijikan Zevana lagi-lagi datang. "Kalau begitu biarkan Arin istrirahat


dulu ya?" Pintanya dengan suara lembut, berharap adiknya akan


mendengarkannya.


Zevana langsung membuang muka.


"Ngga," katanya lalu menggandeng Arin menjauh.


Devan terkekeh melihat tingkah


istrinya dan ia mendapat pelototan tajam oleh Kenzi sebelum pria itu masuk


kedalam kamarnya dengan membanting pintu.