
Kenzi hanya melirik sekilas Arin yang
baru masuk kedalam kamar. Ia kembali memfokuskan diri pada bacaannya. Beberapa
saat kemudian ia kembali mendongak saat merasakan kasur bergoyang yang disertai
helaan nafas panjang Arin. Arin baru saja membanting tubuhnya ke atas kasur.
"Kenapa?" Kenzi menutup
bukunya dan fokus pada Arin yang wajahnya kembali ditekuk meski matanya
terutup. "Dapat omongan pedis Mama lagi?" Ia merapikan anak rambut
yang berserakan diwajah Arin.
"Nggak,"
"Terus?"
Arin membuka matanya, ia menatap Kenzi
yang juga tengah menatapnya. Semalam Kenzi sudah meminta maaf atas kata-kata
yang diucapkan Hanna dan meminta Arin agar tidak memikirkannya. Meski Arin
mengiyakan tapi ada satu yang masih ia pikirkan. Perihal mengapa Kenzi
menikahinya.
Untuk beberapa saat mereka hanya
saling tatap. Lalu perlahan Kenzi menurunkan kepalanya. Ia mengecup dahi Arin,
turun ke hidung lalu turun ke bibir. Hanya kecupan singkat tidak lebih. Tapi
sukses membuat pipi Arin merona.
"Kenapa kak Ken persis
bunglon?" Tanya Arin menghancurkan suasana hening diantara mereka.
"Bunglon?" Kenzi mengeryit.
"Maksudnya?"
"Iya, sikap kak Ken suka
berubah-ubah. Kadang baik, perhatian, lembut, tapi juga tiba-tiba bisa jadi
dingin, galak, pendiam. Dan mungkin masih banyak lagi." Jelas Arin sambil
menerawang sikap Kenzi yang pernah dilihatnya.
Sudat bibir Kenzi berkedut.
"Hahaha.. masa?" Godanya. "Terus Arin suka sikap yang
mana?"
"Yang baik lah."
"Kalau begini?" Kenzi
kembali menurunkan wajahnya. Kali ini ia langsung mencium bibir Arin. Ciuman
yang awalnya lembut berubah menjadi menjadi lebih menuntut.
***
Zevana keluar dari kamarnya dengan semangat. Ia mengintip ke lantai bawah.
Berpikir dimana kira-kira Arin berada. Lalu langkahnya menuju kamar Kenzi yang
masih dilantai atas.
Masih dengan semangat Zevana mengetuk
pintu kamar Kenzi. Ketukan pertama tak ada sambutan, ia mengetuk lagi tapi
masih tidak ada sambutan. Ia mulai berpikir kalau didalam sana tak siapa pun.
Tepat saat ia berbalik, pintu kamar
terbuka. Zevana berbalik lagi dan melihat Kenzi yang membuka pintu hanya dengan
menggunakan celana boxer.
"Kenapa?" Tanya Kenzi dengan
nada kesal yang kentara.
"Arin mana, Kak?" Tanya
Zevana balik tidak menghiraukan Kenzi yang terlihat kesal.
"Lagi tidur,"
"Bangunin dong!" Pinta Zevana.
Kenzi melihat kebelakang lewat
bahunya. "Ngga, dia capek." Katanya sambil mendorong pintu agar
menutup.
"Eeh.." Tahan Zevana
menggunakan tangan dan kakinya. "Capek kenapa coba? Ngga usah bohong deh
Kak, tadi masih baik-baik aja tuh." Lanjutnya sambil berusaha membuat
pintu terbuka lebih lebar.
Kenzi melotot tapi adiknya itu tidak
perduli dan terus berusaha agar pintu terbuka lebar. Terjadinya aksi saling
dorong pintu dengan arah berlawanan. Dalam hati Kenzi berdecak kesal karena
tenaga Zevana terasa lebih besar karena dapat mengimbangi tenaganya.
"Buka dong, kak!" Pinta
Zevana memelas.
"Ngga." Dan Kenzi masih
teguh dengan pendiriannya.
Zevana. Ia melepaskan sebelah tangannya yang bersender dikusen pintu dan dengan
cepat mengarahkan telunjuknya keperut Kenzi. Seketika Kenzi mundur dan otomatis
kekuatannya tangannya menahan pintu menurun sehingga Zevana berhasil membuka
pintu lebih lebar.
Matanya membola begitu pintu terbuka.
Disana, diatas ranjang, Arin terbaring setengah menelungkup dengan punggung
telanjang. "Hadeehh.. masih pagi kali kak." Celetuknya.
Kenzi ikut melihat Arin. Tepat saat
komentar Zevana berakhir, Arin bergerak pelan dalam tidurnya. Tapi gerakan
singkat itu mampu membuat selimut yang dikenakannya menurun. Dan Zevana semakin
berdecak melihat pemandangan didepannya itu.
"Liatin apa sih?"
Suara tiba-tiba dari belakang Zevana
mengejutkan Kenzi. Dengan cepat ia melangkah maju keluar kamar dan menutup
pintu tanpa menoleh. Ia dan Zevana sama-sama melotot pada Devan yang sekang
sudah berdiri tepat dibelakang Zevana.
"Liat ap- akh." Devan
mengelus perutnya yang disikut oleh istrinya.
Zevana mengabaikan Devan yang sesekali
meringis pelan. "Bangunin dong kak!" Pintanya sekali lagi.
"Buat apa sih?"
Zevana terseyum dan mengelus perutnya
yang rata. "Pengen makan puding yang kayak waktu itu Arin kasih."
Katanya dengan mata berbinar dan terdengar manja.
Kenzi mendengus. "Nanti sore 'kan
bisa."
Zevana beralih menatap Devan dan
melingkarkan tangannya dilengan Devan. "Mass.." rengeknya manja
dengan mata berkaca-kaca.
Dalam hati Kenzi merutuki hormon ibu
hamil yang kadang membuat Zevana bertingkah menjijikan. Sekarang ia masih bisa
bersyukur karena tingkah menjijikan Zevana masih berada dilevel rendah.
Tunggulah saat kehamilannya memasuki bulan ketujuh, Zevana pasti berubah
menjadi wanita yang selalu ingin dimanja, selalu ingin menang sendiri, dan
pastinya tingkah sangat sangat menjijikan bagi Kenzi.
Tiba-tiba pintu dibelakang Kenzi
terbuka menampakkan Arin dengan pakaian yang berbeda dengan pagi tadi.
Rambutnya basah tanda ia telah mandi. Tapi meski begitu matanya masih terlihat
merah dan mengantuk.
"Arin!" Pekik Zevana girang.
"Aku mau puding yang waktu itu kamu kasih." Katanya tak tahu malu.
Arin menatap Kenzi dan Devan
bergantian. Ia tidak mengerti maksud dari kalimat Zevana.
"Waktu dia kerumah tempo hari,
kamu kasih dia puding 'kan. Dia ngidam mau makan puding itu lagi." Jelas
Kenzi.
"Oh-" Arin menguap
tiba-tiba. "Hh ayo aku buatin." Katanya sambil meraih tangan Zevana
dan melangkah maju tapi langkahnya terhenti karena Kenzi memegang tangannya
yang lain.
"Kalau masih mengantuk, istirahat
saja lagi. Tidak usah hiraukan permintaan Zevana. Sebentar sore kan bisa."
Kata Kenzi lembut yang dibalas senyum dan gelengan oleh Arin.
"Aihh.. Kak Ken, perhatian
banget." Pekik Zevana tiba-tiba dengan suara girang.
Kenzi memutar bola matanya malas. Aksi
menjijikan Zevana lagi-lagi datang. "Kalau begitu biarkan Arin istrirahat
dulu ya?" Pintanya dengan suara lembut, berharap adiknya akan
mendengarkannya.
Zevana langsung membuang muka.
"Ngga," katanya lalu menggandeng Arin menjauh.
Devan terkekeh melihat tingkah
istrinya dan ia mendapat pelototan tajam oleh Kenzi sebelum pria itu masuk
kedalam kamarnya dengan membanting pintu.