
"Kak Ken, bangun!"
Arin mengoyang-goyang tangan Kenzi
tapi hanya dibalas dengan gumaman saja. Arin mencoba lebih keras menggoyangkan
tubuh Kenzi sambil memanggil-manggil nama pria itu sedikit keras. Tapi tetap
saja tidak ada perubahan.
Lelah membangunkan dengan cara halus
tapi tak ada reaksi, otak Arin bekerja cepat tentang apa yang harus ia lakukan.
Ia tersenyum lembut, meraba wajah Kenzi dengan sayang. Sentuhan jamarinya
diwajah Kenzi dibuat selembut mungkin. Lalu dengan cepat ia layangkan tangannya
ke udara dan ia daratkan dipipi Kenzi dengan keras.
"Aw.." Kenzi membuka mata
dan menatap Arin tak percaya. Ia memegang pipinya yang terasa panas. "Kamu
kenapa jadi jahat?" Desisnya.
"Bangun, mandi lalu sarapan,
sudah siang." Kata Arin sambil berlalu meninggalkan Kenzi yang masih
meraba pipinya.
"Tahu begini tadi langsung bangun
saja." Gerutu Kenzi menyesal. Ia memang sudah terbangun sejak sang istri
kembali masuk kedalam kamar. Tapi karena ia suka mendengar suara Arin saat
membangunkannya yang menurutnya terdengar kesal-kesal manja, jadi ia
berpura-pura masih tidur dan belum mau bangun.
Tindakan Arin yang menamparnya tadi
bisa pernah ia duga. Pasalnya selama ini jika Kenzi belum mau bangun, Arin
hanya akan menggoyang tubuh Kenzi dengan keras. Jadi cara Arin membangunkannya
tadi adalah pertama kali. Menipu, pikir Kenzi. Awalnya Arin terlihat seperti
sedang menggodanya tapi setelahnya ia mendapatkan tamparan keras. Sebuah tamparan
pertama dalam perjalan hidupnya.
Begitu keluar dari kamar mandi, tempat
tidur yang biasanya sudah rapi dan diujung tempat tidur akan ada pakaian untuk
Kenzi pakai, sekarang tempat tidur itu masih berantakan dan tidak ada pakaian
untuknya.
Arin tidak menyiapkan pakaian
untuknya? Ah, mungkin Arin hanya sedang kesal dan lupa akan hal itu. Pikir
Kenzi positif.
Sebulan terakhir Arin memang selalu
menyiapkan pakaian untuknya dan tidak pernah alpa, bahkan dihari minggu. Tapi
sepertinya hari ini pengecualian, Arin hanya lupa pasti.
Kenzi turun dengan pakaian kerjanya.
Terlihat Arin tengah duduk santai dimeja makan sedang menikmati sarapannya.
"Hanya roti?" Tanya Kenzi
sedikit terkejut melihat sarapannya. Hanya beberapa lembar roti selai. Sungguh
ini tidak pernah terjadi. Selama ini Arin tidak pernah menyajikannya roti
sebagai sarapan. Tapi sepertinya hari ini kembali pengecualian.
Arin menganguk sekali. "Lagi
malas," katanya sambil melanjukan makannya.
Kenzi mengernyitkan kening melihat apa
yang sedang disantap Arin. "Kamu makan apa?" Arin hanya mendongak
menatapnya sekilas lalu kembali makan. "Kamu makan es campur
pagi-pagi?"
"Kalau kamu mau, masih ada
dikulkas tinggal campur saja." Ucapnya santai seakan makan es campur
pagi-pagi itu adalah hal biasa.
Kenzi melahap roti selainya dan
mengabaikan Arin yang masih semangat menikmati es campur. Kenzi merasa itu
tidak masalah asal jangan sering-sering saja. Tapi porsinya itu membuat Kenzi
geleng kepala. Sudah satu mangkuk sup Arin habiskan dan sekarang sekarang sedang
menikmati semangkuk lagi.
Astaga, Arin bisa sakit perut.
"Kak Ken, mau ke mana?"
Tanya Arin memecah keheningan diantara mereka.
"Ya kerjalah." Jawabnya
masih dengan menatap Arin aneh.
"Hari minggu, kan. Kok
kerja?"
Seketika Kenzi tersedak roti yang ia
makan. Buru-buru ia meminum secangkir kopi yang Arin sajikan. Tapi langsung ia
semburkan.
"Makanya hati-hati." Kata
Arin datar, tidak menyadari tatapan aneh dari Kenzi.
"Kopinya bukan panas tapi
asin." Balas Kenzi menjelaskan. Yang membuatnya menyemburkan kopinya
manis melainkan asin sekali.
"Siapa yang suruh minum kopi
asin?" Masih dengan nada datar Arin berucap. Ia bangkit lalu meninggalkan
meja makan.
Mata Kenzi melebar mendengar ucapan
Arin. "Ini tidak dibereskan dulu?" Tanyanya sedikit keras.
"Nanti, masih malas."
Ucapan santai Arin malah membuat Kenzi
ternganga. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Tidak sadar bahwa masih ada
piring bekas rotinya tadi membuatnya meringis kecil.
Arin kenapa?
Tingkah Arin memang sedikit tidak
biasa. Mungkin memang sedang malas. Lagi-lagi Kenzi berpikir positif.
Karena Arin sedang malas, Kenzi
berinisiatif untuk membersihkan rumah. Kalau biasanya mereka akan berkerja sama
membersihkan rumah, sepertinya hari ini Kenzi membersihkan seorang diri
sementara Arin tengah duduk santai didepan televisi dan memangku toples kacang
telur. Kenzi membiarkan, biar saja istrinya itu sedikit bersantai saat
menikmati hari libur.
Usai membersihkan rumahnya yang cukup
besar dan seorang diri, Kenzi kembali membersihkan dirinya yang terasa lengket.
Saat keruang tengah, Arin sedang berbaring miring disofa dengan tangan kiri
digunakan sebagai penyangga kepala. Dan yang tidak berubah adalah mulutnya yang
tidak berhenti mengunyah sejak pagi. Kali ini dimeja sudah berserakan berbagai
macam bungkus snack. Sekarang saja mulutnya sedang mengunyah donat. Sekotak
donat yang Kenzi yakini berisi dua belas kini hanya tersisa dua buah saja.
Kenzi mengusap rambutnya keatas sambil
menghela nafas pelan. "Tidak takut gemuk makan terus dari tadi?"
Arin menatap Kenzi sengit.
"Memang kenapa kalau aku gemuk? Ngga suka? Mau tinggalkan aku? Mau cari
yang lain? Cari saja sana!" Arin bangkit meninggalkan Kenzi yang
tercengang.
"Dia kenapa sih? Sensitif
sekali."
Tak lama terdengar suara Arin yang
berteriak kencang. Cepat Kenzi berlari kearah taman belakang karena sempat ia
lihat tadi Arin berjalan kesana. Dan benar sana Arin berada disana, tepatnya
diruang olahraga milik Kenzi. Wanita itu menunduk dan menutup wajahnya dengan
kedua tangan. Bahunya bergetar dan terdengar isak tangis.
"Ada apa?" Suara Kenzi
terdengar khawatir.
Arin mengangkat kepalanya dan langsung
memeluk Kenzi. Kenzi sedikit terkejut apalagi suara tangis Arin semakin menjadi
dipelukannya.
"Hei, ada apa?" Kenzi
berusaha mengurai pekukan mereka tapi Arin semakin mengeratkan pelukannya.
"Ada apa, hem?" Kali ini
Kenzi tak berusaha mengurai. Ia mengelus sayang kepala Arin. "Ada apa,
Arin?" Tanyanya sekali lagi.
"Berat badanku... na..ik."
Kata Arin terhisak.
Ingin rasanya Kenzi tertawa tapi
berusaha keras ditahannya. Kalau ia tertawa mungkin tangis Arin semakin
menjadi. "Memangnya kenapa kalau naik?"
"Nanti jadi gendut, ngga
mauu." Kali suara Arin terdengar merengek.
"Eh, kenapa ngga mau?"
"Nanti kamu tinggalin aku. Huwaa
ngga mauu.." katanya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan semakin
mengeratkan pelukannya.
Kenzi tertawa pelan. "Tadi
katanya tidak apa-apa kalau aku cari yang lain?" Godanya.
Arin mendongakan kepalanya.
"Tidak boleh!" Katanya galak.
Kenzi tertawa lagi. "Iya, tidak
akan. Tenang saja ya? Kamu mau gemuk atau kurus tetap saja cantik."
"Benarkah?" Tanya Arin
semangat. Kenzi hanya tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu itu aku mau
makan lagi."
"Eh?"