(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
21



"Kak Ken, bangun!"


Arin mengoyang-goyang tangan Kenzi


tapi hanya dibalas dengan gumaman saja. Arin mencoba lebih keras menggoyangkan


tubuh Kenzi sambil memanggil-manggil nama pria itu sedikit keras. Tapi tetap


saja tidak ada perubahan.


Lelah membangunkan dengan cara halus


tapi tak ada reaksi, otak Arin bekerja cepat tentang apa yang harus ia lakukan.


Ia tersenyum lembut, meraba wajah Kenzi dengan sayang. Sentuhan jamarinya


diwajah Kenzi dibuat selembut mungkin. Lalu dengan cepat ia layangkan tangannya


ke udara dan ia daratkan dipipi Kenzi dengan keras.


"Aw.." Kenzi membuka mata


dan menatap Arin tak percaya. Ia memegang pipinya yang terasa panas. "Kamu


kenapa jadi jahat?" Desisnya.


"Bangun, mandi lalu sarapan,


sudah siang." Kata Arin sambil berlalu meninggalkan Kenzi yang masih


meraba pipinya.


"Tahu begini tadi langsung bangun


saja." Gerutu Kenzi menyesal. Ia memang sudah terbangun sejak sang istri


kembali masuk kedalam kamar. Tapi karena ia suka mendengar suara Arin saat


membangunkannya yang menurutnya terdengar kesal-kesal manja, jadi ia


berpura-pura masih tidur dan belum mau bangun.


Tindakan Arin yang menamparnya tadi


bisa pernah ia duga. Pasalnya selama ini jika Kenzi belum mau bangun, Arin


hanya akan menggoyang tubuh Kenzi dengan keras. Jadi cara Arin membangunkannya


tadi adalah pertama kali. Menipu, pikir Kenzi. Awalnya Arin terlihat seperti


sedang menggodanya tapi setelahnya ia mendapatkan tamparan keras. Sebuah tamparan


pertama dalam perjalan hidupnya.


Begitu keluar dari kamar mandi, tempat


tidur yang biasanya sudah rapi dan diujung tempat tidur akan ada pakaian untuk


Kenzi pakai, sekarang tempat tidur itu masih berantakan dan tidak ada pakaian


untuknya.


Arin tidak menyiapkan pakaian


untuknya? Ah, mungkin Arin hanya sedang kesal dan lupa akan hal itu. Pikir


Kenzi positif.


Sebulan terakhir Arin memang selalu


menyiapkan pakaian untuknya dan tidak pernah alpa, bahkan dihari minggu. Tapi


sepertinya hari ini pengecualian, Arin hanya lupa pasti.


Kenzi turun dengan pakaian kerjanya.


Terlihat Arin tengah duduk santai dimeja makan sedang menikmati sarapannya.


"Hanya roti?" Tanya Kenzi


sedikit terkejut melihat sarapannya. Hanya beberapa lembar roti selai. Sungguh


ini tidak pernah terjadi. Selama ini Arin tidak pernah menyajikannya roti


sebagai sarapan. Tapi sepertinya hari ini kembali pengecualian.


Arin menganguk sekali. "Lagi


malas," katanya sambil melanjukan makannya.


Kenzi mengernyitkan kening melihat apa


yang sedang disantap Arin. "Kamu makan apa?" Arin hanya mendongak


menatapnya sekilas lalu kembali makan. "Kamu makan es campur


pagi-pagi?"


"Kalau kamu mau, masih ada


dikulkas tinggal campur saja." Ucapnya santai seakan makan es campur


pagi-pagi itu adalah hal biasa.


Kenzi melahap roti selainya dan


mengabaikan Arin yang masih semangat menikmati es campur. Kenzi merasa itu


tidak masalah asal jangan sering-sering saja. Tapi porsinya itu membuat Kenzi


geleng kepala. Sudah satu mangkuk sup Arin habiskan dan sekarang sekarang sedang


menikmati semangkuk lagi.


Astaga, Arin bisa sakit perut.


"Kak Ken, mau ke mana?"


Tanya Arin memecah keheningan diantara mereka.


"Ya kerjalah." Jawabnya


masih dengan menatap Arin aneh.


"Hari minggu, kan. Kok


kerja?"


Seketika Kenzi tersedak roti yang ia


makan. Buru-buru ia meminum secangkir kopi yang Arin sajikan. Tapi langsung ia


semburkan.


"Makanya hati-hati." Kata


Arin datar, tidak menyadari tatapan aneh dari Kenzi.


"Kopinya bukan panas tapi


asin." Balas Kenzi menjelaskan. Yang membuatnya menyemburkan kopinya


manis melainkan asin sekali.


"Siapa yang suruh minum kopi


asin?" Masih dengan nada datar Arin berucap. Ia bangkit lalu meninggalkan


meja makan.


Mata Kenzi melebar mendengar ucapan


Arin. "Ini tidak dibereskan dulu?" Tanyanya sedikit keras.


"Nanti, masih malas."


Ucapan santai Arin malah membuat Kenzi


ternganga. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Tidak sadar bahwa masih ada


piring bekas rotinya tadi membuatnya meringis kecil.


Arin kenapa?


Tingkah Arin memang sedikit tidak


biasa. Mungkin memang sedang malas. Lagi-lagi Kenzi berpikir positif.


Karena Arin sedang malas, Kenzi


berinisiatif untuk membersihkan rumah. Kalau biasanya mereka akan berkerja sama


membersihkan rumah, sepertinya hari ini Kenzi membersihkan seorang diri


sementara Arin tengah duduk santai didepan televisi dan memangku toples kacang


telur. Kenzi membiarkan, biar saja istrinya itu sedikit bersantai saat


menikmati hari libur.


Usai membersihkan rumahnya yang cukup


besar dan seorang diri, Kenzi kembali membersihkan dirinya yang terasa lengket.


Saat keruang tengah, Arin sedang berbaring miring disofa dengan tangan kiri


digunakan sebagai penyangga kepala. Dan yang tidak berubah adalah mulutnya yang


tidak berhenti mengunyah sejak pagi. Kali ini dimeja sudah berserakan berbagai


macam bungkus snack. Sekarang saja mulutnya sedang mengunyah donat. Sekotak


donat yang Kenzi yakini berisi dua belas kini hanya tersisa dua buah saja.


Kenzi mengusap rambutnya keatas sambil


menghela nafas pelan. "Tidak takut gemuk makan terus dari tadi?"


Arin menatap Kenzi sengit.


"Memang kenapa kalau aku gemuk? Ngga suka? Mau tinggalkan aku? Mau cari


yang lain? Cari saja sana!" Arin bangkit meninggalkan Kenzi yang


tercengang.


"Dia kenapa sih? Sensitif


sekali."


Tak lama terdengar suara Arin yang


berteriak kencang. Cepat Kenzi berlari kearah taman belakang karena sempat ia


lihat tadi Arin berjalan kesana. Dan benar sana Arin berada disana, tepatnya


diruang olahraga milik Kenzi. Wanita itu menunduk dan menutup wajahnya dengan


kedua tangan. Bahunya bergetar dan terdengar isak tangis.


"Ada apa?" Suara Kenzi


terdengar khawatir.


Arin mengangkat kepalanya dan langsung


memeluk Kenzi. Kenzi sedikit terkejut apalagi suara tangis Arin semakin menjadi


dipelukannya.


"Hei, ada apa?" Kenzi


berusaha mengurai pekukan mereka tapi Arin semakin mengeratkan pelukannya.


"Ada apa, hem?" Kali ini


Kenzi tak berusaha mengurai. Ia mengelus sayang kepala Arin. "Ada apa,


Arin?" Tanyanya sekali lagi.


"Berat badanku... na..ik."


Kata Arin terhisak.


Ingin rasanya Kenzi tertawa tapi


berusaha keras ditahannya. Kalau ia tertawa mungkin tangis Arin semakin


menjadi. "Memangnya kenapa kalau naik?"


"Nanti jadi gendut, ngga


mauu." Kali suara Arin terdengar merengek.


"Eh, kenapa ngga mau?"


"Nanti kamu tinggalin aku. Huwaa


ngga mauu.." katanya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan semakin


mengeratkan pelukannya.


Kenzi tertawa pelan. "Tadi


katanya tidak apa-apa kalau aku cari yang lain?" Godanya.


Arin mendongakan kepalanya.


"Tidak boleh!" Katanya galak.


Kenzi tertawa lagi. "Iya, tidak


akan. Tenang saja ya? Kamu mau gemuk atau kurus tetap saja cantik."


"Benarkah?" Tanya Arin


semangat. Kenzi hanya tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu itu aku mau


makan lagi."


"Eh?"