(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
50



"Loh, adik ipar mau pulang?" tanya Arin dengan suara cukup keras saat melihat Ryan yang berjalan menuju pintu depan rumah. Ryan berhenti dan menoleh. "Nggak mau sarapan bareng?" tawar Arin.


Ryan tertawa, "gue tahu lo masih kangen berat sama kakak gue. Jadi nggak usah sok-sokan nawarin gue sarapan bareng, kalau dalam hati lo sebenarnya nyuruh gue cepat pulang."


Arin terkekeh dengan wajah memerah malu. Apalagi Kenzi datang merangkulnya dan mencium bibirnya tepat di depan Ryan. "Sudah, sana pulang! Ganggu saja," usir Kenzi yang dibalas pelototan oleh Ryan sebelum laki-laki itu pergi.


"Sarapan?" tawar Arin saat mereka memasuki area ruang tengah.


"Makan kamu boleh?" bisik Kenzi dengan senyum genit.


Arin terkekeh, ia menutup bibir Kenzi dengan telapak tangannya, berusaha menahan agar tidak mendarat ke wajahnya. “Kita makan dulu. Aku ada buat cilok kesukaan Kak Ken.” Ia menggeret paksa sang suami ke ruang makan.


“Padahal semalam ada yang mau lagi,” goda Kenzi sambil mengunyah cilok buatan Arin. Entah kenapa ia tergila-gila dengan makanan sederhana itu.


Ah, Kenzi ingat, saat pertama kali bertemu Arin dulu saat kecil adalah saat pertamanya juga memakan cilok. Saat pertemuan itu masing-masing mereka berusia tiga dan sebelas tahun.


Ayah Kenzi dan ayah Arin berteman, saat itu Arin sekeluarga berkunjung ke rumah Kenzi. Ketika itu tanpa sengaja sosok Kenzi terlihat di mata Arin yang sedang asik memakan cilok dari kotak bekalnya di pangkuan ayahnya. Saat itu juga Arin merasa tertarik pada Kenzi. Ia meninggalkan cilok kesayangannya dan langsung berlari tanpa izin mengikuti ke arah Kenzi berlari.


Begitu sampai di hadapan Kenzi yang sedang duduk diayunan di taman belakang, Arin langsung menyapa. Tapi Kenzi mengabaikan.


“Kakak,” panggil Arin sekali lagi. Masih tak mendapat respon, Arin berjongkok di depan Kenzi. Karena tubuh Arin kecil, Arin jadi duduk tepat di bawah wajah Kenzi. Ia tertawa saat wajahnya berhadapan dengan Kenzi ketika mendoang.


Namun Kenzi malah melengos. Arin berdiri, dia cemberut. Lalu tiba-tiba dia masuk lagi ke dalam rumah. Dan tak lama kemudian Arin kembali, membawa kotak bekal ciloknya.


Saat berjarak dua meter dengan Kenzi, Arin memperhatikan kotak bekalnya yang kebetulan tutupnya bening, jadi ciloknya bisa terlihat dari luar. Masih banyak karena dia baru makan dua. Dengan kesungguhan hati, Arin kecil berusaha ikhlas memberikan ciloknya pada Kenzi. Siapa tahu dengan begitu Kenzi mau berbicara dan bermain bersamanya.


Sejak itu hubungan keduanya makin dekat. Hanya saja Arin suka salah memanggil nama. Kenzi sering dipanggil Iyan, karena waktu kecil Arin kesulitan menyebut nama Kenzi.


Kalau mengingat pertemuan pertamanya dengan Arin, Kenzi tidak pernah tidak tersenyum. Ia tidak menyesal sudah pura-pura tidak menghiraukan Arin kala itu.


“Kak, Kak Ken!” bentak Arin sambil memukul meja makan.


Hal itu membuat Kenzi tersadar dari lamunan masa kecilnya.


“Senyum-senyum sendiri sambil tutup mata. Ingat siapa?” tanya Arin galak.


Terbesit lagi untuk menggoda Arin. “Perempuan cantik, manis, dan menggemaskan.”


“Oh, makasih.” Arin cemberut, kesal dengan jawaban Kenzi. Harus gitu jujur tentang siapa yang dipikirkan? Bohong sedikit kalau itu dirinya kan bisa.


Arin membanting sendoknya, sedang Kenzi tertawa, lalu menarik Arin kepelukannya. “Perempuan itu kamu sayang.”


“Bohong.” Tapi wajahnya memerah malu juga.


“Memangnya aku pernah bohong sama kamu?” Melihat Arin yang sekarang, sebenarnya Kenzi sedih. Karena Arin tidak lagi mengingat kenangan masa kecil mereka karena kecelakaan itu.


...