(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
31



Selang lima belas menit kemudian gadis berlesung pipit itu datang dan sudah berada di depan pintu kamar Arin hendak mengetuk pintu. Saat itu Ryan membuka pintu hendak keluar.


"Sudah datang ternyata," Ryan membuka pintu kamar lebih lebar mempersilahkan Risda masuk.


"Pembantu lo yang antar gue ke sini, dia baru aja turun." Kata Risda sambil menolehkan kepalanya sedikit dan hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Ryan. Risda mengedarkan pandangan kearah ranjang. Benar, di sana Arin tengah berbaring menutup mata. Gadis itu mendekat dan mengecek suhu tubuh sang sahabat. Masih panas.


"Sekarang bukannya kalian ada jam kuliah ya? Lo bolos dong berarti." Tanya Ryan memecah keheningan diantara mereka beberapa saat.


Risda hanya menaikkan sekilas bahunya. Dalam hati ia mendengus, kenapa Ryan tahu jadwal kuliah Arin sementara ia yakin Kenzi tidak mengetahui pasti akan hal itu. Kenyataan itu cukup membuat hati Risda kesal. Risda tidak menyukai Ryan, tidak ada rasa semacam itu, tapi bukan berarti ia membenci Ryan. Ia hanya tidak suka dengan fakta tentang Ryan yang statusnya hanya ipar mengetahui lebih banyak tentang Arin dibangding Kenzi, suami Arin sendiri.


Ryan sayang dan cinta sama Arin. Risda tahu itu, dari dulu, dari awal sejak mereka bertemu. Saja saja Risda tidak tahu apakah sayang dan cintanya Ryan pada Arin hanya sebagai keluarga atau pada seorang wanita. Risda masih ingat bagaimana ekspresi bahagia Ryan saat pernikahan Arin dan Kenzi. Begitu sumringah saat melihat Arin keluar setelah ijab kabul seakan-akan dialah pengantin prianya, mengalahkan ekspresi bahagia Kenzi. Tapi Risda juga tidak lupa bagaimana perhatiannya Ryan pada Arin saat mereka berstatus pacaran.


Risda ingin tertawa jika mengingat itu. Arin berpacaran dengan Ryan tapi malah menikah dengan Kenzi, kakak Ryan. Sungguh Risda tidak bisa menduga permainan apa yang sedang dilakukan oleh dua bersaudara itu. Saat mengetahui Kenzi adalah kakaknya Ryan, Risda khawatir kalau mereka ada niat jahat pada Arin. Tapi saat mendengar cerita Arin dan melihat sendiri bagaimana perhatian Kenzi pada Arin membuat rasa khawatir Risda memudar. Risda pernah belajar tentang ilmu psikologi dari kakaknya, jadi sedikit tahu ia tahu mana yang tulus dan mana yang hanya akting belaka.


Risda menoleh pada Ryan yang memperhatikannya. Dengan salah tingkah Ryan mengalihkan pandangannya. "Kenapa nggak dibawa kerumah sakit aja sih? Panas banget ini," Risda menyentuhkan tangannya didahi Arin.


"Bisa kita bicara disana?" Risda mengikuti arah pandang Ryan yang mengarah ke sofa disudut ruangan didepan balkon. Ryan baru sadar kalau kamar ini begitu luas. Risda menyusul Ryan yang mendahuluinya dan duduk disofa yang berbeda. "Gue nggak bisa jaga Arin dua puluh empat jam sehari. Dia lebih aman dirawat dirumah dibanding dirumah sakit. Kenzi pun pasti akan melakukan hal yang sama kalau dia ada disini."


Jawaban Ryan malah menimbulkan pertanyaan lain dibenak Risda. Kenapa berada dirumah sakit malah membuat Arin tidak aman? Belum Risda mengutarakan pikirannya itu ketika ketukan pintu dan suara meminta izin masuk menginterupsi. Bi Muna masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas jus berbeda warna, Bi Muna meletakkan yang berwarna hijau didepan Risda dan oranye didepan Ryan.


"Kok beda, biasanya sirop doang, Bi?" Bi Muna dan Risda tertawa pelan mendengar pertanyaan heran Ryan.


Risda meletakan gelasnya yang baru ia minum sedikit. "Bedalah, gue kan request." Katanya lalu meminum lagi jusnya.


"Terus ini sirop doang?" Ryan menunjuk gelasnya dengan nada tak terima.


"Baru nemu gue tamu kayak lo," gumam Ryan sambil meminum juga jusnya. Risda hanya tertawa sementara Bi Muna pamit pergi.


"Mas Ken belum ada kabarnya ya?"


Ryan tidak perlu kaget dengan pertanyaan Risda, karena ia tau kakak iparnya itu selalu bercerita apa saja tentang keadaannya pada Risda. Ryan menggeleng, "belum. Gue juga udah nyuruh orang buat cari tapi belum dapat


informasi apa-apa."


"Mas Mika bilang Mas Ken waktu itu minta cuti buat pergi liburan bukan buat ngurus kerjaan."


Kali ini Ryan sedikit terkejut, dari mana Risda tahu kalau di kantornya Kenzi izin cuti pergi liburan bukan untuk urusan pekerjaan seperti yang Kenzi katakan pada Arin dan kedua orang tuanya. Ia sendiri tahu dari Mike,


bos sekaligus sahabat dari kakaknya. Dan Ryan belum menceritakan hal itu pada Arin. Oh Ryan ingat satu nama asing yang disebut oleh Risda. "Siapa Mas Mika?"


"Mas Mika, Mikail. Mas Mika biasa nyuruh orang manggil dia, Mike."


"Oh, Mike. Kenal dimana?"


"Mas Mika, kan, adiknya mama, my uncle."


Ryan bisa menangkap nada bangga saat menyebut Mike sebagai pamannya. Ryan mendengus dalam hati, kenapa harus bangga punya Om seorang playboy seperti Mike? Dan entah mengapa Ryan jadi mengerutu dalam hati.


***