
Setelah beberapa waktu mengobrol
dengan Hanna dan Dika, Arin pamit untuk istrirahat setelah melihat jam digital
yang bertengger diatas nakas sudah menunukkan pukul sepuluh malam. Saat keluar
ia sudah tidak mengingat hal tidak penting apa saja yang ia bicarakan dengan
kedua mertuanya karena menurutnya terlalu banyak.
Keadaan gelap gulita menyambut Arin
saat membuka pintu kamarnya. Samar ia melihat Kenzi yang berbaring dengan
punggung menghadapnya. Dengan langkah pelan Arin masuk kedalam kamar mandi,
bersiap untuk tidur.
Sebelum naik kesisi lain ranjang, Arin
menghampiri Kenzi yang berbaring disisi lainnya. Ia memperhatikan wajah Kenzi
dalam gelap. Samar ia melihat dahi Kenzi berkerut. Entah apa yang pria itu
pikirkan sampai terbawa dalam tidurnya. Arin mengelus pelan dahi Kenzi lalu
diciumnya sekilas. Dan hal sederhana itu mampu membuatnya tersenyum sendiri.
Sudah hampir satu jam Arin menutup
matanya tapi ia tak kunjung tertidur. Ia menggerutu pelan lalu membuka matanya
kesal. Dibalikkan tubuhnya menghadap Kenzi. Tiba-tiba ia terlonjak begitu
melihat Kenzi sudah berbaring menghadapnya dengan mata terbuka. Tapi sedetik
kemudian mata itu kembali tertutup. Membuat tanpa sadar menghela nafas. Ia
seperti orang yang takut ketangkap basah.
Menunggu rasa kantuk datang, Arin
memilih manatap wajah damai Kenzi dalam diam. Wajah itu, entah mengapa Arin
selalu suka menatapnya. Apalagi jika mata tajam itu sedang tertutup sempurna
seperti ini.
Seiring jarum jam berdetik, Arin
merasa kantuk mulai menyerangnya. Dan seiring dengan matanya yang mulai
tertutup sempurna, telinganya mendengar bisikan halus yang menyuruhnya tidur.
Dan perlu digaris bawahi, Arin suka mendengar bisikan itu, yang seakan obat
tidur untuknya. Karena setiap mendengar bisikan halus itu ia akan tertidur dengan
nyenyak sampai pagi tanpa merasakan mimpi buruk.
***
Kenzi bisa mendengar gelak tawa dari
kamarnya dengan suara yang berbeda. Dan juga samar ia mendengar suara bayi
tertawa. Ia bangun dari tidur dan keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan
sesekali memijat pelipisnya dan setelah itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia
memasuki area ruang makan dengan raut datar. Tak dihiraukannya tatapan dari
orang-orang disana.
Kenzi meneguk air putih yang
diambilnya dari dalam kulkas langsung dari botolnya hingga sisa setengah. Lalu
berbalik untuk pergi dari sana. Tepat saat ia berada dibelakang kursi Arin, ia
berhenti.
"Bereskan barang-barangmu, kita
nama karena ia yakin semua orang disana tahu siapa yang ia maksud.
Begitu sampai didalam kamar, Kenzi
langsung bergegas memasukan pakaiannya kedalam tas ransel yang pernah
dibawanya. Tak beberapa lama Arin juga masuk kedalam kamar. Tanpa mengalihkan
perhatiannya Kenzi berucap.
"Cepat bereskan barang-barang
yang akan kamu bawa!"
Arin mendekat. "Kenapa?"
"Kalau kamu mau ikut,
bereskan!"
"Ya tapi kenapa tiba-tiba?"
Kenzi mengangkat kepalanya, menatap
Arin sekilas lalu berbalik menghadap lemari. "Aku tidak mau mama
terus-terusan bicara yang tidak-tidak tentang kamu. Bicara kasar atau dingin
sama kamu. Apalagi minta kamu untuk meninggalkan-"
Kenzi menghentikan ucapannya karena
dengan tiba-tiba Arin memeluknya dari belakang. Sejenak ia terbawa suasana
karena ini kali pertama Arin memeluknya lebih dulu. Saat ia sadar ia langsung
ingin melepaskan pelukan Arin.
"Mama ngga akan seperti itu
lagi." Kata Arin yang masih setia memeluk Kenzi. Bahkan kini kepalanya ia
sandarkan dipunggung tegap itu. Meski tak bisa ia pungkiri bahwa ia merasa malu
sendiri karena bersikap seperti ini. "Mama sudah menceritakan semuanya.
Jadi kak Ken tidak usah khawatir. Arin senang karena itu cuma pura-pura, tapi
Arin sedikit kecewa karena kak Ken tidak cerita sama Arin."
Cepat Kenzi melepaskan pelukan Arin
yang terasa melonggar, lalu berbalik. "Maaf," katanya sambil
mengangkat wajah Arin agar bisa ia tatap. Sedang yang ia perlakukan seperti itu
langsung memerah wajahnya.
Arin menundukkan kepalanya karena
merasa jengah dengan tatapan Kenzi. "Ayo turun, kak! Kita sarapan. Yang
lain pasti sudah menunggu."
"Eh yang lain menunggu?"
Tanya Kenzi heran.
"Iya," Arin mengangguk.
"Kata papa, Arin pasti bisa bujuk kak Ken, dan bilang kalau akan menunggu
kita untuk sarapan sama-sama."
"Ya sudah. Ayo turun kalau
begitu!" Ajak Kenzi. Dan dengan cepat ia mengecup bibir Arin sekilas saat
wanita itu mendongak kearahnya. Dan Kenzi menyukai wajah Arin yang merona.