(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
18



Setelah beberapa waktu mengobrol


dengan Hanna dan Dika, Arin pamit untuk istrirahat setelah melihat jam digital


yang bertengger diatas nakas sudah menunukkan pukul sepuluh malam. Saat keluar


ia sudah tidak mengingat hal tidak penting apa saja yang ia bicarakan dengan


kedua mertuanya karena menurutnya terlalu banyak.


Keadaan gelap gulita menyambut Arin


saat membuka pintu kamarnya. Samar ia melihat Kenzi yang berbaring dengan


punggung menghadapnya. Dengan langkah pelan Arin masuk kedalam kamar mandi,


bersiap untuk tidur.


Sebelum naik kesisi lain ranjang, Arin


menghampiri Kenzi yang berbaring disisi lainnya. Ia memperhatikan wajah Kenzi


dalam gelap. Samar ia melihat dahi Kenzi berkerut. Entah apa yang pria itu


pikirkan sampai terbawa dalam tidurnya. Arin mengelus pelan dahi Kenzi lalu


diciumnya sekilas. Dan hal sederhana itu mampu membuatnya tersenyum sendiri.


Sudah hampir satu jam Arin menutup


matanya tapi ia tak kunjung tertidur. Ia menggerutu pelan lalu membuka matanya


kesal. Dibalikkan tubuhnya menghadap Kenzi. Tiba-tiba ia terlonjak begitu


melihat Kenzi sudah berbaring menghadapnya dengan mata terbuka. Tapi sedetik


kemudian mata itu kembali tertutup. Membuat tanpa sadar menghela nafas. Ia


seperti orang yang takut ketangkap basah.


Menunggu rasa kantuk datang, Arin


memilih manatap wajah damai Kenzi dalam diam. Wajah itu, entah mengapa Arin


selalu suka menatapnya. Apalagi jika mata tajam itu sedang tertutup sempurna


seperti ini.


Seiring jarum jam berdetik, Arin


merasa kantuk mulai menyerangnya. Dan seiring dengan matanya yang mulai


tertutup sempurna, telinganya mendengar bisikan halus yang menyuruhnya tidur.


Dan perlu digaris bawahi, Arin suka mendengar bisikan itu, yang seakan obat


tidur untuknya. Karena setiap mendengar bisikan halus itu ia akan tertidur dengan


nyenyak sampai pagi tanpa merasakan mimpi buruk.


***


Kenzi bisa mendengar gelak tawa dari


kamarnya dengan suara yang berbeda. Dan juga samar ia mendengar suara bayi


tertawa. Ia bangun dari tidur dan keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan


sesekali memijat pelipisnya dan setelah itu menggelengkan kepalanya pelan. Ia


memasuki area ruang makan dengan raut datar. Tak dihiraukannya tatapan dari


orang-orang disana.


Kenzi meneguk air putih yang


diambilnya dari dalam kulkas langsung dari botolnya hingga sisa setengah. Lalu


berbalik untuk pergi dari sana. Tepat saat ia berada dibelakang kursi Arin, ia


berhenti.


"Bereskan barang-barangmu, kita


nama karena ia yakin semua orang disana tahu siapa yang ia maksud.


Begitu sampai didalam kamar, Kenzi


langsung bergegas memasukan pakaiannya kedalam tas ransel yang pernah


dibawanya. Tak beberapa lama Arin juga masuk kedalam kamar. Tanpa mengalihkan


perhatiannya Kenzi berucap.


"Cepat bereskan barang-barang


yang akan kamu bawa!"


Arin mendekat. "Kenapa?"


"Kalau kamu mau ikut,


bereskan!"


"Ya tapi kenapa tiba-tiba?"


Kenzi mengangkat kepalanya, menatap


Arin sekilas lalu berbalik menghadap lemari. "Aku tidak mau mama


terus-terusan bicara yang tidak-tidak tentang kamu. Bicara kasar atau dingin


sama kamu. Apalagi minta kamu untuk meninggalkan-"


Kenzi menghentikan ucapannya karena


dengan tiba-tiba Arin memeluknya dari belakang. Sejenak ia terbawa suasana


karena ini kali pertama Arin memeluknya lebih dulu. Saat ia sadar ia langsung


ingin melepaskan pelukan Arin.


"Mama ngga akan seperti itu


lagi." Kata Arin yang masih setia memeluk Kenzi. Bahkan kini kepalanya ia


sandarkan dipunggung tegap itu. Meski tak bisa ia pungkiri bahwa ia merasa malu


sendiri karena bersikap seperti ini. "Mama sudah menceritakan semuanya.


Jadi kak Ken tidak usah khawatir. Arin senang karena itu cuma pura-pura, tapi


Arin sedikit kecewa karena kak Ken tidak cerita sama Arin."


Cepat Kenzi melepaskan pelukan Arin


yang terasa melonggar, lalu berbalik. "Maaf," katanya sambil


mengangkat wajah Arin agar bisa ia tatap. Sedang yang ia perlakukan seperti itu


langsung memerah wajahnya.


Arin menundukkan kepalanya karena


merasa jengah dengan tatapan Kenzi. "Ayo turun, kak! Kita sarapan. Yang


lain pasti sudah menunggu."


"Eh yang lain menunggu?"


Tanya Kenzi heran.


"Iya," Arin mengangguk.


"Kata papa, Arin pasti bisa bujuk kak Ken, dan bilang kalau akan menunggu


kita untuk sarapan sama-sama."


"Ya sudah. Ayo turun kalau


begitu!" Ajak Kenzi. Dan dengan cepat ia mengecup bibir Arin sekilas saat


wanita itu mendongak kearahnya. Dan Kenzi menyukai wajah Arin yang merona.