(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
36



Kenzi terduduk di belakang pintu kamar hotel yang baru dipesannya. Ia tidak tahu harus ke mana dan hotel ini menjadi tujuan sesaatnya. Ia mempunyai rumah tapi ia tidak ingin Ryan atau Arin menemukannya di sana dan melihat kondisi kacaunya.


Duk.


Dukk..


DUK...


Kenzi membenturkan kepalanya di pintu di belakangnya. Pelan, tapi seiring dengan banyaknya benturan, kekuatannya semakin keras. Lagi dan lagi. Terus begitu ia lakukan berharap bisa membuat segala ingatannya tentang Arin dan Ryan menghilang.


Sampai sebuah getaran dari ponselnya menghentikan aktifitasnya. Layar ponselnya yang sejak tadi ia pegang menyala menampilkan foto mesra dari dua orang yang sangat ia sayang. Foto Ryan dan Arin yang sedang


menempelkan bibir dengan senyum merekah. Foto itu ia dapatnya dari nomor asing yang sengaja mengirimkannya saat ia berada di Chicago. Tadi ia kembali melihat-lihat foto-foto Ryan dan Arin yang ia dapatnya dari pengirim asing, untuk memastikan bahwa foto-foto itu memang menampakkan wajah Ryan dan Arin.


Saat di Chicago, Kenzi tidak bisa menghubungi siapa-siapa dari awal datang sampai ia kembali pulang. Tidak, Ia pernah sekali berhasil menghubungi Arin bahkan ia sempat mendengar suara ketus Arin yang menerima panggilannya. Namun, belum semenit terhubung panggilan itu kembali terputus dan kembali tidak bisa dihubungi.


Ia tidak bisa mengerti mengapa bisa seperti itu. Sejak hari itu penyesalan yang sempat hinggap dibenaknya semakin menjadi. Menyesal karena meninggalkan Arin bersama Ryan.


Meski ada kedua orang tuanya, itu tak akan menjamin. Malah akan semakin memberi celah agar ibunya bisa mendekatkan Arin pada Ryan. Terbukti, karena ibunya tidak melarang tindakan anaknya dan menantunya yang


Selama di Chicago, hampir setiap minggunya ia menerima sebuah gambar berupa foto Arin dan Ryan dalam berbagai posisi. Salah satunya saling mengecup bibir, Arin yang berada dipangkuan Ryan dan berbagai kedekatan intim lainnya. Kenzi yang seharusnya bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu dua bulan harus bertambah satu bulan karena Kenzi yang tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Pekerjaan yang ia dapat dengan susah payah. Pekerjaan dengan upah lima kali lipat dari pendapatan rata-rata seorang arsitek. Sebelum ia berangkat, Kenzi sudah memikirkan matang-matang keputusannya meski resiko yang dia ambil sudah nyata terlihat. Tapi lagi-lagi ia berdalih demi Arin, demi bisa membahagiakan Arin.


Kenzi sadar kepergiannya memberikan peluang besar untuk Arin dan Ryan berdekatan. Tapi terbesit di hati kecilnya bahwa kedua insan itu tidak mungkin setega itu padanya. Dan lagi-lagi ia salah. Mereka memang sangat tega padanya. Terkadang Kenzi berpikir apakah ada sesuatu padanya sampai Arin lebih memilih Ryan dibanding dirinya.


Memang Kenzi akui ia jauh berbeda dengan Ryan, harta benda yang dimiliki Kenzi tidak mencapai seperempat dari milik Ryan yang berprofesi sebagai pemilik dan pemimpin perusahaan warisan orang tuanya. Kenzi tidak seperti Ryan yang romantis dan humoris. Ryan juga memiliki tubuh yang didamba oleh para wanita. Satu lagi, Ryan pandai membuat Arin tertawa bahagia.


Kenzi benci pemikiran itu, membandingkan dirinya dengan Ryan bukanlah hal yang tepat, tapi ia sering memikirkannya kala menyangkut Arin.


Kenzi berdiri dari duduknya, berjalan gontai masuk ke dalam kamar mandi. Menyiram kepalanya dengan air dingin mungkin akan sedikit membuatnya lebih baik. Kenzi tidak menyadari air yang berjatuhan dari kepalanya berubah keruh dan kepalanya yang terasa nyeri.


Luka batin yang ia rasakan mengalahkan luka robek beberapa centimeter di kulit kepalanya. Kenzi tidak tahu harus meluapkan emosinya dengan cara apa. Selama ini emosi yang berlebih selalu bisa ia tahan dan pendam sendiri. Tidak ada keinginan menyakiti diri sendiri ataupun orang lain, tapi emosi yang muncul saat melihat Arin dan Ryan tadi berbeda. Keinginan menghajar Ryan begitu besar, tapi untuk sekadar mendekat saja kakinya seolah terkunci.


Oleh karenanya ia langsung pergi setelah berucap beberapa kata pada Ryan. Ia sangat menyayangi Ryan dan jika ia sampai melukai Ryan itu hanya akan membuatnya semakin sakit.


***