(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
35



Kenzi menghembuskan nafas pelan sebelum turun dari taksi yang ditumpanginya. Harap-harap cemas bahwa Arin akan menyemburnya dengan keluahan ataupun kekhawatiran Arin pada dirinya yang sama sekali tak ada kabar. Sejujurnya ia mengharapkan itu terjadi kala ia masuk kedalam rumah besar di depannya ini. Berharap semuanya baik-baik saja dan apa yang seseorang katakan padanya itu tidak benar. Iya, dia harus berpikir positif.


Kenzi tersenyum ramah pada Tono yang membukakan pintu pagar. Ia menyerahkan kopernya lalu masuk dengan sedikit terburu-buru. Di ruang tengah ia berpapasan dengan Bi Muna yang terlihat terkejut.


"Arin ada 'kan, Bi? Kalau tidak salah ingat dia tidak ada jadwal kuliah pagi ini." Kata Kenzi semangat.


"I..iya, mbak Arin ada dikamarnya," jawab Bi Muna tergugu. "Mas Ken, mau sarapan dulu?"


Kenzi yang hendak melangkah mendekati anak tangga menoleh. Ia kembali menebar senyum ramahnya. "Tidak usah, nanti saja," katanya lalu menaiki tangga dengan cepat. Lalu tanpa menghentikan langkahnya ia langsung membuka pintu dengan sedikit paksaan karena tidak sabar.


Langkahnya terhenti seketika. Detak jantung yang semula berdetak kencang sekarang seolah berhenti. Matanya menatap nanar pemandangan di atas tempat tidur. Perlahan tangannya mengepal dan dadanya terasa sesak. Bahkan salivanya saja terasa sulit untuk ia telan. Inikah alasan Arin tak pernah bisa dihubungi? Kenzi tersenyum miris.


Tiba-tiba Ryan menggeliat, perlahan kelopak matanya terbuka. Ia kembali menyipit kalah menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Begitu sadar matanya langsung melebar dan ia terlonjak bangun namun terhalang oleh belitan


tangan di tubuhnya.


"Kak… Ken," ucap Ryan tergugu.


Kenzi menutup matanya yang memerah. "Aku tidak menyangka kalau kalian akan sampai sejauh ini. Kenapa kamu tidak jujur dari awal Ryan?" Kenzi membuka matanya. Pancaran kekecewaan itu tidak dapat ia


sembunyikan. "Maaf.” Kenzi menutup matanya, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun sia-sia. “Maaf karena selama ini telah bertindak egois dan tidak bertanya bagaimana perasaan kalian," katanya sambil menunduk, ia tak kuasa melihat apa yang tersaji di depannya. Sambil menggigit bibir, Kenzi berbalik pergi.


Ryan gelagapan. Tidak, ini tidak benar. Ia harus menjelaskan kebenarannya pada sang kakak. Ia kembali ingin bangkit tapi lagi-lagi terkendala oleh pelukan Arin yang menguat. Kesal, Ryan menyentak tangan Arin dengan keras membuat sang empunya merintih kesakitan karena mengenai perutnya yang buncit. Tapi Ryan tidak perduli. Tepatnya tidak menyadari kekerasannya tadi mengenai perut Arin.


Ryan segera keluar kamar berusaha mengejar Kenzi berharap laki-laki itu belum keluar dari rumah. Begitu sampai di depan rumah bahkan sampai keluar pagar, ia tidak melihat sosok Kenzi. Ryan bertanya pada satpam yang berjaga dan mengatakan bahwa Kenzi pergi kembali menggunakan taksi dengan wajah merah padam.


"Arrgth.." Ryan berteriak kesal dan mengusap wajahnya kasar.


"Kak Iyan," suara manja Arin membuat Ryan semakin kesal. Marah lebih tepatnya. Marah pada dirinya sendiri dan juga Arin. "Kak Iyan kenapa tiba-tiba marah sih?" tanyanya kesal masih dengan muka bantalnya.


"KENAPA?".


 "Kamu tanya kenapa? Harusnya AKU yang tanya kenapa? Kenapa kamu selalu berbuat hal gila? Selalu berbuat semau kamu? Kenapa juga kamu harus bawa aku ke dalam hal gila yang kamu buat? Kenapa, hah?"


Arin menelan ludah susah payah. Ryan murka yang entah karena apa. Arin tidak paham.


Kecemasannya yang selama ini Ryan takutkan telah terjadi hari ini, pagi ini. Selama ini ia takut kalau tiba-tiba kakaknya datang dan melihat kedekatannya bersama Arin sangat jauh dari hal wajar. Tapi yang terjadi barusan


lebih mengerikan dari bayangannya selama ini. Dalam bayangannya, saat seperti ini terjadi Kenzi akan murka, mencaci makinya, dan menghajarnya habis-habisan.


Namun Ryan lupa kalau kakaknya itu sedikit berbeda. Semarah apapun Kenzi, ia tidak akan pernah menyakiti orang yang dia sayang, tidak pernah. Laki-laki itu hanya akan menjauh sejauh-jauhnya dan mulai menyalakan diri sendiri atas apa yang terjadi. Dan apa yang Ryan lihat tadi benar-benar tidak sesuai dugaannya. Kakaknya itu hanya menatapnya dengan senyum miris, meminta maaf, dan menyalahkan diri sendiri lalu pergi.


Ryan menutup matanya, dan menarik nafas kasar. Tatapan terluka Arin akibat bentakannya malah membuat perasaannya campur aduk. Segala jenis emosi merangkap jadi satu ia rasakan.


"Kak Ken sudah datang. Dia-"


"Sudah datang? Dimana?" potong Arin antusias.


"Di mana?" ulang Ryan. "Astgaaaaahh.." teriaknya kesal karena rupanya Arin belum sadar akan situasi yang sedang mereka hadapi. "Kak Ken lihat kita, Arin. LIHAT KITA! Lihat istri dan adiknya tidur di atas tempat tidur dan selimut yang sama. Puas kamu?"


Mendengar ucapan Ryan itu, raut wajah Arin yang tadinya antusias langsung berubah. Perpaduan antara shock, cemas, panik dan takut menjadi satu. Sungguh, Arin tidak bisa membayangkan ekspresi Kenzi saat melihatnya tidur bersama laki-laki lain.


Ryan tersenyum sinis melihat ekspresi Arin. Sekarang ia merasa ragu jika harus merasa kasian pada wanita itu. Muak dengan Arin yang hanya diam saja, Ryan memilih berjalan masuk kedalam rumah. Ryan sedikit bersyukur karena halamannya sangatlah luas sehingga tetangga tidak bisa mendengar ucapannya tadi.


Sebelum benar-benar menjauh dari Arin, Ryan berhenti beberapa meter dibelakang Arin.


"Gue ucapin selamat buat lo. Selamat karna lo udah berhasil buat gue jadi adek paling nggak tahu diri, paling berengsek di depan kakaknya. SELAMAT!!" kata Ryan penuh emosi sebelum melanjutkan langkahnya.


***