
Tujuh harian Hanna sudah lewat dari tiga hari yang lalu. Kini Kenzi dan Arin sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Dan karena baru anak pertama dan Arin belum terbiasa, Ibu Arin terus ada di dekat Arin untuk mengurus Reva.
Dua hari lalu mereka sudah mengadakan akikah juga pemberian nama untuk Reva.
Namanya Revanarin Adinda Atharis.
Pemberian Kenzi. Ia hanya berpikir bagaimana caranya agar nama anaknya seakan menjelaskan siapa orang tuanya.
Mulai hari ini Kenzi harus bekerja kembali. Bos yang sekaligus sahabatnya, Mike, sudah mengomel agar dirinya segara masuk kerja. Lagipula Kenzi juga sudah tidak punya alasan untuk tidak masuk.
"Arin!" teriak Kenzi dari kamarnya.
Sementara Arin berada di kamar anak mereka yang berjarak tujuh langkah dari kamar mereka sendiri. Arin sedang belajar mengganti popok Reva yang diawasi langsung oleh ibunya.
“Arin, aku mesti pake baju yang mana?”
“Arin, celenanya robek.”
“Arin, dasiku kamu taruh di mana”
“Kaus kakiku?”
“Ohiya, deodorant, aku belum pake deodorant.”
Mendengar teriakan demi teriakan Kenzi itu, Arin hanya bisa meringis,sedang ibunya geleng-geleng kepala.
Lalu terdengar sesuatu terjatuh di kamar mereka dan suara mengaduh pelan, barulah ibu Arin menyuruh anaknya itu berhenti dan pergi mengurus suami.
Arin tertawa malu sebelum pergi.
Arin mendekat sambil geleng-geleng. Baru setahun dirinya menjadi istri dan mengambil alih mengurus semuanya, tapi Kenzi nampaknya sudah lupa di mana letak-letak barangnya disimpan.
Arin berdiri di dekat Kenzi dengan berkacal pinggang. “Habis ada perampok ya, Kak?” sindirnya sambil melirik-lirik bupet-bupet dan lemari yang terbuka, baju dan dalaman di tempat tidur berserakan, dan lain-lainnya.
Kenzi mendiri sambil cengar-cengir. “Aku kangen sama kamu.” Kenzi bergerak memeluk tapi langsung ditahan oleh Kenzi.
“Apaan kangen-kangen tapi berantakin kamar.”
“Kan nggak sengaja,” bela Kenzi masih berusaha peluk. Ia tidak bohong kalau dirinya rindu, soalnya beberapa hari ini Arin tak tidur dengannya. Arin tidur di kamar Reva bersama ibunya.
“Nggak ada peluk-peluk. Nanti bisa peluk-peluk kalo kamarnya udah Kak Ken rapikan.”
“Tapi kan aku harus pergi kerja sekarang.”
Arin mengendikkan bahu. “Berarti sepulang kerja.”
Kenzi mendengkus lesu.
Arin tertawa mengejek. Matanya melirik handuk Kenzi yang terlihat seperti melorot, lalu ia tersenyum licik. Arin memutar tubuh dengan tangan yang disengajakan menyenggol barang Kenzi. Membuat Kenzi meringis dengan handuk jatuh di lantai.
“Ariiin!” geram Kenzi. Tahu sekali istrinya ini cara mengerjainya.
Arin bergerak mendekati lemari, mengambil pakaian untuk suami tercintanya. Sebenarnya tidak susah untuk mencari, Arin rasa Kenzi hanya sedang mencari perhatian. Agaknya laki-laki yang belum lama menjadi ayah itu cemburu karena perhatian sang istri yang terbagi, tidak lagi utuh untuknya.
Arin berbalik menghadap Kenzi yang sudah duduk di tepi ranjang. “Ck, itunya jangan ditegang-tegangin dong. Mau nantang siapa sih?” ledeknya.
Kenzi hanya bisa menipiskan bibir. Berujar sabar beberapa kali sambil menghirung embuskan napas. Istrinya baru saja melahirkan, tak mungkin ia garap habis. Tapi Kenzi berjanji, sehabis masa nifas Arin selesai, Kenzi takan memberikan ampun pada istrinya itu.