(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
60



Kenzi menyentak tangan Hanna hingga terlepas dari tangannya. Suaranya sangat nyaring membuatnya takut membangunkan Papanya. “Jangan bicara sembarangan. Mau Reva anak aku atau bukan, aku akan tetap menyayangi Reva.”


Hanna mendengkus. “Dasar pembohong. Kamu kira saya tidak tahu trik busukmu?”


“Terserah! Yang jelas aku bukan Mama yang suka menyiksa anak tiri.” Kenzi berteriak di depan wajah Hanna, melupakan bahwa papanya bisa saja bangun dan mendengar.


“Siapa yang menyiksa anak tiri?”


Baik Kenzi maupun Hanna, keduanya sama-sama membeku. Dika, sepertinya laki-laki itu sudah mendengar perdebatan mereka.


Tapi, biarlah. Mungkin ini saatnya Dika mengetahui perilaku Hanna pada Kenzi yang sebenarnya. Kenzi berbalik menghadap Dika. “Siapa lagi? Ya jelas aku, kan? Aku anak tiri Mama.” Kenzi mengedikkan bahu. Kini ia bisa lebih rileks. Ia sudah tidak ingin berpura-pura lagi. Kasihan rumah tangganya.


Dika mendekat. “Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kamu anak kandung Mama sama Papa. Tidak ada di sini yang anak tiri.”


Kenzi memutar bola matanya malas. “Sudahlah, Pa. Kenzi bukan anak kecil, jadi jujur saja. Lagipula Ken ada kok hasil tes DNA-nya. Dan perlakuan Mama ke Ken selama ini cukup mendukung.”


Dika menatap Hanna dan Kenzi bergantian. “Memangnya bagaimana sikap Mama ke kamu? Baik-baik saja, kan? Dan hasil tes DNA apa yang kamu maksud?”


Sepergian Kenzi, Dika menatap tajam Hanna. Ia menyalahkan lampu lalu membawa istrinya itu ke ruang tengah. “Jelaskan!” tuntut Dika. Namun Hanna membuang muka dan tetap diam. “Hanna! Apa selama ini kamu selalu menyiksa Kenzi di belakangku? Hanna jawab!”


Saat ini mereka duduk bersebelahan di sofa. Dika mengguncang tubuh Hanna yang masih diam. Hal itu membuat Dika menggeram. Diamnya Hanna sebenarnya sudah cukup menjawab pertanyaannya. “Ternyata kamu masih berbuat jahat dan tidak menganggap Kenzo sebagai anakmu ya?” Dika tertawa pelan. menertawai kebodohannya selama ini. Menertawakan keteledorannya dan kelalaiannya yang tidak menyedari perubahan Kenzi saat anaknya itu masih balita. Menjadi pendiam dan tidak lagi manja. Padahal ia pikir selama ini Hanna sudah berubah dan kembali normal. Astaga, bagaimana ia tidak menyadari itu.


“Kenzi memang bukan anakku, kan? Dia anak wanita gila itu.”


Dika memijit pelipisnya yang terasa pening. Sebenarnya apa sih yang ada dipikirannya itu. Dika menghadap Hanna lagi. Kedua tangannya memaksa agar Hanna menatapnya, lalu berucap pelan, berusaha sabar. “Dengar! Kenzi anak kita. Anak kamu, darah daging kamu. Kenapa kamu masih menganggap—”


“Sudahlah, Pa.” Kenzi datang dengan sebuah map di tangannya. “Kenzi bukan lahir dari rahimnya, ya jelas bukan anaknya. Itu fakta yang tidak bisa dibantah. Oh iya, anak, anak tiri.”


Dika menghela napas. Ia bingung harus berucap bagaimana biar dua orang ini tidak saling membantah ucapannya. Dika menerima berkas yang diberikan Kenzi. Ia mengerutkan kening melihat hasil tes DNA itu. Ada dua. Dan keduanya mengatakan bahwa Kenzi bukan anak kandung Hanna.


Dika tercengang. Bagaimana bisa? Dika yakin seratus persen bahwa Kenzi adalah anak kandung Hanna.