
Sambil bercerita, Arin dan Ryan menghabiskan makanan mereka. Obrolan biasa antara adik dan kakak ipar. Tentang keluarga, Reva atau pekerjaan. Sedikit Arin menyinggung Galih, tapi selalu dialihkan Ryan. Tampak sekali bahwa adik iparnya itu tak mau membahas laki-laki yang pernah mencoba membunuh Arin.
Ryan bediri, ia sudah selesai makan. Matanya melirik Arin, bertanya dalam diam, apakah Arin sudah selesai atau belum. Seperti mengerti, Arin menyerahkan piringnya untuk dicuci.
Arin mengamati Ryan yang sedang mencuci piring. Gerakannya luwes, terlihat sekali bahwa laki-laki itu sudah biasa. Biasa mencuci piringnya sendiri sejak sering bermalam di rumah kakaknya. Sesuatu terbesit lagi dalam benaknya. Tidak mengganggu, hanya saja ia masih suka penasaran.
“Yan, kamu pernah suka sama aku?” tanya Arin tiba-tiba membuat gerakan Ryan terhenti.
Ryan menoleh. “Suka?”
Arin mengangguk. “Cinta.”
Ryan tertawa pelan kemudian menggeleng. “Kenapa?”
Arin menelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa, sih. Cuma tiba-tiba teringat saja. Soalnya ada yang bilang kalau sudah pernah sama-sama itu mustahil nggak punya rasa sama sekali.”
Ryan menghentikan kegiatan cuci piringnya, dengan tangan yang masih penuh sabun, ia berdiri miring menghadap Arin yang juga melihatnya. “Sekarang gue tanya, gimana sikap gue sama lo waktu status kita yang katanya pacaran?”
Arin mengerutkan keningnya, mencoba mengingat.
“Pernah gue pegang tangan lo?”
Arin menggeleng.
“Pernah gue rangkul atau peluk lo?”
Arin menggeleng lagi.
“Pernah gue ngajak lo jalan lebih dulu?”
Arin menghela napas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Nggak pernah.”
Ryan tertawa. “Gua malah lebih mirip bodyguard dibanding pacar.”
Arin mengangguk menyetujui. Mereka tidak pernah melewati masa-masa romantis ala-ala orang pacaran pada umumnya. Arin baru sadar. “Karena kamu memang sudah disewa buat jadi penjaga aku.”
Ryan tertawa. Ia menghadap sepenuhnya pada Arin dan melipat kedua tangan di dada. Busa pada tangannya sampai hilang dengan sendirinya tanpa dibilas.
“Jadi?”
“Kalau yang lo maksud rasa laki-laki ke perempuan, ya nggak. Gue suka, cinta dan sayang sama lo sebagai adik.”
Ryan menggeleng-geleng, sembari membalikkan badan berniat melanjutkan aktivitas cuci piringnya. “Kalau lo sendiri bagaimana?”
Arin duduk tegap kembali. Ia diam, membiarkan Ryan menunggu. Jari tangan kanannya bergantian mengetuk-ngetuk meja. “Kamu maunya apa?”
“Mau apa?”
Arin terperanjak mendengar suara bass yang tiba-tiba ada di belakangnya. Ia berdiri dan menunjukkan cengirannya.
Tak berbeda jauh dengan Arin, Ryan juga terkejut. Piring yang baru dibilasnya hampir terlepas dari tangan.
“Katanya tiga hari lagi.” Arin mempersilakan sang suami yang muncul mengagetkan untuk duduk di sampingnya. “Sudah makan?” Kenzi menggeleng. Beruntung lauk yang Arin masak tadi cukup banyak dan tidak mereka habiskan.
“Yan, ambilkan nasi!” perintah Arin pada Ryan yang sudah selesai cuci piring dan hendak duduk kembali di kursinya tadi.
Kenzi menatap Arin, keningnya berkerut penuh keheranan.
“Udah, nggak apa-apa. Sekali-kali.” Arin tertawa.
Kenzi beralih menatap Ryan yang menyerahkan sepiring nasi. Dari gerakan bibir tanpa suara Ryan, Kenzi menangkap kata “kumat”, lalu menggeleng pelan.
“Jadi, kenapa sudah pulang? Padahal bilangnya tiga hari lagi. Sudah selesai?”
Kenzi menjawab hanya dengan gelengan. Ia sibuk mengunyah makanannya.
Melihat Kenzi yang lebih memilih mengunyah lebih dulu ketimbang menjawab pertanyaannya dengan suara, Arin sadar kalau suaminya itu bener-benar merasa lapar. Untuk itu ia dengan setia menunggu hingga makanan Kenzi habis.
Namun, sampai lima menit berlalu setelah Kenzi makan, laki-laki itu belum juga bersuara. Hanya diam sambil menggoyang-goyangkan gelas minumnya. Membuat Arin harap-harap cemas, takut kalau Kenzi mendengar obrolan mereka tadi dan mungkin tanpa sadar ia melakukan kesalahan.
💛💛💛
***Halo semuanya, minal aidzin wal faidzin, ya
maaf karena lamaaaaa banget baru update 😥
sebagai permintaan maaf, dan buat bayar keterlambatan update ini, aku harus apa?
jawab dikomen ya 🥺🥺
💛***