(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
56




"Dia mirip sekali dengan Ryan. Persis seperti Ryan kecil. "


Ucapan Hanna bagai penyambut kedatangan Kenzi. Terdengar ringan tapi mampu menusuk hati Kenzi. Seakan ingin memberitahu bahwa bayi yang dilahirkan Arin bukanlah darah dagingnya.


"Ngapain kesini?" Ucapan ketus Arin menjadi penyambut kedua.


Kenzi menoleh menatap orang-orang yang ada di ruangan itu. “Boleh keluar dulu? Ada yang mau kubericarakan dengan Arin. Hanya berdua.”


Sebelum semuanya keluar, Kenzi sempat menangkap ekspresi tak suka mamanya. Melirik sinis padanya. Ternyata adegan menangis-menangis di depannya kemarin itu memang hanya sandiwara.


Setelah hanya berdua, Kenzi segara mengunci pintu. Lalu mendekat pada Arin di ranjang yang sedang menggendong anaknya.


“Dari tadi dicari ke mana aja?”


Kenzi mengabaikan, ia malah mengambil bayinya dan mencoba menggendongnya sendiri. Kenzi duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arin.


“Ternyata benar kata Mama, memang mirip Ryan.”


Arin yang tadinya cemberut langsung berubah lesuh. “Kamu nggak lagi beranggapan kalo Reva bukan anak kamu kan?”


Kenzi mengangguk, dan bertanya tentang hal lain, seperti mengalihkan pembicaraan. “Mungkin karena saat hamil kamu terlalu sering sama Ryan, jadinya saat lahir anak kita mirip dia. Ada kan kasus seperti itu? Seorang anak yang lahir tidak mirip kedua orang tuanya.”


Entah kenapa Arin malah tidak tenang mendengar jawaban Kenzi. Laki-laki itu sejak datang ke ruang inapnya ini tidak pernah menatapnya. Lalu Arin kembali teringat akan Kenzi yang tidak menemaninya saat melahirkan. Padahal Arin sangat ingin, tapi laki-laki itu tidak ditemukan di mana-mana. “Pas aku melahirkan, kamu ada di mana, Kak? Padahal aku ingin ditemani kamu,” Arin berujar dengan lesuh.


Kenzi berdeham, berdiri dan menaruh bayinya ke box bayi yang telah disediakan. “Bukannya yang kamu cari itu Ryan ya?”


“Eh?”


Arin terbelalak. “Iyakah? Astaga, jangan-jangan aku salah panggil lagi.” Arin menepuk kepalanya. “Pantas tadi Ibu marahin aku.”


Kenzi mengernyitkan kening. “Apa maksudmu dengan lagi?”


Arin melirik ke sana-kemari, tampak bingung juga. “Entah kenapa aku merasa kalau aku pernah salah panggil kamu dan buat kamu marah, makanya aku bilang lagi. Memangnya nggak pernah ya?” ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kenzi mendekat lagi, kali ini ia duduk di tepi ranjang Arin. Mereka berhadapan dengan jarak yang dekat. “Aku pikir kamu sudah ingat.” Kenzi meraih puncak kepala Arin untuk dikecupnya. Mungkin alam bawah sadar Arin yang membuat Arin menyebut nama yang salah, sebagai refleksi masa lalu yang terlupakan.


“Memangnya ada yang aku lupakan ya?” tanyanya. Arin pesaran dengan ucapan Kenzi yang sebenarnya tidak begitu ia pahami.


Kenzi tampak ragu untuk menceritakan. Pasalnya ia dan keluarga Arin sudah sepakat untuk tidak menceritakan masa lalu yang dilupakan dan alasan sebenarnya tentang kecelakaan itu pada arin. Kecuali Arin sendiri yang bertanya hal itu lagi.


Namun sekarang, Arin bertanya tentang itu karena ketidakjelasannya dalam berucap. Dan sebenarnya Kenzi juga takut kalau membahas itu lagi, kepala Arin akan sakit lagi seperti waktu itu. Jadi bagaimana?


“Kak Ken?” tegur Arin karena Kenzi diam saja dan hanya menatapnya terus.


Kenzi mengembuskan napasnya pelan. “Kamu ingat pernah kecelakaan dulu, kan?”


Arin tampak berpikir. Kecelakaan ya? Saat dia masih sekolah dasar itu? “Memang apa hubungannya dengan itu?”


“Sebenarnya kita sudah saling kenal sejak umurmu tiga tahun.”


Mendadak Arin tertawa. “Bohong nih.”


“Kita dulu sangat dekat, bahkan kamu selalu memamerkan aku sebagai pacarmu pada teman-temanmu. Dan setelah kecelakaan itu, kamu melupakan semua kenangan masa kecilmu. Terutama yang menyangkut tentang aku.” Suara Kenzi mulai pelan. “Karena dalang dari kecelakaan itu adalah Galih. Galih yang punya perasaan ke aku nggak terima aku dekat sama kamu. Makanya dia berusaha keras memisahkan kita.”