(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
53



Laki-laki itu tertunduk menatap pecahan kaca yang berserakan dari meja kaca telah ia hancurkan dengan tangan tanpa sadar. Mengabaikan rasa sakit ditangan, ia meremas rambutnya kuat membuat darah kembali membasahi tangannya, ia bingung, frustasi dan tak berdaya.


Sudah lebih dari empat puluh delapan jam, keberadaan Arin belum juga diketahui. Kenzi tidak mengerti, Arin menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Bahkan detektif paling handal ia sewa untuk mencari keberadaan istrinya, tapi sampai detik ini belum ada kabar sama sekali.


"Ken,"


Kenzi menoleh kepada Hanna yang saat ini terduduk di depannya, meraih tangannya dan mencoba mencabuti pecahan kaca yang menempel disana. Kenzi menatap Hanna heran, sejak kapan wanita ini datang? Siapa yang memberitahunya?


"Maafkan Mama," bisik Hanna lirih. Air matanya jatuh dipipi sebelum turun mengenai tangan Kenzi yang terluka.


Kenzi tidak menyahut, ia menatap kosong Hanna yang menangis sambil mengobati tangannya. Ia meringis, bukan karena luka di tangannya melainkan karena luka di hatinya. Selama ini Hanna tidak pernah mengobatinya jika terluka, tidak pernah jika tidak ada Dika-ayahnya. Dan sekarang pun tanpa melihat sekitar, Kenzi tahu ada ayahnya disana.


"Apa Mama yang ada di balik semua ini?" Hanna menatap Kenzi terkejut. Bukan hanya Hanna tapi juga Dika dan Ryan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Mama minta maaf karena Mama dalang dari semua ini, kan?" Lanjut Kenzi tanpa peduli tatapan terluka Hanna.


"Kenzi..." tegur Hanna dengan suara bergetar.


"Mama berusaha memisahkan aku dengan Arin agar..."


"Kenzi jaga bicaramu! Dia Mama kamu!" Bentak Dika padanya untuk pertama kali.


Kenzi tertawa miris, "yakin kalau Kenzi anak Mama?" Tatapan Kenzi tidak sekalipun beralih dari Hanna. "Tidak ada ibu yang menyuruh anaknya untuk menyakiti anaknya yang lain. Tidak ada ibu yang menyuruh anaknya merebut istri anaknya yang lain." Lanjut Kenzi dengan suara tertahan. Rahangnya mengeras seiring dengan tangan yang terkepal dan sorot mata yang memandang tajam objek didepannya.


Hanna membatu ditempatnya, tidak mengira hari ini akan terjadi. Ia hampir tersedak saat menelan salivanya sendiri. "Ha-ha Kenzi kamu bicara apa sayang?"


Getaran disaku celana membuat Kenzi berhenti. Sebuah panggilan masuk dari nomor asing terpampang dilayar. Kerutan dikening muncul seiring gerakannya menerima panggilan itu. Ia diam, menunggu orang di sana berucap lebih dulu.


Tapi ... sebuah suara tamparan keras dan jerit kesakitanlah yang menyapa gendang telinganya. Lalu tubuhnya menegang tiba-tiba. Ia teringat akan Arin. Mungkin...


Lalu sedetik sebelum panggilan itu terputus, terdengar sebuah benturan benda yang amat keras. Kenzi berpikiran mungkin saja telepon yang digunakan untuk menghubunginya itulah yang dilempar dan membentur sesuatu dengan keras.


Dengan napas terengah Kenzi menghampiri beberapa polisi yang berjaga dirumahnya. Ia memberitahukan perihal panggilan mencurigakan itu. Kenzi terlihat tidak tenang saat menceritakan kecurigaannya, ia sampai menyuruh dengan nada tinggi untuk melacak panggilan itu.


Sedikit berharap dari panggilan itu, upaya pencarian Arin menemui titik terang. Atau mungkin langsung bisa menemukan Arin.


Ya Allah, lindungi anak dan istriku.


.


.


**bersambung


aku sayang kalian, nggak akan lupa apalagi yang ninggalin jejak, bikin aku inget terus 😘😘😘**