
Hari ulang tahun Reva sudah tiba. Arin benar-benar mengikuti kemauan Kenzi. Ulang tahun Reva dirayakan dan mengundang hampir semua kenalan. Acaranya lebih besar ketimbang acara akiqah Reva beberapa bulan lalu. Bahkan Kenzi sampai terkejut dengan banyaknya makanan dan orang-orang yang datang ke rumahnya.
Pasalnya sejak pagi itu Arin selalu mendiamkannya. Arin masih melakukan pekerjaannya seperti biasa, malah ia masih menyiapkan pakaian kerja Kenzi dan memasangkan dasi suaminya. Hanya saja tak ada komunikasi diantara mereka. Karena setiap kali Kenzi mulai bersuara, mengajak Arin berbicara, istrinya itu langsung pergi menjauh. Hal itu cukup membuatnya frustrasi.
Dan hari ini, di hari ulang tahun Reva, Arin kembali ke pribadinya yang biasa. Ceria dan banyak berbicara. Diam-diam Kenzi mengamatinya dengan seksama. Kenzi rindu senyum dan tawa Arin yang renyah.
Kini Reva sudah tertidur nyenyak karena kelelahan dan para tamu sudah pulang. Hanya tersisa Ryan yang masih santai di ruang tengah sambil memakan pudding.
Sedang Kenzi berdiri, bersembunyi, mengintip Arin yang masih mengobrol dengan Risda dan Mike di depan rumah. Hatinya panas melihat Arin tertawa-tawa bersama sahabatnya. Entah apa yang mereka obrolkan sampai beberapa kali Arin menyentuh Mike, seperti meninju atau mencubit lengan laki-laki itu.
Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus segera menghampiri tiga manusia itu. Jangan sampai Arin terus berlama-lama bersama Mike. Mike itu perayu ulung, bisa-bisa Arin dirayunya. Lalu … lalu Arin tergoda, lalu ….
“Arrgth,” geram Kenzi tertahan sambil mengacak rambutnya. Sebelum ia melangkah, diubahnya raut wajahnya agar tak terlihat kesal. Tak lupa ia pasang senyum ramah.
“Wah, seru sekali obrolan kalian.” Kenzi datang tiba-tiba mengagetkan Arin, karena Kenzi langsung merangkul pinggang ramping Arin.
Arin ingin segera melepas pelan-pelan, tapi rangkulan Kenzi begitu kuat menempelkan tubuh mereka. Alhasil Arin hanya tersenyum seperti meminta pemakluman pada Mike dan Risda. Padahal ia hanya tak mau bersentuhan intim dengan Kenzi.
“Kupikir kalian sudah mau pulang, tapi malah terus-terusan mengobrol, seru sekali. mengobrolkan apa?” Seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan, Kenzi sengaja beberapa kali mengecup kepala Arin.
Mike tertawa. Ia tahu sahabatnya itu sedang cemburu. Hah, kekanakan sekali, pikir Mike. “Obrolan tentang mantan, gue baru tahu kalau ternyata mantan pacar Arin banyak dan cakep-cakep,” jawab Mike sengaja menyulut.
Lain Mike, lain juga dengan Risda. Perempuan itu menangkap ekspresi tak nyaman di wajah Arin sejak kedatangan Kenzi. Hendak menanyakan, tapi hal itu takkan sopan. Akhirnya ia hanya cepat-cepat menyeret Mike untuk segera pulang.
Sepeninggal Risda dan Mike, Arin segera melepas rangkulan Kenzi. Melirik datar lalu mendahului masuk ke dalam rumah.
Kenzi hendak mengejar ketika ponsel di saku celananya bergetar.
Gue baru sadar, ternyata Arin cantik juga ya, apalagi kalau tertawa. Manis banget.
Pesan singkat dari Mike itu sontak membuat telinga Kenzi memerah. Rasa cemburunya sudah sampai di ubun-ubun.
Sebelum masuk menyusul Arin, Kenzi lebih dulu mengirim balasan untuk Mike. Beberapa kata makian yang kasar.
Saat Kenzi masuk ke dalam rumah, Arin baru akan memasuki ruang tengah. Cepat Kenzi menarik pergelangan tangan Arin hingga membuat istrinya itu tersentak dan nyaris jatuh.
“Maksud kamu apa tadi senyum-senyum, ketawa-tawa sama Mike? Sampai acara cubit-cubitan segala. Mau coba tebar pesona?” Kenzi berusaha keras agar suaranya tak meninggi.
Kenzi ingat di rumahnya masih ada Ryan, ART dan suster yang dipekerjakan Arin untuk membantu mengurus rumah dan anak mereka. ART dan suster datang pagi, pulang sore, tidak tinggal bersama mereka. Sedang Ryan datang suka-suka, pulang suka-suka, menginap jika sedang tak ingin sendirian di rumah. Karena sepeninggal Hanna, Dika memilih tinggal bersama Zevanna. Akibatnya Ryan tak punya teman saat di rumah.
Kembali lagi pada Arin dan Kenzi. Beberapa detik mereka hanya bertatapan. Arin dengan raut datarnya, Kenzi dengan air muka yang penuh emosi.
Arin tertawa sinis, menepis kasar tangan Kenzi lalu pergi tanpa perkataan apa-apa.
“Arin!”
Napas Kenzi naik turun dengan cepat. Dibantingnya tubuhnya di samping Ryan duduk. Melihat segelas jus jeruk di atas meja yang masih penuh, Kenzi segara menyambarnya. Meminumnya hingga tandas.
Ryan, sang pemilik jus hanya mencibir dan melanjutkan memakan cemilan. Beberapa saat kemudian, ia teringat akan hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
“Arin kenapa, Kak?” Mata Ryan menatap anak tangga yang tadi sempat dilewati Arin.
Kenzi membuka mata, ikut memandang objek yang sama.
“Senyum dan tertawa seperti orang senang, tapi seperti dipaksakan.”
Kenzi mengerutkan kening. Apa iya?
“Tatapan matanya yang terlihat sedih nggak bisa bohong, Kak. Ada yang dia pikirkan sampai buat tertekan. Kalian ada masalah?”
Begitukah? Kenapa Kenzi tidak bisa melihat itu? Ia memang tidak lebih peka dari Ryan, tapi masa tentang istrinya saja ia tidak sadar.
Kalau benar Arin tertekan, lalu karena apa? Karena masalah tes DNA yang ia lakukan?
Kenzi mengumpat dalam hati. Otaknya sedang tak bisa diajak kompromi gara-gara rasa cemburu sialan yang makin besar setelah mendapat pesan dari Mike.
Arin bukan tertekan karena menanti gugatan cerai darinya, kan?
“Arrgth.” Kenzi berdiri seketika bersamaan dengan geramannya. Membuat Ryan terkejut dan kejeranan. “Kamu pulang saja.” Kenzi berjalan mendekati tangga. “Dan tolong bilang ke Mbak Yuni dan Nanda, mereka sudah boleh pulang.”
Seketika Ryan pun berpikir kalau memang sedang ada masalah pada rumah tangga kakaknya itu. Dan ia berharap bukan masalah yang besar, dan bisa segera selesai. Kasian juga melihat lingkar hitam di sekitar mata kakak dan kakak iparnya meski Arin memakai make up sekalipun ia masih bisa lihat.
Ryan menghela napas. Sebenarnya ada rasa takut juga jika masalah Kenzi dan Arin menyangkut dirinya. Apalagi beberapa bulan terakhir ia rajin datang ke rumah ini.
Ah, Ryan pernah mendapat curhatan dari sekretarisnya yang sedang ada masalah terkait rumah tangganya. Katanya pertengkaran atau perdebatan di rumah tangga itu wajar, asal tidak berlarut-larut. Dan rumah tangga yang tanpa masalah itu tidak seru. Jadi nikmati saja.
Ryan tertawa. Ia tahu sekretarisnya berucap seperti itu karena supaya tetap optimis rumah tangganya tetap baik-baik saja dan masalah akan segera berakhir.
Ketika Ryan akan berdiri, ponselnya di atas meja bergetar. Pesan singkat dari Mike.
Kakak lo nggak mencak-mencak, kan, gara-gara gue bilang istrinya manis?
“Ah, dasar tukang kompor.” Masalah awal Kenzi dan Arin mungkin bukan itu, tapi kayaknya kakaknya jadi tambah kacau karena cemburu. Ryan jadi kasian sama keponakannya, Reva pasti kena imbas karena orang tuanya yang sedang cekcok.
***
Hehe💛💛