
...
Kenzi berdiri menatap kosong rumah di depannya. Rumahnya yang sudah beberapa bulan ia tinggalkan. Ia mendesah pelan lalu berjalan pelan untuk masuk. Menyusuri ruang demi ruang sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Debu yang menempel memperjelas tidak adanya penghuni dalam rumah walaupun keadaannya sedikit berubah dari sebelum ia tinggalkan.
Mungkin sesekali Arin menyuruh orang untuk membersihkannya. Batinnya.
Sambil memperhatikan, kilasan-kilasan tentang kebersamaannya bersama Arin terlintas di kepalanya. Tidak ada sudut di rumah itu yang tidak menjadi saksi kebersamaannya bersama sang istri.
Tidak banyak kejadian istimewa memang, tapi hal-hal sederhana saja tidak semerta-merta bisa dilupakan begitu saja oleh Kenzi. Semuanya terlalu berharga untuk ia lupakan.
Apalagi saat awal pernikahan mereka, Arin yang kadang bersikap canggung di depannya sampai Arin yang begitu frontal dalam mengutarakan pikirannya. Arin yang kadang bersikap manja, kadang kesal, marah bahkan sampai menangis, semuanya terekam jelas dalam ingatan. Dan sekarang Kenzi sangat merindukannya.
Kenzi berjalan masuk ke dalam kamarnya. Matanya tidak meneliti keadaan sekitar karena begitu banyak kenangannya bersama Arin di kamar itu. Ia hanya takut mengingat terlalu banyak dan tak bisa melupakan, lebih tepatnya tidak bisa merelakan. Merelakan Arin melepaskan hak huni kamar itu.
Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi kalau bukan Arin yang berucap menginginkannya. Karena Kenzi sudah bertekat untuk tidak melepaskan jika Arin tidak memintanya. Tapi melihat sejauh apa Arin bermain di belakangnya membuat Kenzi yakin cepat atau lambat Arin akan segera minta untuk dilepaskan.
Kenzi berdiri di depan balkon, hendak menatap dalam diam pemandaan luar. Ia mengerutkan kening ketika menyadari pengaman pintu balkonnya sudah berganti, tapi sekarang malah tidak tertutup rapat.
Kenzi mendesah pelan, biarlah kalau ada maling masuk ke rumahnya. Kenzi tidak begitu, karena sesuatu yang paling berharga di rumahnya sudah tidak tinggal di situ lagi.
Kenzi yang baru saja menutup mata terkejut saat tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang. Keterkejutannya membuat Kenzi refleks menarik tangan itu agar terlepas.
"Sebentar saja!"
Kenzi terdiam sesaat. Suara itu adalah suara milik orang yang sangat ia rindukan. Untuk memastikannya ia kembali menarik tangan wanita itu, bukan untuk melepaskan tapi untuk melihat ada tidaknya cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manis wanita itu. Cincin itu ada di sana, di jari yang sekarang terlihat menggemuk.
"Sebentar saja, please!" pinta wanita itu sekali lagi, Arin.
Kenzi tidak mungkin salah mengenali suara dan pelukan Arin. Hanya saja terasa ada yang berbeda Kenzi rasakan, Arin menggemuk. Dan pelukannya semakin kuat, tapi serasa masih ada jarak yang memisahkan. Apa Arin menaruh sesuatu diantara mereka?
"Aku kangen sama kamu," kata Arin lagi dengan napas terkecat. "Kangen banget," dan tangisnya semakin menjadi. Kenzi kembali berusaha melepaskan tangan Arin. Ia juga rindu pada Arin.
Cukup. Kenzi tidak tahan lagi. Ia langsung menyentak tangan Arin agar melepaskan pelukannya. Kenzi memutar tubuhnya beriringan dengan rintihan Arin. Mungkin karena terkejut dan adanya rasa sakit di tangan.
Arin menunduk, matanya masih setia mengeluarkan air. Ia menggigit bibir bawahnya agat tidak mengeluarkan suara.
Sementara Kenzi terdiam tak percaya. Sosok Arin diingatannya dan dihadapannya berbeda. Jauh lebih berisi dan sesuatu membuncit di perut Arin. "Kamu hamil?" tanyanya datar menatap lurus ke perut Arin. Kenzi tidak bodoh, ia tahu Arin memang hamil, hanya saja ia terlalu terkejut melihat Arin yang sudah berbadan dua. Mengabaikan goresan-goresan luka yang belum kering di pipi Arin yang kini makin menggemaskan.
"Akh...." bukannya menjawab Arin malah mengeluarkan rintihan dan memegang perutnya. Sontak membuat Kenzi mendekat dan memegangi Arin yang masih terlihat kesakitan. "Ahh..."
"Ka ... kamu tidak apa-apa?" Kenzi tidak bisa menahan rasa khawatirnya. Ia bingung harus berbuat apa dan tidak tega melihat Arin yang kesakitan. Dengan pengetahuan yang minim Kenzi menggiring Arin ke tempat tidur. Satu yang baru Kenzi sadari. Tempat tidur itu satu-satunya yang terlihat rapi di rumah ini.
"Aww..." suara Arin membuat Kenzi sadar.
"Kamu kenapa? Mau melahirkan?" tanya Kenzi panik. Dan semakin panik saat melihat Arin kembali meneteskan air mata.
"Kamu nggak sadar? Dia nendang."
Ucapan Arin membuat Kenzi langsung melirik tangannya yang memegang perut Arin. Tepat saat Arin merintih lagi, Kenzi merasakan gerakan tinju di telapak tangannya yang memegang perut Arin.
"Tendangan dan gerakan pertamanya," kata Arin lagi sambil memperhatikan Kenzi yang menikmati gerakan-gerakan menonjol di perut Arin. Pria itu tampak takjub dengan apa yang ia rasakan. "Selama ini aku nggak pernah merasakan dia bergerak. Kata dokter dia memang gerak hanya saja tidak begitu aktif dan sangat pelan."
Kenzi mengangkat kepalanya membuat pandangannya beradu dengan Arin.
"Mungkin dia terlalu senang bertemu ayahnya sampai tidak sadar menyakiti ibunya," Arin tersenyum dengan tangannaya di atas tangan Kenzi yang memegang perutnya.
Kenzi memutuskan pandangan mereka. “Kamu yakin dia anakku?”
...