(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
67



Pagi-pagi sekali Arin bangun tiba-tiba. Terkejut dengan suara tangis Reva yang cukup nyaris di sebelahnya. Buru-buru Arin memeriksa apakah Reva buang air kecil atau besar. Dan ternyata benar, popoknya sudah basah.


Setelah mengganti popok Reva, Arin bergegas menyusui anaknya. Meski dalam keadaan mengantuk, ia paksa untuk tetap duduk tegap, agar anaknya dapat merasa nyaman.


Beberapa menit kemudian Reva sudah tertidur kembali dan dia baru sadar kalau tak ada Kenzi di kamar mereka. Melirik jam dinakas, meletakan Reva kembali di tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi.


Tidak ada Kenzi di sana. Ke mana perginya sang suami saat waktu masih menunjukan pukul lima pagi?


Ia harus bergegas untuk mandi. Tapi melihat keranjang pakaian kotor yang kosong, dahinya berkerut. Seingatnya semalam masih ada pakaian di sana, tapi mengapa sekarang tidak ada?


Ah, Arin tak mau berpikir dulu. Kepalanya pusing.


Lebih baik ia segera mandi, lalu menyiapkan sarapan dan sedikit berberes.


Arin baru keluar kamar sekitar tiga puluh menit kemudian. Sejak melahirnya, waktu mandinya jadi makin lama.


Begitu mendekati dapur, arin mencium aroma-aroma sup krim jagung. Siapa yang membuat sup krim jagung? Tidak mungkin ibunya, karena ibunya tidak bisa membuat makanan-makanan yang seperti itu.


Arin berusaha berjalan sedikit lebih cepat. Ia tak sabar ingin tahu siapa yang membuat itu. begitu sampai di dapur, sosok lelaki yang entah sedang apa tengah berdiri membelakanginya.


Arin tersenyum. Entah apalagi yang sedang suaminya itu perbuat di depan panci yang mengeluarkan uap panas. Arin jadi mengurungkan niatnya untuk menghampiri, ia lebih baik menunggu dan duduk manis di meja makan yang akan langsung terlihat jika Kenzi berbalik.


Dan benar saja, Kenzi terkejut melihat kehadirannya begitu balik badan. “Hehe,” cengirnya salah tingkah. Lalu melanjutkan langkah membawa hasil karyanya ke meja makan.


Semangkuk sup krim jagung dengan potongan baguette yang disusun berbentuk hati di atasnya. Dipermanis dengan sedikit daun parsley.


“Buat siapa?” tanya Arin basa basi.


“Buat istriku tercinta,” jawab Kenzi dengan senyum tertahan. Ia bisa memasak, dan sudah cukup sering ia memasak untuk Arin, tapi entah kenapa kali ini ia merasa tidak percaya diri. Mungkin karena tampilannya yang sederhana dan sedikit norak.


“Kenapa? Kok kayak malu? Nggak enak ya?”


Kenzi menggeleng pelan. “Coba saja dulu.”


“Baiklah.” Arin tertawa. Dan mulai mencicipi sup krim jagung buatan sang suami.


“Aduh,” eluhnya.


“Aku jatuh cinta lagi …,” Arin tersenyum. “Dengan sup krim jagungnya.”


Kenzi memuar bola mata lalu ikut tertawa. “Kamu tidak cocok menggombal.”


“Aku tidak menggombal.”


“Yeah, cuma berkata manis dengan tujuan membuat jantungnya berdetak dinamis.”


Arin tertawa lagi. “Makanya dong, gentian Kak Ken yang gombalin aku.”


“Gunanya gombal apa?”


“Hmm, biar senang?”


Bukannya menjawab, Kenzi malah berpindah tempat duduk yang tadinya di depan Arin kini menjadi di samping wanita itu. “Daripada hanya ucapan, bagaimana kalau dengan tindakan?”


Arin menoleh sambil menyuapkan sup itu ke mulutnya. “Seperti apa?”


“Seperti ini.” Dengan cepat wajah Kenzi bergerak maju, mengecup bibir Arin dan menjilat sup krim yang menempel di sana.


***


Hay teman teman


Saras sangat berterima kasih, kalian udah mau baca sejuah ini, mungkin emang banyak kekurangan, tapi Saras usaha buat season 2 bakal lebih baik lagi.


Untuk kilasan season 2, Saras kasih bocorannya ya. 4 bab ke depan adalah bocoran season 2. Kalo mau loncat langsung season 2 juga nggak papa.


Mohon kritik dan saran ya manteman dan temenin Saras sampai cerita ini tamat. Salam sayang dari Saras buat kalian. 💛


sekali lagi terima kasih ya teman-teman, kalian adalah penyemangat Saras *😘😘


💛💛💛*