(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
19



Waktu terasa berjalan begitu cepat


bagi Arin. Pasalnya mulai hari ini ia akan kembali disibukkan dengan kuliahnya.


Mulai hari ini ia sudah tidak bisa lagi tiduran sepanjang hari di dalam kamar


tanpa dibebankan dengan tugas-tugas kampus.


Arin menghabiskan sarapannya dengan


cepat karena waktu sudah menunjukkan pukul 6.57 a.m. dan Kenzi sudah


menunggunya dari tadi. Dalam hati ia menggerutukan tentang jadwalnya yang ada


dihari senin, padahal semester lalu ia tidak memiliki jadwal dihari senin.


"Ah, tuh 'kan macet." Gerutu


Arin saat mobil mereka sudah tidak bergerak selama lima menit yang lalu.


"Maunya tadi naik motor saja."


"Dan kamu akan masuk kelas dalam


keadaan basah." Kata Kenzi sambil menunjuk kaca depan mobil yang mulai


dibahasi air hujan.


Arin menghela nafas. "Masalahnya


dosen yang mau masuk ini dosen killer, selalu on time pula. Bahkan lima


sampai lima belas menit sebelum masuk dia sudah ada didepan kelas." Arin


melihat jam diponselnya lalu berdecak, "lima belas menit lagi jam setengah


delapan, yakin deh dua-tiga menit lagi pasti teman kelasku kasih tahu kalau


sudah ada dos-"


Belum sempat Arin menyelesaikan


ucapannya, ponselnya berbunyi dan menampilkan chat grup kelasnya, salah


satu temannya memberitahu bahwa dosen mereka sudah datang. Sontak Arin


menggeram tertahan, sedang Kenzi hanya tertawa melihat kegusaran Arin.


Setelah hampir tiga puluh menit berada


dijalan, akhirnya mereka sampai juga didepan fakultas Arin. Tanpa mengucapkan


kata apapun Arin langsung melesat keluar dari mobil dan berlari menuju


kelasnya.


Kenzi memutar mobilnya begitu sosok


Arin menghilang dibalik tembok gedung. Belum jauh dari area kampus ketika


ponsel pintar Kenzi berbunyi. Satu notifikasi dari salah satu aplikasi chat yang


ia punya.


From Mrs.Kenzi:


Ngga boleh masuk 😭😭


Hari pertama ini 😢


Kenzi hanya tertawa membaca chat dari


Arin tanpa berniat membalasnya. Baru saat ia akan kembali fokus pada jalanan


ketika ponselnya kembali berbunyi.


From Mrs.Kenzi:


Dasar orang tua, kepala botak, ubanan, hidung besar, pendek, gendut, perut


buncit arrrgh gue kesel 😣😣


Kenzi tertawa lagi membaca chat dari


Arin. Kenzi yakin sekarang Arin tengah menyesal karena memilih tidur lagi


sehabis subuh tadi. Dan mungkin juga tengah menggerutui dirinya karena tidak


Tiga puluh menit kemudian Kenzi sampai


dikantornya. Begitu masuk dalam ruangannya, disana sudah ada Mike yang duduk


dikursi kerjanya dengan kedua kaki saling bertumpuh dan tangan menyilang di


dada. Matanya menatap tajam ke arah Kenzi


Kenzi memutar bola matanya asal sambil


melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. "Ada apa?" Tanyanya


begitu ia duduk didepan Mike.


Mike menurunkan kedua kakinya lalu


mencondongkan badannya agar lebih dekat dengan Kenzi. "Ada apa?"


Ulangnya dengan mencibir. "Lo mau gue pecat, hah?"


"Ck, pecat saja." Katanya


santai sambil menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. "Dan setelah itu,


semoga kamu tidak menyesal karena telah kehilangan salah satu arsitek terbaik


di Indonesia."


Mike mendengus. "Sombong,"


celetuknya sambil membuang muka.


"Bukan sombong tapi hanya


mengingatkan. Iyakan?" Katanya dengan senyum menyungging dibibir.


Untuk kedua kalinya Mike mendengus.


"Mentang-mentang tidak akan gue pecat, lo jadi seenaknya." Ucapan


Mike membuat sebelah alis Kenzi naik. "Semenjak lo nikah, lo jarang masuk,


sering pulang cepat, dan bahkan sudah tiga kali lo ngga ikut rapat." Jelas


Mike menggebu.


Kenzi terkekeh pelan. "Yang


pentingkan pekerjaanku tidak ada yang terbengkalai, selalu selesai tepat waktu.


Dan kalau soal rapat, itu tanpa kesengajaan, Arin sakit hari itu."


"Lo tahu sebenarnya gue ngga


pernah ambil pusing soal itu. Tapi telinga gue lama-lama panas dengar protesan


mereka tentang lo yang jarang masuk."


"Yang cewek, kan?" Tebak


Kenzi. "Tidak usah cemburu, aku sudah punya Arin." Lanjutnya.


Mike mendengus, "Sudah berapa


kali gue ngomong sama lo kalo gue jijik denger lo ngomong pake aku-kamu?"


Kenzi tertawa pelan. Ia tahu ucapan


Mike sebagian besar bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan. Dan Mike memang


sudah sering mengatakan jijik dengan gaya bahasa Kenzi yang menggunakan


aku-kamu sebagai kata ganti orang.


Pernah sekali Kenzi mencoba untuk


tidak menggunakan aku-kamu karena paksaan dari Mike tapi lama kelamaan Kenzi


merasa yang berbicara itu bukanlah dirinya melainkan orang lain. Dan sampai


sekarang Kenzi tidak mau lagi ber-lo-gue dalam berucap meski Mike kerap


menggerutu.