
Arin tidak menanggapi. Untuk saat ini ia tidak mau membuang tenaga meladeni ucapan Galih. Ia butuh banyak tenaga untuk sekedar bertahan.
"Kamu..." Galih menepuk-nepuk pipi sebelah kiri Arin dengan sedikit keras. "harusnya sudah mati dari bertahun-tahun lalu. Tapi kamu malah kembali hidup dan memilih mati dengan cara menyiksa seperti ini. Tadinya hari ini aku berpikir untuk menyayat tubuhmu secara perlahan tapi kurasa cukup untuk hari ini. Bersiaplah! Aku ingin dengar jerit kesakitanmu besok. Melenyapkanmu selamanya. Lalu Kenzi akan kembali padaku..."
"Dalam mimpimu, brengsek!" tiba-tiba hantaman keras mengenai Galih. Laki-laki itu tersungkur beberapa langkah dari Arin. Lalu entah dari mana, Kenzi naik diatas tubuhnya dengan wajah penuh amarah. Ia melayangkan tinjunya pada wajah Galih berkali-kali, melupakan Arin yang lebih membutuhkan pertolongan. Arin bahkan sudah tak sanggup bersuara untuk sekedar merintah apalagi sampai memanggil Kenzi yang sedang menghajar Galih dengan membabi buta, ia sudah tidak sanggup.
"Kak Ken, Arin!"
Samar-samar Arin masih mendengar jerit terkejut Ryan yang menyadari keadaannya lalu disusul dengan Kenzi yang memanggil-manggil namanya. Ia juga mendengar banyak derap langkah yang keras. Setelah itu yang ia tidak lagi mendengar apa-apa, semuanya menjadi hening, gelap dan sunyi, bahkan ia tidak lagi merasakan kesakitan yang sejak tadi ia rasakan.
****
Kenzi masih tidak menyangka apa yang terjadi padanya saat ini. Sesuatu yang ia pikir bisa ia lindungi malah berakhir celaka karena ada didekatnya.
Kenzi merasa sudah menyukai Arin sejak pertama kali melihat wanita itu saat kecil dulu. Walau selalu ia tepis, rasa ingin memiliki Arin tetap mendominasi dalam hati. Hingga beranjak dewasa pun rasa itu tetap ada, bahkan semakin kuat. Tanpa ia sadari rasa itu membuatnya egois dan ingin memiliki Arin seorang diri. Tidak ia biarkan seorang laki-laki pun mencoba mendekati Arin, walau hanya untuk sekedar berteman. Dan tidak ada yang tahu bagaimana usaha Kenzi dalam membuat para lelaki itu menjauh.
Kenzi menjambak rambutnya keras. Walau berusaha keras untuk tidak menyalahkan diri sendiri tapi rasa bersalah itu terus saja membayang . Dua kali Arin terluka karena dirinya, bukan, Galih yang melukai Arin. Tapi Galih lakukan itu karena Galih mencintainya, kenzi, yang mencintai Arin.
Belum habis dengan itu, Kenzi kembali dibuat bingung dengan perasaan Arin. Arin memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara jelas. Namun sikap Arin padanya cukup membuat Kenzi merasa kalau Arin sudah mencintainya. Tapi ... apa yang didengarnya tadi kembali membuatnya ragu. Cinta itu nyata atau hanya khayalannya saja.
"Aduh, Mama, Kak Iyan mana? Aku mau melahirkan kok dia malah nggak ada? Harusnya, kan, temani aku."
Gerutuan Arin setelah dasar kembali terngiang dalam kepalanya. Hanya kalimat tanya sederhana tapi mampu membuat Kenzi membeku. Mengapa bukan dia? Mengapa bukan Kenzi, suaminya, yang dicari? Mengapa harus orang lain? Sungguh, Kenzi tidak mengerti. Ia yang sebelumnya telah berlari seperti kesetanan begitu mendengar Arin sadar dan akan melahirnya, sekarang terduduk dilantai. Untuk apa ia berlari seperti itu jika seseorang yang ingin ia temani mempertaruhkan nyawa tidak mengharapkan kehadirannya dan malah mengharapkan kehadiran orang lain. Hal itu membuat Kenzi merasa bodoh.
***
**Maaf ya telat, penyakit lama kambuh nih jadi nggak bisa buru-buru.
Terima kasih. love you all 😙😙**