(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
29



Dering ponsel mengejutkan Ryan yang tengah melamun. Melihat nama yang terpampang dilayar membuatnya cepat menjawab panggilan itu.


"Ya, Ma?"


"Kamu ini dari mana aja sih? Dari tadi ditelfon nggak diangkat-angkat." Sembur Hanna disebrang sana dengan suara keras sampai membuat Ryan sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.


"Kamar mandi, Mama." Dustanya.


"O," Balas Hanna tidak perduli membuat Ryan geleng kepala. "Eh, Arin gimana? Udah periksa 'kan tadi?"


"Iyaa Mamaa. Mama pasti lihat kita pergi. Bohong kalau Mama bilang nggak lihat."


"Kamu kok malah marah-marah sih?" Protesan Hanna mengenai ucapan Ryan membuat laki-laki itu memutar bola mata. Sudah bukan hal aneh lagi jika Hanna berucap seperti itu padanya, pada anak-anaknya.


"Terserah deh Mama mau bilang apa. Sekarang Mama sama Papa dimana? Nggak pulang? Sekarang mantu kesayangan Mama itu lagi hamil."


"Ah iya, Mama jadi lupa. Gara-gara kamu ni... heh apa kamu bilang tadi?" Teriak Hanna keras. Lagi-lagi Ryan sedikit menjauhkan ponselnya. "Arin hamil? Anak siapa? Kamu?"


"Mama," protes Ryan gusar.


"Bercanda Ryan." Bela Hanna. Tidak ada nada bersalah dari suaranya. "Mama sama Papa ada di rumahnya Kakakmu. Zeva mau Mama sama Papa disini sampai dia melahirkan. Sekarang Arin di mana?"


"Udah tidur kayaknya." Ryan sambil melirik ke arah tempat tidur di mana Arin tengah berbaring dengan handuk kecil menempel didahi.


"Karena Kenzi nggak ada dan belum ada kabar, sudah jadi tugas kamu buat ngejagain Arin. Manfaatkan kesempatan yang ada Ryan," pesan Hanna sebelum mematikan panggilannya.


Beberapa menit Ryan masih berdiri ditempatnya. Merenung memikirkan ucapan Hanna. Manfaatkan kesempatan yang ada. Ryan tertawa pelan. Miris lebih tepatnya. Sang Mama menyuruhnya untuk mendekati perempuan yang sudah resmi menjadi kakak iparnya. Terkadang Ryan berpikir dimana logika mamanya. Menyuruh anaknya merebut kebahagian anaknya yang lain, yang mana hal itu bisa menyebabkan pertikaian antar saudara. Sampai saat ini Ryan tidak habis pikir dan pikirannya melalang buana mengingat percakapannya beberapa bulan lalu dengan Hanna.


"Rebut dia!"


Ryan menoleh pada Hanna yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Siapa yang Mama maksud?"


"Rebut Arin dari Kenzi!" Saat ini Hanna dan Ryan sedang berada dikamar Ryan dilantai atas. Raut datar Hanna yang mengamati Arin dan Kenzi yang sedang bersandau gurau sambil bermain air membuat Ryan tak percaya.


Ryan tertawa pelan. "Jangan bercanda, Ma!"


"Mama serius Ryan." Di dukung dengan ekspresi, nada suara dan tatapan Hanna, Ryan bisa menyimpulkan bahwa wanita yang telah melahirkannya itu tengah serius dengan ucapannya. "Rebut dia! Rebut kembali kebahagiaanmu."


"Tidak usah munafik Ryan. Arin pacar kamu sebelumnya tapi kamu malah membiarkan Kenzi menikahi Arin."


"Mama lupa? Mama yang menyuruh Ryan untuk membuat Arin menjadi pacar Ryan. Ryan setuju karena Ryan pikir akan lebih mudah menjaga Arin kalau dia jadi pacar Ryan. Biar Arin nggak dekat-dekat atau didekati laki-laki lain sampai Kak Ken datang dan menjaga Arin sendiri. Ryan cuma bantu menjaga kebahagian Kak Ken, Ma. Itu saja."


Penjelasan panjang Ryan membuat Hanna mendengus tak setuju. "Bukan itu alasanmu yang sebenarnya. Mama tahu itu. Jangan bohongi hati kamu!" Ucapan Hanna berubah lembut. "Mama tahu kamu cemburu melihat kedekatan mereka, Sayang. Mengapa kamu mengorbankan kebahagiaanmu untuk orang lain? Rebut kem-"


"Mama!"


"Mama tahu-"


"Ma,"


"Kamu sangat mencintai Arin, kamu menyayangi Arin dengan sangat."


"Iya, Ryan memang mencintai Arin, menyayangi Arin." Ucapan Ryan membuat Hanna tersenyum lebar, puas dengan pengakuan sang anak. "Ryan mencintai Arin seperti Ryan-"


"Kak Ken, hiks.. Kak,"


Isak tangis Arin menyadarkan Ryan dari lamunan tentang ingatan percakapannya dengan Hanna. Ryan segera mendekati ranjang. Arin sudah kembali tertidur dengan tenang. Ryan mengambil kain handuk yang sudah tidak lagi hangat dari dahi Arin. Tak lupa juga ia mengecek suhu tubuh wanita itu. Tidak ada perubahan, panasnya tidak menurun, malah meningkat Ryan rasa.


Mengabaikan rasa kantuk yang semakin mendera seiring berputarnya jarum jam, Ryan terus menjaga Arin. Wanita itu kerap kali mengigau memanggil-manggil Kenzi sampai menangis. Dan baru sekitar sepuluh menit lalu wanita itu terlihat ketakutan dalam tidurnya sampai berkeringat dingin dan menangis sesunggukan. Tidak ada kata-kata yang terucap yang ada hanya isak tangis. Ryan hanya bisa mengusap kepala Arin agar wanita itu tenang dalam tidurnya. Mungkin merasa tenang isak tangis yang tadi terdengar secara pelahan mulai mereda seiring usapan Ryan dikepalanya.


Sungguh Ryan tidak tega melihatnya. Ingin sekali rasanya ia pergi mencari Kenzi, tapi mamanya selalu melarang. "Tidak perlu dicari. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri." Begitu kata Hanna. Ryan hanya bisa menggeram dalam hati saat itu karena tidak berani membantah ucapan orang tuanya.


Setelah memastikan Arin kembali tenang dalam tidurnya, Ryan mengambil ponselnya dan menjauhi tempat tidur. Beberapa kali ponselnya ditempelkan di telinga mencoba menghubungi seseorang tapi tetap saja tidak tersambung. Ryan mendengus. Bahkan orang suruhannya sekarang mendadak tidak bisa dihubungi. Ya, walaupun baru seminggu Kenzi tidak ada kabar, Ryan sudah menyuruh orang untuk mencari kakaknya itu. Ryan sangat sayang pada Kenzi dan ia tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya.


***


Terima kasih buat temen-temen yang udah mau like, vote atau komen, seneng banget rasanya.


Buat aku tambah semangat update.


InsyaAllah up lagi nanti siang 😙