
..
"Kamu tahu, kamu bodoh kalau nekat memaafkan mereka. Mereka selingkuh di belakang kamu, Ken. Sudah sampai pada tahap tidur."
"Yang aku lihat mereka memang hanya tidur."
"Yang kamu lihat memang seperti itu, lalu bagaimana dengan tidur yang tidak kamu lihat? Kamu pikir, apa yang dilakukan dua manusia berbeda gender berada di tempat tidur yang sama?" Sebisa mungkin Galih menormalkan suaranya, berharap emosi yang sebenarnya tidak terlihat oleh Kenzi. "Dari foto-foto itu saja sudah bisa kamu pikirkan apa yang harus kamu lakukan. Bagaimana mungkin kamu memaafkan mereka begitu saja?"
"Aku yakin mereka hanya khilaf."
"Khilaf yang dilakukan berkali-kali."
"Mereka hanya melakukannya sekali."
"Sekali yang kamu lihat."
Ya. Kenzi menjawab dalam hati. Yang ia lihat memang hanya sekali, dan Kenzi berharap memang hanya sekali mereka tidur dalam satu ranjang dan tentu tanpa melakukan apa-apa, hanya tidur.
Iya, dia harus yakin bahwa Arin dan Ryan hanya khilaf, tidak mungkin Ryan akan setega itu berkhianat dibelakangnya.
"Kamu tidak ada niat untuk pergi? Aku ingin istirahat," ujar Kenzi setelah beberapa saat mereka terjebak dalam kesunyian, ia mengusir halus Galih tanpa membuka matanya.
Bukan karena mengantuk, melainkan ia malas melihat tatapan Galih yang menurutnya masih sama seperti dulu, tatapan memuja. Kenzi tidak pernah merasa nyaman saat ditatap seperti itu oleh Galih.
"Baiklah, aku pergi. Jangan lupa diminum obatnya."
Kenzi meraba perban di kepala bagian belakangnya. Tak disangka, tindakan membentur-benturkan kepala berakhir dengan tujuh jahitan. Sebelumnya ia tidak merasa sakit sama sekali, tapi mengapa setelah bangun tadi kepalanya jadi terasa berdenyut.
Kenzi mengulurkan tangannya untuk menggapai gelas air minum. Saat mengangkatnya tiba-tiba gelas itu lepas dari tangannya. Mendadak tangannya terasa lemas. Kenzi mendesah pelan lalu mengusap wajahnya. Jantung yang tadinya berdetak normal sekarang seakan menghantam dadanya. Pikirannya mendadak kacau dan diluar kendali bibirnya berucap satu nama.
"Arin,"
Arin? Kenapa Arin? Mendadak Kenzi mengkhawatirkan istrinya itu. Rasa khawatir yang begitu besar. Sama saat ia mendengar Arin kecelakaan dan berakhir koma. Rasanya tidak tenang dan detak jantungnya bergemuruh. Di sisi lain hatinya mendoktrin bahwa Arin baik-baik saja.
"Ya, Arin pasti baik-baik saja. Ada Ryan di sana dan pasti akan menjaga Arin dengan baik."
Sebenarnya sudah sejak dulu terbesit pikiran untuk melepaskan Arin, tapi Kenzi berusaha keras untuk mengabaikan pikiran itu. Karena menurutnya tidak salah jika sekali-kali ia bersikap egois.
Dari kecil ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan untu perhatian dan kasih sayang, semuanya dibatasi oleh ibunya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, Kenzi dipaksa menjadi anak penurut dan tidak manja, atau dewasa sebelum waktunya. Ia selalu dituntut oleh ibunya untuk selalu mengalah. Semuanya demi Ryan, sedikit-sedikit Ryan, apa-apa Ryan. Ryan, Ryan dan Ryan terus.
Dan Kenzi tidak pernah bisa mengaduh pada ayahnya. Karena setelah ayahnya pergi kerja atau keluar kota, ia akan dipukul dan dikurung digudang tanpa diberi makan. Sejak mendapat perlakuan seperti itu ketika usia lima tahun, Kenzi tak mau lagi merasakannya. Sejak itu ia selalu menuruti permintaan ibunya untuk tidak melaporkan siksaan yang ia dapat pada ayahnya dan mengalah pada Ryan pada hal apapun. Termasuk dengan bersandiwara di depan ayahnya, berpura-pura kalau hubungannya dengan sang ibu sangat baik-baik saja, hanya di depan ayahnya, tapi setelah hanya berdua Kenzi tidak akan mendapat perlakuan manis oleh Ibunya.
Oleh karenanya, hanya sekali, Kenzi ingin egois memiliki Arin. Meski ia curiga bahwa Ryan juga menyukai Arin, Kenzi tidak peduli.
Walau keegoisannya membuat Arin terluka parah hingga amnesia, Kenzi tetap tak mau melepaskan Arin. Ia masih menyimpan kenangannya bersama Arin ketika wanita itu berusia lima tahun. Arin yang selau mengejarnya, mengajaknya mengobrol dan bermain, tiba-tiba meminta Kenzi untuk menikahinya saat dewasa kelak. Dan Kenzi dengan senang hati mengiakan. Dan dalam hati bertekad untuk mewujudkan itu, tak peduli Arin melupakan janji mereka.
Arin harus menjadi istrinya. Karena hanya Arin satu-satunya yang ia mau sampai sekarang.
***