(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Season Dua Oke



Halohai semuanya, apa kabar?


Baik ya, semoga hehe


Semoga suka ya.


Selamat membaca 🥰


💛💛💛


Kenzi melongo menatap anaknya yang memakai hoodie kebesaran. Hoodie yang mestinya dipakai anak usia setahun, tapi kini dipakai Reva yang bahkan belum genap dua bulan. Namun, syukurnya bayi mungil itu tertidur nyenyak tanpa merasa tak nyaman karena pakaiannya yang kedodoran.


Kenzi menoleh pada Arin yang baru keluar dari kamar mandi berlilitkan selembar handuk untuk menutupi tubuh. Ibu muda itu baru saja mandi di waktu yang masih sangat subuh, pukul dua pagi. Akibat rambutnya terkena kencing Reva.


“Pakaiannya Reva benar-benar hanya tersisa ini? Tidak ada yang lain?”


Sambil mengeringkan rambut di depan meja rias, Arin menggeleng.


Kenzi menghela napas, menatap anaknya lagi. Beberapa kali tudung hoodienya jatuh menutupi mata Reva, dan dengan gesit Kenzi menaikkannya lagi. Dilema. Jika tudungnya tak dipakaikan, jadi menganjal di bawah leher. Dipakaikan, jadi sering jatuh menutup separuh wajah kecil Reva. Reva itu tidurnya nyenyak, tapi banyak goyang, bajunya yang kebesaran jadi sering mencang-mencong tidak keruan.


Sudah satu minggu, hujan terus mengguyur membahasi tanah. Reva pipis hampir setiap jam dan Arin menentang keras penggunaan pamper pada Reva. Arin tidak suka, baginya menggunakan pamper berarti belajar jorok.


“Pamper bisa nampung banyak, bisa sekali dua kali tiga kali kencing. Kencing ya kencing aja, bab ya bab aja, nggak mau bilang atau kasih kode gitu. Nanti lama-lama pasti bakal kebiasaan, jadi suka-suka,” kata Arin saat itu ketika Ibunya hendak menyuruh Kenzi membeli pamper, popok yang terbuat dari kertas berdaya serap baik dan kedap air dengan lapisan luar dari plastic tipis.


“Kan, nanti kalau Reva sudah bisa ngomong tidak kita pakaikan lagi dong, Sayang,” bujuk Kenzi saat melihat kode dari mertuanya.


“Nggak. Pokoknya nggak ya nggak. Aku masih sanggup nyuci popok kain banyak-banyak.”


Namun, kemarin Arin salah perkiraan, dan sedikit teledor. Ia terlambat mencuci dan menjemur pakaian Reva, karena ia pikir pakaian anaknya masih banyak. Cek percek ternyata tinggal beberapa lembar. Pakaian Reva yang ia cuci masih lembab karena terus terkena angin dingin.


Waktu diejek Kenzi pun, Arin cuma bisa cengar-cengir nggak jelas.


“Kamu kehabisan baju juga?”


Arin menoleh, memandang bingung pada Kenzi yang bertanya.


“Kenapa masih belum pakai baju? Nanti kamu masuk angin.”


Arin tersenyum, membalikkan badan sepenuhnya. Rambut panjangnya yang belum kering sepenuhnya ia atur mengunakan tangan. Kaki kananya menumpuh pada kaki kiri. Menarik handuknya agar pangkal pahanya lebih terlihat. “Bagus gini tahu, seksi,” ujarnya sambil mengerucutkan bibir pucatnya, menciptakan bunyi kecupan.


Bukannya tergoda, Kenzi malah mendengkus kesal. “Pakai baju sana!” perintahnya dengan sorot yang tajam. Membuat Arin ciut dan segera berpakaian.


Seusai berpakaian lengkap, Arin duduk di atas ranjang di samping Kenzi. Ikut mengamati anak mereka yang tertidur dengan pakaian kebesaran. Ia jadi kasihan juga melihat wajah cantik putrinya sering tertutup.


“Seandainya jam segini masih ada toko baju bayi yang buka.”


Kenzi berdecak. “Siapa yang bilang kemarin kalau baju Reva masih ada sampai pagi nanti?”


“Ya, maaf, kan nggak sengaja, Mas.” Arin terkekeh. “Ayo tidur lagi.”


“Tapi Reva?


“Nggak apa-apa. Dia bakal baik-baik aja. Nanti kalau dia bangun biar aku yang urus, Kak Ken tidur aja lagi, besok harus kerja.”


Selama lima menit Arin hanya memandangi kedua manusia yang sangat amat ia cintai itu. Ia bersyukur sekali Kenzi menepati janji mereka, tak mudah menyerah hanya karena Galih.


Arin memang tidak mengingat masa kecilnya bersama Kenzi, apa saja yang ia lakukan atau katakan pada laki-laki itu, tapi ia percaya jika dulu ia pernah meminta Kenzi untuk menikahinya. Mungkin karena itulah perasaan aneh yang selama ini mengrongrong dirinya. Arin tidak pernah merasa benar-benar keberatan dinikahi Kenzi, karena jauh di dalam hatinya hanya ada Kenzi sejak awal.


Arin mengingat kembali masa-masa awal pernikahannya. Kenzi yang kadang hangat, kadang dingin. Dan ia yang kadang manja, kadang mandiri. Plin-plan dan suka bersikap seenaknya.


Sekarang sungguh Arin menyesal telah bersikap seperti itu. Bersikap seolah-olah ia mencintai Ryan, lagi-lagi Ryan dan selalu Ryan, hingga menyakiti hati Kenzi.


Arin takkan membela diri. Dia memang salah apapun alasannya.


Tak habis-habis Arin bersyukur. Pasalnya, ia akan semakin menyesal jika saja saat itu Kenzi tidak memaafkannya. Jika saja Kenzi menceraikannya, ia pasti akan gila.


Mulai sekarang ia janji tak akan menyakiti hati Kenzi lagi. Sudahlah cukup kesakitan batin yang suaminya rasakan sejak kecil. Kini harusnya Arin hanya memberikan kebahagian.


Arin tersenyum sembari bangkit dari tempat tidur. Tangannya bergerak menyelimuti Kenzi hingga dada. Berhati-hati agar anaknya yang di samping Kenzi tidak tertimpa.


“I love you, My Husband.” Arin mengecup kening Kenzi pelan lalu turun ke bibir. Kemudian berjalan mengitari ranjang untuk tidur di sisi Reva yang lain. Mengapit anaknya agar lebih aman.


Mengingat tentang Galih, Arin jadi tidak jadi tidur. Apa kabar laki-laki yang menyukai suaminya itu? Arin sama sekali tidak tahu menahu tentang Galih sejak keluar dari rumah sakit. Yang Kenzi pastikan padanya hanya bahwa Galih takkan menyakitinya lagi.


Yeah, apapun hukuman yang didapat Galih, semoga bisa membuat laki-laki itu tobat dan menyesali perbuatannya, juga kembali pada kodratnya yang seharusnya menyukai perempuan.


Arin memang belum bisa memaafkan Galih, tapi ia bukan orang jahat yang akan mendoakan keburukan untuk laki-laki itu.


Arin ingin menutup lembaran-lembaran kehidupannya yang kacau di masa lalu. Lalu merajut kembali kisah indah bersama Kenzi dan buah hatinya. Semoga ia diberi panjang umur untuk bisa hidup lama bersama Kenzi, juga anak-anaknya kelak.


Berbiacar tentang anak, Kenzi pernah bilang padanya, kalau suaminya itu ingin sekali punya anak laki-laki. Namun, meski begitu Kenzi tidak masalah kalau Reva bukan laki-laki.


“Nanti kita buat lagi. Buat terus sampai punya anak laki-laki,” ucap Kenzi waktu itu ketika Reva baru berumur seminggu. “Kalau perlu kita coba setahun sekali.”


Dengan kesal Arin memukul tangan Kenzi yang bertengger di atas perutnya. “Enak saja, memangnya aku pabrik.”


Kenzi terkekeh dan malah bilang terima kasih, bersikap seakan-akan ucapan Arin adalah ungkapan persetujuan untuk punya anak yang usianya hanya selisih satu tahun.


Arin memberengut meski tak benar-benar kesal. Dalam hati Arin juga berharap kelak bisa melahirkan anak laki-laki untuk Kenzi.


“Sedikasihnya saja ya, Kak. Kita kan memang bisa berusaha, tapi semua kan tetap kehendak Tuhan.”


Kenzi tersenyum dan mengangguk. Lalu mencium kening Arin lama. Dan berlanjut pada ciuman bibir yang lembut dan pelan. Menikmati kebahagian yang ada di depan mata.


***


💛💛💛


Sekali lagi Saras mau ngingetin kalo 4 bab sebelumnya hanya preview ya. Jadi, balik lagi ke saat-saat Reva masih kecil.


Terima kasih dan sampai jumpa lagi ya 🥰


love💛💛