
Arin meremas-remas tangannya yang
berkeringat, dan matanya beberapa kali berkedip-kedip. Ia menunduk dalam,
berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam wanita paruh baya
didepannya. Arin pikir setelah makan malam ia akan terbebas dari mata tajam itu
tapi nyatanya sekarang ia harus duduk berhadapan dengan wanita itu diruang
tengah.
Ibu Kenzi, atau sebut saja Hanna,
sejak awal pertemuannya tadi dengan Arin, wanita itu kerap kali menatap Arin
tajam membuat menantunya itu menunduk dalam. Hanna belum sekali pun melontarkan
kata-kata yang ditujukan untuk Arin tapi tatapan matanya pada Arin membuat Arin
acap kali menahan nafas.
"Apa seperti itu caramu
berhadapan dengan orang yang lebih tua?"
Mendengar suara dingin Hanna yang
dirasanya ditujukan untuknya, Arin lantas menegakkan tubuhnya dan menatap
kearah kedua mertuanya berada. Berusaha mengabaikan tatapan tajam Hanna
padanya.
Kenzi sendiri hanya menghela nafas
pendek. Ia sudah menduga bahwa moment seperti ini tak akan terelakan.
Sebenarnya ia tak tega melihat Arin yang gugup berhadapan dengan orang tuanya
sampai berkeringat dingin. Padahal saat perjalan ke bandara untuk menjemput
kedua orang tuanya tadi, Arin begitu antusias dan tak terlihat keraguan sama
sekali.
"Jadi kamu yang namanya Arin?"
Hanna mendengus, "bisa apa anak kecil seperti kamu?"
Pertanyaan Hanna membuat Arin menahan
nafas. Anak kecil? Desisnya dalam hati. Hei apa usia dua puluh tahun
masih bisa dikatakan anak kecil? Sungguh Arin tak terima dengan sebutan itu
tapi mau protes juga saat ini nyalinya sedang menghilang entah kemana.
Belum sempat Arin menjawab, Hanna
berucap lagi. "Kamu bisa memasak?"
"Saya-"
"Arin belum bisa masak."
Potong Kenzi membuat Arin mencebikkan bibirnya tanpa sadar.
"Kenapa?" Tanya Hanna tajam
menyadari perubahan ekspresi Arin. "Kesal karena tidak bisa
berbohong?"
Arin kembali menundukkan kepalanya.
Kepalanya berdenyut pelan mengingat apa yang terjadi padanya kini. Dimulai dari
nikah mendadak sampai mengetahui bahwa mertuanya bermulut tajam membuat Arin
meringis pelan.
"Kenapa?" Tanya Kenzi dengan
nada khawatir yang kentara. Ia mengangkat wajah Arin agar menatapnya.
Hanna mendengus. "Tidak usah cari
perhatian dengan sakit tiba-tiba."
"Ma." Tegur Kenzi yang tidak
tega melihat Arin seperti itu.
sana kamu," Hanna tidak memperdulikan Kenzi, "Kenzi jadi berubah. Dia
jadi sering membantah saya dan sulit dikasih tahu. Kamu apakan anak saya sampai
mau menikahi anak kecil seperti kamu?" Suara Hanna meninggi diakhir
kalimatnya.
Arin menoleh, menatap Hanna dengan
mata memerah menahan tangis. Dengan perlahan diturunkannya tangan Kenzi yang
masih berada diwajahnya. Arin menutup matanya membuat air matanya mengalir
bebas.
"Maaf," ucap Arin pelan lalu
membuka matanya dan menatap kedua mertuanya. "Maaf kalau kak Ken berubah
karena saya. Maaf kalau kak Ken memilih saya sebagai istri. Maaf kalau saya
bukan menantu yang bisa dibanggakan."
"Cih, pintar ya kamu
bersandiwara."
"Saya-"
"Cukup." Potong Kenzi
tiba-tiba. "Kalian tidak tahu bagaimana perasaan Arin. Mama sama Papa ngga
tahu bagaimana senangnya Arin karena akhirnya akan bertemu kalian. Tapi sikap
Mama dan Papa sudah mengecewakan Ken." Wajahnya memerah karena marah. Ia
menarik Arin berdiri dan meninggalkan ruang tengah dalam keadaan tegang.
Beberapa saat setelah kepergian
sepasang suami istri itu, Hanna, Dika-Papa Kenzi, Ryan dan Zevanna serta
suaminya, masing-masing menjatuhkan tubuh disandaran sofa.
"Papa rasa Mama keterlaluan
tadi." Dika angkat bicara setelah sejak tadi tidak bersuara sedikit pun.
Hanna melirik Dika sekilas lalu
meletakkan kepalanya dipundak sang suami. "Ngga ah, itu belum apa-apa.
Mama belum puas." Jawabnya.
"Jangan gitu dong, Ma! 'Kan
kasian Arin-"
"Yuk, Pa. Kita kekamar, Mama
ngantuk." Potong Hanna sambil menarik Dika pergi.
Tepat saat Hanna membuka pintu
kamarnya ketika ponselnya yang berada dimeja kamarnya berbunyi. Sebuah pesan
singkat telah masuk.
From Ken: Kalau sampai Arin
ninggalin Ken, Mama sama Papa harus tanggung jawab 😒😒
Hanna terkekeh membaca pesan dari
Kenzi itu.
To Ken: Itu urusanmu 😈
From Ken: MamaaaaðŸ˜ðŸ˜
Hanna tertawa. "Kirain anakmu udah berubah mas, ternyata belum." Ucapnya sambil mengarahkan layar
ponselnya kewajah Dika membuat Dika ikut tersenyum.
***
terima kasih buat temen temen yang like dan vote, seneng banget rasanya. Jadi buat aku tambah semangat 😘😘