(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
13



Arin meremas-remas tangannya yang


berkeringat, dan matanya beberapa kali berkedip-kedip. Ia menunduk dalam,


berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam wanita paruh baya


didepannya. Arin pikir setelah makan malam ia akan terbebas dari mata tajam itu


tapi nyatanya sekarang ia harus duduk berhadapan dengan wanita itu diruang


tengah.


Ibu Kenzi, atau sebut saja Hanna,


sejak awal pertemuannya tadi dengan Arin, wanita itu kerap kali menatap Arin


tajam membuat menantunya itu menunduk dalam. Hanna belum sekali pun melontarkan


kata-kata yang ditujukan untuk Arin tapi tatapan matanya pada Arin membuat Arin


acap kali menahan nafas.


"Apa seperti itu caramu


berhadapan dengan orang yang lebih tua?"


Mendengar suara dingin Hanna yang


dirasanya ditujukan untuknya, Arin lantas menegakkan tubuhnya dan menatap


kearah kedua mertuanya berada. Berusaha mengabaikan tatapan tajam Hanna


padanya.


Kenzi sendiri hanya menghela nafas


pendek. Ia sudah menduga bahwa moment seperti ini tak akan terelakan.


Sebenarnya ia tak tega melihat Arin yang gugup berhadapan dengan orang tuanya


sampai berkeringat dingin. Padahal saat perjalan ke bandara untuk menjemput


kedua orang tuanya tadi, Arin begitu antusias dan tak terlihat keraguan sama


sekali.


"Jadi kamu yang namanya Arin?"


Hanna mendengus, "bisa apa anak kecil seperti kamu?"


Pertanyaan Hanna membuat Arin menahan


nafas. Anak kecil? Desisnya dalam hati. Hei apa usia dua puluh tahun


masih bisa dikatakan anak kecil? Sungguh Arin tak terima dengan sebutan itu


tapi mau protes juga saat ini nyalinya sedang menghilang entah kemana.


Belum sempat Arin menjawab, Hanna


berucap lagi. "Kamu bisa memasak?"


"Saya-"


"Arin belum bisa masak."


Potong Kenzi membuat Arin mencebikkan bibirnya tanpa sadar.


"Kenapa?" Tanya Hanna tajam


menyadari perubahan ekspresi Arin. "Kesal karena tidak bisa


berbohong?"


Arin kembali menundukkan kepalanya.


Kepalanya berdenyut pelan mengingat apa yang terjadi padanya kini. Dimulai dari


nikah mendadak sampai mengetahui bahwa mertuanya bermulut tajam membuat Arin


meringis pelan.


"Kenapa?" Tanya Kenzi dengan


nada khawatir yang kentara. Ia mengangkat wajah Arin agar menatapnya.


Hanna mendengus. "Tidak usah cari


perhatian dengan sakit tiba-tiba."


"Ma." Tegur Kenzi yang tidak


tega melihat Arin seperti itu.


sana kamu," Hanna tidak memperdulikan Kenzi, "Kenzi jadi berubah. Dia


jadi sering membantah saya dan sulit dikasih tahu. Kamu apakan anak saya sampai


mau menikahi anak kecil seperti kamu?" Suara Hanna meninggi diakhir


kalimatnya.


Arin menoleh, menatap Hanna dengan


mata memerah menahan tangis. Dengan perlahan diturunkannya tangan Kenzi yang


masih berada diwajahnya. Arin menutup matanya membuat air matanya mengalir


bebas.


"Maaf," ucap Arin pelan lalu


membuka matanya dan menatap kedua mertuanya. "Maaf kalau kak Ken berubah


karena saya. Maaf kalau kak Ken memilih saya sebagai istri. Maaf kalau saya


bukan menantu yang bisa dibanggakan."


"Cih, pintar ya kamu


bersandiwara."


"Saya-"


"Cukup." Potong Kenzi


tiba-tiba. "Kalian tidak tahu bagaimana perasaan Arin. Mama sama Papa ngga


tahu bagaimana senangnya Arin karena akhirnya akan bertemu kalian. Tapi sikap


Mama dan Papa sudah mengecewakan Ken." Wajahnya memerah karena marah. Ia


menarik Arin berdiri dan meninggalkan ruang tengah dalam keadaan tegang.


Beberapa saat setelah kepergian


sepasang suami istri itu, Hanna, Dika-Papa Kenzi, Ryan dan Zevanna serta


suaminya, masing-masing menjatuhkan tubuh disandaran sofa.


"Papa rasa Mama keterlaluan


tadi." Dika angkat bicara setelah sejak tadi tidak bersuara sedikit pun.


Hanna melirik Dika sekilas lalu


meletakkan kepalanya dipundak sang suami. "Ngga ah, itu belum apa-apa.


Mama belum puas." Jawabnya.


"Jangan gitu dong, Ma! 'Kan


kasian Arin-"


"Yuk, Pa. Kita kekamar, Mama


ngantuk." Potong Hanna sambil menarik Dika pergi.


Tepat saat Hanna membuka pintu


kamarnya ketika ponselnya yang berada dimeja kamarnya berbunyi. Sebuah pesan


singkat telah masuk.


From Ken: Kalau sampai Arin


ninggalin Ken, Mama sama Papa harus tanggung jawab 😒😒


Hanna terkekeh membaca pesan dari


Kenzi itu.


To Ken: Itu urusanmu 😈


From Ken: Mamaaaa😭😭


Hanna tertawa. "Kirain anakmu udah berubah mas, ternyata belum." Ucapnya sambil mengarahkan layar


ponselnya kewajah Dika membuat Dika ikut tersenyum.


***


terima kasih buat temen temen yang like dan vote, seneng banget rasanya. Jadi buat aku tambah semangat 😘😘