(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Aneh



“Jadi kapan, Ryan?”


“Kapan apa?” Ryan mendekat dan mencium tangan Dika, ayahnya. Ia baru pulang dari kantor dan langsung menuju rumah orang tuanya. Ia tidak terkejut mendengar ayahnya akan pulang, ia hanya sedikit curiga. Dan lagi Kenzi beserta keluarga kecilnya ikut menginap di rumah itu.


“Kapan kamu bawa Papa untuk melamar gadis itu?” Dika memperjelas ucapannya sambil melirik Kenzi, berniat menyindir.


Sementara yang disindir pura-pura tidak tahu.


“Si … siapa gadis yang Papa maksud?” tanya Ryan sangsi. Ia tidak ada dekat dengan perempuan mana pun.


“Risda, lah. Siapa lagi.” Arin yang baru datang dari dapur membawa minuman dan langsung menjawab.


Ryan menoleh cepat. “Kenapa Risda?” Kepalanya meneleng menatap mereka satu persatu.


“Arin bilang kamu suka Risda. Dan orang tuanya juga bilang Risda masih sendiri.”


Ryan menatap Arin meminta penjelasan.


Arin mencium Reva lebih dulu baru membalas tatapan Ryan. “Kalau cinta itu, pepet langsung. Masa kalah sama Kak Ken.”


Ryan tampak gelagapan. “Siapa yang cinta?”


“Nggak usah ngelak. Makin keliatan jadinya,” ejek Arin. “Jadi, bagaimana? Mau nggak? Cantik, baik, perpendidikan, dewasa, pengertian, temanku itu … jomlo lagi.”


Ryan diam saja, hanya jari-jari tangannya bergerak tak keruan.


Ryan melotot, lalu melirik ke sana kemari dengan gusar. Membuat Arin dan Dika tertawa mengejek.


Akhirnya, Ryan pasrah. Ia mengangguk-angguk saja saat Arin menasehatinya untuk lebih semangat mendekati Risda. Kalau perlu langsung mendatangi kedua orang tua Risda, meminta izin untuk mendekati anaknya dengan tujuan yang serius.


***


Hari sudah berganti, tapi Kenzi belum juga berniat merebahkan diri dan tidur. Ia masih berdiri di dekat jendela, bersandar menikmati angin malam yang masuk dari celah jendela yang Kenzi buka sedikit.


Entah kenapa perasaannya tak tenang sejak Arin terang-terangan berusaha menjodohkan Ryan dengan Risda. Menurutnya, istrinya itu terlalu semangat, malah terkesan tergesa-gesa. Mungkinkah ada sesuatu yang disembunyikan?


Ah, pikiran Kenzi ke mana-mana lagi. Bisa jadi kan memang tidak ada apa-apa. Mungkin memang Kenzi harus bertanya pada Arin agar pasti dan tidak menduga-duga.


Dan soal Galih yang beberapa hari lalu hilang, kini sudah kembali lagi ke desa tempatnya mengabdi. Tapi menurut laporan anak buah Kenzi, Galih kembali dengan raut wajah yang tampak kesal. Kenzi tak mau ambil pusing soal itu, bisa jadi ada kejadian tak mengenakkan saat perjalanan, makanya Galih tampak kesal.


Sekarang Kenzi harus segara tidur. Besok pagi ada rapat di kantornya, terkait proyek baru yang akan ia tangani. Semoga berjalan lancar hingga selesai, apapun yang berhubungan dengannya atau orang-orang di sekitarnya. Harap Kenzi sebelum menutup mata.


Namun, baru lima menit, sebuah tangan mungil menepuk-nepuk wajah Kenzi. Kenzi tersenyum pada Reva yang sudah terduduk. “Kenapa, Sayang?”


“Mau pipis,” jawab Reva dengan kedua tangan diantara pahanya, menahan agar air seninya tidak segera keluar.


Kenzi mengangkat Reva dan membawanya ke kamar mandi. Membantu anaknya buang air kecil.


Kalau dipikir-pikir, Kenzi merasa lucu juga. Sedari bayi, Reva seperti hanya mau merepotkannya saat malam. Apalagi sejak bisa duduk dan merangkak, Reva sangat jarang membuat Arin terjaga karena keperluannya. Reva hanya membangunkan Kenzi, meski beberapa kali Arin juga ikut terbangun.