(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
59



Kenzi memasuki rumah orang tuanya yang sudah gelap gulita. Bersyukur penjaga rumahnya masih dalam keadaan terjaga dan ia yang masih memegang kunci pintu depan.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Kenzi beralih ke dapur lebih dulu. Ia haus dan lapar. Mau singgah makan diperjalanan tadi, tapi dia lupa tidak bawa uang. Untung saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi ponselnya dalam keadaan mati total.


Kenzi membuka kulkas. Hanya ada beberapa kue lapis Surabaya kesuakaan mamanya yang belum dipotong-potong. Yang sebenarnya juga kesukaannya. Tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan fakta itu karena mamanya tidak pernah suka kesukaannya sama dengan Kenzi. Meski saat di depan papanya, mama Kenzi berpura-pura sedih tak ada kesukaan mereka yang sama.


Namun sekarang mamanya sudah tidur. Mungkin tidak akan ketahuan jika ia mengambil dua atau tiga potong. Kenzi menarik satu tempat yang paling atas yang sudah hilang seperempat.


Saat menutup kulkas dan berbalik, Kenzi terkejut dan hampir saja membuat kue lapis yang dipegangnya jatuh.


“Huh. Dasar pencuri.” Hanna, mamanya, merebut kue lapis itu dan memasukkannya lagi ke dalam kulkas.


Kenzi diam saja tanpa membantah. Ia langsung mengambil minum untuk menahan rasa laparnya. Ia duduk di meja makan, satu tangannya di bawa meja, menyebunyikan kepalannya. Dilarang makan sesuatu yang ada di rumah itu sudah biasa, tapi ia tetap saja sakit hati.


Teringat lagi kenangan beberapa tahun lalu saat dirinya berumur lima belas tahun. Saat itu lagi-lagi ayahnya tidak di rumah. Hanna membuat makanan kesukaannya sendiri. Kenzi juga sangat suka, tapi Hanna tidak memperbolehkan Kenzi untuk mencicipinya barang sedikit. Katanya makanan itu untuk Ryan yang kebetulan saat itu ada kegiatan di sekolah sehingga pulang telat.


Begitu Ryan pulang ternyata tidak memakan makanan buatan Hanna itu. Ryan tidak suka. Sehingga makanan itu masih tersisa banyak.


Barulah dua hari kemudian Hanna menawarkannya pada Kenzi, ketika makanan itu hampir basi. Rasanya sudah sangat berbeda, tapi Kenzi terpaksa menghabiskannya karena tak ingin membuang-buang makanan, terlebih itu makanan kesukaannya.


Dan karena makanan itu Kenzi merasakan perutnya sangat sakit dan muntah-muntah. Ia pun dirawat di rumah sakit selama empat hari . Sejak saat itu, Kenzi mengalami trauma dan tidak mau lagi memakan makanan itu meski baru dimasak.


Suara Hanna membuat lamunan Kenzi buyar. Dan apa katanya tadi? Sungguh masuk akal atau tidak?


“Tidak peduli Reva mirip aku atau tidak, yang penting Reva itu anak aku.”


“Jangan keras kepala kamu. Jelas-jelas Reva itu anak Ryan. Jadi kamu ceraikan Arin.”


“Reva anak Arin, dan Arin itu istri aku. Jadi Reva jelas anak aku.”


“Ceraikan Arin. Biarkan Ryan dan Arin bersama.”


“Tidak akan.”


“Mereka itu saling mencintai, jadi biarkan mereka bersama. Kamu lihat Reva, anak itu bukti cinta mereka.”


“Terserah Mama mau bilang apa.” Kenzi berdiri. Ia tidak mau berdebat lebih lama lagi.


“Ken, Kenzi!” Hanna menarik tangan Kenzi agar berhenti. “Kenapa kamu tidak mau membuat ayah dan anak itu bersatu? Jangan-jangan kamu mau menyiksa anak Ryan ya?”


“Cukup, Ma!”