(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Liburan



Bukannya diam dan tenang, Arin malah semakin menangis. Ia memeluk Kenzi erat-erat.


“Cup, cup, kenapa Sayang?” Kenzi juga panik melihat Arin menangis lagi.


“Aku takut ….” Arin berbicara dengan napas terputus-putus. Bukan sesak yang ia rasa, tapi lega yang luar biasa. Cukup sekali itu saja ia menyarankan pisah. Tak mau lagi ada kedua kali. Karena ia tidak bisa menjamin bahwa Kenzi akan muak dengannya lalu mengiakan ajakannya untuk pisah. Sungguh ia tidak benar-benar mau pisah dengan Kenzi. Ucapannya saat itu hanya emosi sesaat. Bentuk kecewanya akibat kurang dipercayai. “Aku takut, jangan tinggalkan aku.”


Kenzi tersenyum tipis. Sesekali menengok ke bekalang, tempat Reva berada. Ia terkejut melihat Reva yang sudah membuka mata dan memperhatikan mereka. Pelan Kenzi menepuk lengan Arin dan berbisik, “Reva bangun, lihat kita.”


Arin bangun buru-buru. Mengelap air matanya dengan cepat. Menepuk pelan wajahnya beberapa kali lalu menghadap Reva. Senyum cerah ia perlihatnya.


“Malam, Reva. Kok udah bangun sih, Sayang.” Arin meringis pelan, merasa bersalah karena mungkin Reva terbangun karenanya. “Haus?”


Reva mengangguk, tapi matanya masih menatap Kenzi. “Paa,” gumamnya pelan dengan tangan menjulur. Di umurnya yang baru setahun Reva sudah bisa banyak hal, termasuk menyebut ‘Paa’, hanya itu, belum ada lagi. Seberapa banyak Arin mengulangi untuk menyebut ‘Ma’ tetap saja yang keluar ‘Pa’. Saat itu Arin sempat cemberut karena bukan ia pertama kali yang bisa dipanggil Reva.


Kenzi tersenyum dan menyahut, menyambut uluran tangan Reva. Mereka sudah hapal kebiasaan Reva yang satu ini. Kapanpun Reva melihat Kenzi saat akan menyusu, ia akan meminta ayahnya itu untuk memegang tangannya, sementara ia fokus mengisi perut.


Kenzi mau tak mau mengikuti kemauan anaknya itu. Ia bahagia, ketika sadar bahwa dirinya selalu dicari dan dibutuhkan anaknya. Bodohnya Kenzi karena masih sempat meragukan.


Arin dan Reva berbaring berhadapan, sedang Kenzi duduk di dekat mereka dengan tangan menaut jari-jari mungil Reva. Menggemaskan. Kenzi maju perlahan. Mengecup istri dan anaknya lalu mengecup sumber makanan anaknya.


Lucunya, jika biasanya anak-anak akan pelit dan serakah pada siapapun perihal dua gunung kembar itu. Reva malah suka berbagi dengan Kenzi. Kadang sengaja ia menarik tangan ayahnya untuk bersama memegang salah satu gunung itu. Dan tentu Kenzi tak sekadar hanya memegang, tapi juga memaikan, entah pucuknya atau entah yang lainnya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi kalau kata Kenzi, sambil menyelam minum air.


Kenzi tersenyum mesum ketika Reva bergeser ke gunung ke sebelah kiri. Menyerahnya sepenuhnya sumber makanan sebelah kanan pada Kenzi.


Arin menyerucutkan bibir. Tangan besar Kenzi sudah menyuasai dada kanannya. Sesekali memainkan seperti anak-anak yang memainkan squshi. Pencet sana pencet sini. Remas sana remas sini. Membuat Arin sesekali berdesis. Antara sakit merasakan dadanya terkena gigi Reva atau karena tangan Kenzi yang mengundang napsu lainnya datang.


Kenzi semakin intens bermain. Sambil menunggu-nunggu Reva tertidur lagi. Tapi menit demi menit terlewati, mata Reva tak kunjung tertutup.


Tiba-tiba Reva melepaskan dada Arin. Ia bangun untuk duduk, dan berdiri mengapai Kenzi. Meminta gendong agar bisa tertidur lagi.


Kali ini Arin tertawa melihat Kenzi yang meringis.


Celana bagian depan Kenzi sudah sangat menggembung, tapi anaknya malah minta gendong sambil jalan-jalan.


“Aduh, Nak. Kok ya PHP sih,” gumam Kenzi sambil berjalan ke sana kemari berusaha membuat tidur anaknya. Ya, Reva anaknya, dan ia harus dengan suka cita menuruti anaknya yang cantik itu. Gemas, Kenzi mencium-ciumin wajah Reva membuat Reva tertawa-tawa dan tak jadi tidur. Bersamaan itu, adik Kenzi di bawah sana juga ikut tertidur. Tahu bahwa harus mengalah pada anak.


Setelah setengah jam digendong ke sana kemari, akhirnya Reva tertidur juga. Dan Kenzi pun bisa bernapas lega, ia meletakkan Reva di tempat tidur.


“Sudah sembuh ya?” Arin bertanya sambil melihat bagian depan celana Kenzi.


Kenzi ikut melirik apa yang dilihat Arin. “Iya,” jawabnya pelan lalu mengangguk.


“Mau melanjutkan?” Arin mendongak, menatap Kenzi yang juga sedang menatapnya.


“Tidak capek?”


Arin menggeleng cepat. “Sudah lama juga, kan?”


“Bilang saja kalau kamu yang mau,” cibir Kenzi. Tangannya dengan cepat memencet sumber makanan Reva.


“Ya sudah kalau tidak mau,” balas Arin cuek. Ia merebahkan diri berniat tidur.


“Eeeh,” cegah Kenzi cepat membuat Arin tersenyum mengejek. Kenzi tertawa. “Ayo!”


Arin mengulurkan kedua tangannya, minta digendong. “Biar romantis,” katanya dengan senyum sok imut.


Kenzi melakukan tanpa banyak protes. Ia sudah sanggat ingin melepaskan hasratnya yang sudah beberapa hari ini tertahan. Didiamkan oleh Arin sanggat membuat adiknya frustrasi karena tak punya tempat untuk bernaung. Ia tak suka gengaman tangan sendiri. Keras dan kasar, berbeda dengan milik Arin yang lembut dan hangat.


“Kak?” panggil Arin setelah pergulatan ketiga mereka selesai.


Kenzi yang menutup mata hanya bergumam pelan menjawab Arin.


“Capek?”


Kenzi akhirnya membuka mata. “Kenapa? Masih mau lagi?” goda Kenzi.


Seketika Arin meninju dada berkeringat Kenzi. Ia kan hanya mau sekali, tapi Kenzi tak mau hanya sekali. Katanya yang kemarin-kemarin dirapel hari ini. Setelah acara tawar menawar, akhirnya mencapai kesepakatan, tiga kali saja. Besok-besok masih bisa.


“Soal liburan yang kamu maksud.”


“Iya?”


“Kenapa nggak bilang?”


Kenzi mengubah posisi, dari terlentang menjadi miring mengahadap Arin. “Kamu sudah tidak bilang akan mengundang orang sebanyak itu di ulang tahun Reva.”


Bibir Arin mengerucut. Lagi mode marah-marahan, diam-diaman, mana bisa bicara santai. “Terus kita mau liburan ke mana?”


“Kamu inginnya ke mana?”


Arin berdecak. Ditanya malah balik bertanya. “Kamu bilang besok, kan? Jadi sudah pasti dong mau ke mana.”


Kenzi menggeleng. “Belum kok.”


Arin melotot. “Terus ngapain ngepak pakaian?”


“Ya buat liburan. Cuma aku belum tahu mau liburan ke mana.”


Arin memutar bola matanya, tangannya menggaruk hitungnya yang mendadak gatal.


“Rencananya tadi itu, mau tanya ke kamu setelah kamu mandi, bagusnya liburan ke mana. Eh kamu malah keluar nggak masuk-masuk lagi.”


Gemas, Arin mencubit dada Kenzi. Menarik benda kecil yang mencuat di sana.


“Aduh, Sayang. Jangan menggoda dong, jangan pancing lagi.”


Bukannya minta maaf, Arin malah melakukannya sekali lagi. “Bodo amat. Aku kesal.”


Kenzi tertawa. Inilah akibatnya jika kurang komunikasi. Semua serba berpotensi membuat salah paham.


Kenzi menarik Arin ke dalam pelukannya. Tangannya menjalar ke sana kemari. Sesekali mencubit-cubit pelan bokong telanjang Arin. “Sekali lagi ya? Adeknya bangun.”


Arin menampakkan wajah cemberut, tapi tak ayal tubuhnya bergerak seakan menyerahkan diri. Suka cita menerima serangan yang akan datang.


***


*Yeay bisa lebih cepat 😊


Tolong sedekah vote ya teman-teman. Sedikit aja yang penting ikhlas. 10 poin juga nggak papa, tolong bantu ya T_T


Terimakasih semuanya 😘😘


💛💛💛*