
Jika tadi mereka bisa leluasa bercanda dan mengobrol tanpa rasa canggung, kini tidak lagi. Sudah lima menit berlalu sejak mereka hanya duduk berdua karena Arin yang tadi tertidur diperjalanan pulang sudah kembali bersama orang tuanya. Beberapa kali Ryan memaki diri. Pasalnya dia adalah lelaki yang seharusnya berani untuk memulai obrolan.
Padahal jika ingat beberapa tahun lalu, mereka selalu bisa mengobrol tanpa merasa ada beban, semuanya mengalir begitu saja. Bahkan saat dulu Risda tidak sungkan setiap mengejek atau mengata-katai Ryan.
"Aku antar kamu pulang." Ryan berdiri, begitupun dengan Risda.
Selain anggukan, Risda tidak menunjukan gerak-gerik komunikasi yang lain. Gadis itu benar-benar diam sediam-diamnya. Seperti ada sesuatu hal berat yang tengah dipikirkannya.
"Kamu kenapa?" karena tidak tahan, akhirnya Ryan membuka mulut juga. Sempat terbesit dalam benaknya, kalau Risda sebenarnya tidak nyaman berada didekatnya. Atau mungkin gadis itu menyesal menerima lamarannya dan ingin membatalkan? “Ah.” Ryan menggeleng, berusaha menghalau pikiran itu. Semoga saja itu tidak benar.
Risda mencoba tersenyum simpul. Menghidu aroma maskulin yang tersebar dalam mobil, bau tubuh Ryan yang khas seperti telah menyatu. “Nggak apa-apa, hanya sedikit capek saja.”
Ryan tersenyum kecut, melirik Risda dengan tatapan bersalah. “Maaf ya, aku nggak peka.”
“Ngomong-ngomong gimana kabar Galih?”
Ryan agak terkejut dengan pertanyaan Risda. Sejak kejadian yang menimpa Arin beberapa waktu lalu, Risda tidak pernah terlihat tertarik apapun soal Galih. Bahkan menyebut nama Galih saja Ryan belum pernah mendengarnya dari mulut Risda. “Dia … baik.”
“Kalau boleh tahu, di mana dia sekarang?”
“Di suatu tempat yang semoga bisa membuat dia berubah.”
Risda menatap Ryan yang pandangannya ke arah jalanan terus. “Di penjara?”
Risda mengangguk paham. Mendekati lampu merah, tangannya bergerak menurunkan kaca mobil. Dan tanpa sadar secara bersamaan Ryan juga melakukan hal yang sama. Dalam diam mereka melakukan apa yang diinginkan. Risda memberi beberapa lembar uang kecil pada anak-anak pengamen, sedang Ryan membeli beberapa kotak makanan. Biasanya yang menjual kotak mananan itu adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengumpulkan dana untuk kegiatan yang akan mereka lakukan.
“Semoga cepat habis ya.” Ryan tersenyum menutup jendela dan menjalankan mobil.
Diam-diam Risda salut dengan apa yang dilakukan Ryan. Ternyata Ryan juga punya sisi yang seperti itu. “Apa yang buat kamu mau menikahiku?”
Pertanyaan Risda sungguh diluar perkiraan, hingga membuatnya tersedak ludah sendiri. Ia pikir Risda akan memuji kebaikan hatinya. “Kamu baik? Kamu cantik?” Ryan ragu-ragu mengatakannya. “Klise ya?”
Selang beberapa detik, Risda tak juga menanggapi ucapan Ryan. Akhirnya Ryan menambahkan, “kalau boleh jujur, beberapa pertemuan pertama kita, aku memang tidak merasakan apa-apa. Tapi seiring waktu aku jadi tertarik sama kamu. Beberapa kali aku bermimpi kamu menjadi ibu dari anak-anakku.”
Risda mengangguk pelan. “Aku boleh jujur?”
“Apa itu?”
“Soal perasaanku ke kamu.”
“Bagaimana?”
“Maaf, aku belum punya rasa yang sama.”
Bagai mendengar suara petir yang menggelegar, sesaat telinga Ryan terasa berdengung. Ternyata selama ini ia terlalu banyak berkhayal. Apa yang dilihatnya selama ini ternyata hanyalah ilusinya saja yang berusaha mempercayai bahwa Risda memiliki rasa yang sama. “Jadi, kamu mau membatalkan?” lirih Ryan. Suaranya seperti ditahan ditenggorokan.