(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
enam minggu



Sore ini Kenzi berjanji akan mengantar Arin untuk ke dokter kandungan. Apa benar Arin hamil atau tidak. Kalaupun belum, mereka berniat untuk program kehamilan selanjutkan. Lebih cepat lebih baik. Kata Kenzi.


Mereka hanya pergi berdua. Sedang Reva dititipkan pada Ryan yang sore ini juga akan kencan dengan Risda.


Ide menitipkan Reva itu dari Arin. Biar mereka nggak canggung dan lebih kompak saat bersama, karena ada orang lain yang harus mereka perhatikan. Untungnya Reva, Risda dan Ryan menerima dengan senang hati. Tidak merasa keberatan sedikitpun.


"Hitung-hitung membayar janjiku mengajak jalan-jalan Reva," kata Risda saat menerima Reva dalam gendongannya.


Sebelum Arin pergi lebih dulu, ia sempat membisikkan kata semangat di telinga Ryan. Lalu masuk ke dalam mobil bersiap untuk pergi. Dan membalas lambaian tangan Reva yang tak tampak sedih akan berpisah dengan orang tuanya.


"Kenapa kita tidak mengajak Reva?" tanya Kenzi saat melihat mobil Ryan melambung dan berbelok ke kiri. Sedang harus menunggu lampu hijau menyala untuk jalan lurus.


Arin yang sedang bermain dengan penggunting kuku menjawab tanpa menoleh. Ia sibuk menggunting kukunya sedikit demi sedikit. Tampak sedang bermain. "Kita, kan, nggak pergi senang-senang."


Kenzi melirik sekilas lalu menginjak pedal gas karena lampu hijau sudah menyala. Ia menipiskan bibir saat seorang pengendara motor tiba-tiba melintas di depannya untuk berbelok ke kanan. Salah satu kebiasaan buruk pengendara bermotor kebanyakan. Suka mendahului seenaknya.


"Tapi nanti jadi mengganggu mereka."


"Yakin deh, mereka nggak akan merasa terganggu dan malah seneng."


Kenzi mengerutkan kening tanda tak paham dengan ucapan Arin.


"Mereka itu kalo ketemu dan berduaan masih suka kikuk. Jadi, kalau ada Reva diantara mereka, aku jamin nggak akan kikuk-kikuk banget."


Kenzi menggeleng pelan. Tak menyangka dengan isi kepala istrinya. Tidak heran kalau dulu ia sulit membuat Arin untuk tidak berdekatan dengan laki-laki saat masih sekolah.


Tidak sampai tiga puluh menit, mereka pun sampai di tempat praktik dokter kandungan, Nindy Permata Evan, anak pertama dokter Evan sekaligus kakak Galih.


"Jadi?" Arin terlihat antusias dan tidak sabaran begitu dokter Nindy selesai memeriksa.


Dokter Nindy tersenyum. Menulis sesuatu di kertas dan memberikannya pada Kenzi. "Ini vitamin-vitamin yang diperlukan." Dokter Nindy beralih menatap Arin. "Selamat ya Arin, semoga anak kedua kalian selalu sehat."


Tidak ada kata yang terucap dari mulut Arin. Hanya bibirnya yang bergerak tanpa suara seperti mengatakan "wow" lalu ia tertawa pelan dan mengangguk.


"Janinnya berusia enam minggu. Sejauh ini sangat sehat. Kedepannya tergantung kondisi sang ibu."


Arin dan Kenzi mendengarkan saksama nasehat dokter Nindy. Berusaha menanamkan kembali dalam kepala apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa kehamilan. Termasuk dalam penyaluran napsu birahi. Walaupun Kenzi dan Arin sudah punya pengalaman, tapi dokter Nindy mengingatkan lagi.


Setelah dirasa cukup, mereka pamit undur diri. Dan sebelum pulang, terlebih dahulu Kenzi menebus vitamin yang tadi diresepkan Dokter Nindy.


"Aduh, lupa!" Arin menepuk jidatnya cukup keras saat diperjalanan.


"Lupa apa?"


"Nggak nanya jenis kelaminnya apa."


"Memangnya sudah bisa keliatan?"


Arin tertawa. "Nggak tahu."


Dengan sebelah tangannya yang bebas, Kenzi mengelus pelan perut Arin yang kini ada calon buah hatinya di sana. Sedikit banyak Kenzi berharap anak keduanya ini berjenis kelamin laki-laki.


Sementara itu di lain tempat, Ryan, Risda dan Reva tampak bersenang-senang. Berkeliling dalam mall dan mencoba beberapa permainan anak. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. Dan benar kata Arin, kecanggungan yang biasa ada di sekitar Ryan dan Risda, kini tidak terlihat.