
Rencana Kenzi membawa istri dan anaknya untuk liburan keluar negeri. Namun, ternyata Arin tidak mau. Arin bilang kalau ia tidak mau liburan ke luar negeri sebelum tempat wisata di Inonesia sudah habis ia kunjungi semua, setidaknya satu per provinsi.
Namun, jangankan liburan keliling Indonesia, keluar belanja keperluan rumah saja sekarang Arin malas-malasan. Dan lebih sukanya belanda dari rumah via daring.
“Jadi, tidak jadi nih?”
“Bukan nggak jadi, tapi belum.”
Kenzi geleng-geleng kepala mendengar jawaban Arin. Wanitanya itu kini sedang sibuk dengan ponsel, sibuk berbelanja. Sementara ia dan Reva duduk di lantai di atas karpet berbulu. Kenzi sedang menemani Reva bermain. Ia bolos kerja, dengan alasan pekerjaannya sedang tidak banyak dan bisa dikerjakan dari rumah.
“Kan kasian Reva tiap hari di rumah, tidak pernah lihat dunia luar.”
“Minggu lalu kan kita ke mall.”
Sekali lagi Kenzi menghela napas. “Jadi, yakin tidak mau pergi? Minggu depan aku sudah sibuk lagi loh.”
Dari ekor matanya, Kenzi melihat Arin hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Kenzi pun ikut diam. Apa Arin terlanjur kecewa karena ia menawarkan ide setengah-setengah, bilang akan liburan dan mengepak pakaian, tapi belum tahu mau ke mana.
“Sudah,” gumam Arin tampak riang.
“Sudah apa?” tanya Kenzi bingung.
Arin berdiri dari sofa. “Sudah belanja, sudah dapat tempat liburan yang bagus,” jawabnya dengan ekspresi senang dan kedua tangan yang ujung jadinya di pertemukan di bawah dagu dengan punggung tangan menghadap ke atas. Tak lupa ia juga menekuk sebelah kakinya ke belakang.
Kenzi menipiskan bibir. Tadi katanya tidak usah, sekarang katanya sudah dapat. “Di mana?” Kenzi bersuara agak kesal.
Arin ikut duduk di atas karpet, tepat di samping Reva dan Kenzi. Ia ikut tersenyum melihat Reva yang menatapnya dengan cengiran. Gemas, Arin membingkai wajah Reva lalu menciumi seluruhnya membuat Reva tertawa kegelian.
“Di sini.”
“Di sini, di samping kamu dan Reva,” jelas Arin dengan senyuman. “Mau di mana pun itu, asal sama kalian.” Arin tertawa melihat Kenzi yang melongo. Ia beralih pada Reva memilih bermain bersama.
Lalu tiba-tiba arin teringat akan sesuatu. “Galih apa kabar, Kak?” Harusnya seminggu yang lalu ia tanyakan, tapi ia lupa.
Kenzi mengernyit. “Kenapa kamu tanya dia lagi?”
Arin menggeleng. “Tanya saja.”
“Dia sedang menjalani hukuman.”
“Dia dapat hukuman apa? Dipenjara?”
Kenzi tak langsung menjawab. Ia diam sejenak, antara berpikir atau melamun.
“Kak?”
“Iya, dia dipenjara.” Kenzi mengangguk-angguk agar lebih menyakinkan Arin … dan juga dirinya. Ia ragu kalau di tempatnya sekarang Galih merasa di penjara, karena laki-laki itu tampak baik-baik saja. “Kamu tenang saja, dia tidak akan mengganggu kita lagi, apalagi menyakitimu.” Kenzi meraih kepala Arin untuk dikecupnya.
Sikapnya itu malah diartikan lain oleh Arin. Ia belum bisa yakin dengan penjelasan Kenzi. Suaminya tampak ragu. Jadi, ia pikir, Galih tidak dipendara seperti dugaannya. Kenzi menyayangi Galih seperti Kenzi menyayangi Ryan. Agak tidak mungkin jika Kenzi tega menjebloskan adiknya ke penjara.
Namun, apapun hukuman yang didapat Galih dapat membuat laki-laki itu berubah lebih baik. Hanya saja, sosok yang dilihat Arin di mall minggu lalu itu sangat mirip dengan Galih, tapi mungkin Arin hanya salah lihat. Lari laki-laki itu terlalu cepat. Yakin Arin dalam hatinya.
💛💛💛
pertama kali masuk rangking 😭😭 terharu banget, makasih banyak ya buat kalian yang vote 😘😘😘