(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
23



"Abaaaaanggg..."


Seiring dengan teriakan Arin, Kenzi yang baru saja muncul dari balik pintu langsung diterjang oleh Arin. Hampir saja keduanya terjatuh kalau Kenzi tidak langsung menangkap Arin yang menempel pada tubuhnya. Tingkah Arin kembali berubah. Kalau seminggu yang lalu Arin sering marah dan cuek pada Kenzi, lain halnya dengan minggu ini. Dari dua hari yang lalu setiap Kenzi baru pulang, Arin akan meloncat pada Kenzi yang baru muncul di balik pintu.


Saat hari pertama, keduanya terjatuh ke belakang karena Kenzi yang terkejut dan tidak


siap. Tapi hal itu malah membuat Arin tertawa bahagia lalu menyusupkan wajahnya


di leher Kenzi.


"Gendong," kata Arin manja pada hari itu.


"Bangun dulu!" Kenzi berniat menurunkan Arin dari atasnya.


Arin menggeleng. "Ngga mau," katanya dengan rajukan.


Kenzi menarik nafas pelan lalu berusaha bangun dan berdiri dengan Arin masih dalam dekapannya. Lalu berjalan menuju kamar dan meletakan Arin diranjang atas permintaan wanita itu.


Saat ini Kenzi tengah berjalan pelan menuju kamar mereka. Menaiki tujuh belas anak tangga dengan Arin dalam gendongannya bukanlah perkara mudah. Apalagi ia tahu berat badan Arin baru saja naik lima kilogram, Kenzi tahu karena kemarin Arin memaksanya untuk menemani wanita itu memeriksa berat badan. Kenzi hendak


menurunkan Arin di tempat tidur tapi Arin menggeleng dan semakin mengeratkan lingkaran kakinya di tubuh Kenzi.


"Aku mandi dulu, nanti lagi," bujuk Kenzi dan kembali berusaha meletakan Arin.


"Nggak usah mandi, tetap ganteng kok." Gumaman Arin membuat Kenzi meringis geli


karena wajah Arin berada di ceruk lehernya.


"Tapi aku bau, banyak keringat tadi."


Arin langsung membaui area sekitar leher dan wajah Kenzi. "Nggak bau,"


kembali menenggelamkan wajahnya di leher Kenzi.


"Ketiaknya pasti bau, lengket juga."


Arin memundurkan kepalanya, menunduk ke samping sedikit mencapai area sekitar ketiak suaminya. Lalu dibauinya lagi sambil menutup mata. Ekspresi wajahnya seolah menghirup aroma terapi yang menenangkan.


"Kamu harum kok,"


bertemu Ryan, Kenzi memutuskan untuk diam akan hal itu. Ia ingin lihat sampai di mana dan sejauh apa hubungan diam-diam mereka.


Kenzi menurunkan tubuh mereka diatas tempat tidur dengan perlahan karena Arin yang tak mau lepas dari Kenzi. Arin memeluk erat Kenzi dan menyuruh laki-laki itu membalas tak kalah erat. Arin berubah manja, sangat manja. Bahkan makan saja sekarang selalu ingin disuapi. Dan Kenzi selalu menuruti dengan suka rela, tanpa paksaan.


Cukup lama terdiam, Kenzi pikir Arin telah tertidur tapi dugaannya salah. Karena tak lama setelahnya Arin terus memanggil-manggilnya dengan alasan tak jelas.


"Abang," panggil Arin lagi untuk kesekian kalinya.


"Iya,"


"Abang,"


"Iya, sayang," sahut Kenzi lagi dengan sabar.


Arin tersenyum mendengar panggilan sayang dari Kenzi. Senang mendengar satu kata itu


dari mulut Kenzi. Ia sadar akhir-akhir ini ada yang berubah dari dirinya.


Memang bukan perubahan fisik tapi perubahan pada sikapnya yang kadang terlalu


berlebihan.


"Abaang Kenzii," panggil Arin lagi, kali ini disertai senyuman yang dibuat semanis mungkin dan menatap wajah Kenzi. Kenzi hanya mengangkat sebelah alisnya. "Ke rumah mama yuk!" ajaknya.


"Iya, besok kita ke sana."


"Sekarang dong, masa besok. Kalau besok pagi Kak Iyan pasti nggak ada," sungutnya.


Ucapan Arin yang secara tidak langsung mengatakan tujuannya ke rumah orang tuanya membuat wajah ramah Kenzi berubah datar. Laki-laki itu langsung melepaskan pelukan Arin dan masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Arin dengan perasaan bingung. Bingung melihat perubahan Kenzi yang tiba-tiba.


"Masih kayak bunglon," gumamnya cemberut sambil menelungkupkan tubuhnya. Dan


tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Ia semakin terisak saat sadar lamanya Kenzi berada di kamar mandi sudah tidak seperti biasa.


 


...