
Ryan tersenyum puas melihat wajah Kenzi yang menegang. Ada kesenangan tersendiri yang terselip dalam hatinya saat melihat wajah Kenzi yang memerah menahan amarah. Dan yang pasti amarah itu bukan ditujukan untuknya, ia pasti senang, lucu menurutnya. Sebelum senyumnya mengembang Ryan lekas membuat wajahnya datar kembali.
Ryan jelas tak ingin kebohongannya perihal surat terbongkar. Tidak, Ryan tidak jahat. Ia hanya ingin membuat Kenzi sadar kalau mungkin nyawa Arin sedang dalam bahaya (lagi). Ya, walaupun dengan sedikit berbohong mengenai isi surat itu. Yang Ryan ketahui dari Bi Muna memang ada selembar kertas dalam kotak itu tapi wanita paruh baya itu tak sempat membaca karena sudah muntah-muntah terlebih dahulu.
"Aku sudah tahu tentang kotak-kotak itu. Arin sudah cerita."
Mendengar ucapan Kenzi, Ryan jadi berdoa dalam hati semoga saja kakaknya itu tidak tahu kalau tadi ia hanya mengarang mengenai isi suratnya.
"Aku sempat marah sama Arin karena dia tidak memberi tahu kamu. Tapi katanya dia nggak mau kasih tahu karena selama ini kamu suka kurang tidur dan dia tidak mau menambah bebanmu."
Ryan mengangguk. Dia memang sering kurang tidur beberapa bulan terakhir. Tapi bukan berarti Arin harus menangung ketakutan itu sendirian kan.
“Saat Arin bermanja-manja sama kamu, apa yang kamu rasakan? Senang ya pasti.”
“Ngaco!” Spontan Ryan meninju lengan Kenzi. Dia yang memukul dia yang meringis. Memang kalau masalah tenaga Ryan kalah jauh dari Kenzi. Kakaknya itu teramat suka olahraga makanya lengannya keras. Berbeda dengan Ryan yang malas dan seperti alergi olahraga. "Lo tahu siapa yang teror Arin? Yang bisa lo curigai mungkin?"
“Mengalihkan pembicaraan.”
“Kan dari tadi memang bahas Arin.”
“Aku tadi tanya perasaanmu pada Arin.”
Ryan menipiskan bibir. Ingin rasanya memukul Kenzi, tapi meski ia tahu kakaknya tidak akan membalas, ia tetap saja tidak berani. “Nggak ada rasa apa-apa, Kak.”
“Kamu sayang Arin?”
“Sebagai adik.”
“Kamu cinta Arin?”
“Jujur?”
“Jujur.”
Kenzi menggeleng, "Aku tidak tahu, dan Arin juga tidak tahu. Yang dia tahu, orang yang membawa kotak itu padanya adalah laki-laki."
Ryan melongo dengan balasan Ryan. Kapan ditanya, kapan jawabnya. Dasar, untung kakaknya. Kalo Kenzi adiknya sudah pasti Ryan tidak akan sungkan untuk menggeplak kepala Kenzi.
Ryan menghela napas. Baiklah, mari kita kembali ke bahasan awal. "Nggak tahu kenapa, gue curiga sama Galih. Setahu gue, lo dan Arin nggak punya musuh. Dan satu-satunya orang yang punya niat jahat sama Arin ya laki-laki gila yang muja lo itu."
"Tapi Galih bilang—"
"Lo terlalu baik, Kak, jadi orang," cibir Ryan. "Nggak ada orang berubah dalam sehari. Orang berubah itu butuh proses, nggak instan. Lagi pula Galih itu, cinta, terobsesi, tergila-gila sama lo. Dan nggak gampang hilangin itu semua."
Dalam hati Kenzi membenarkan. Ia juga masih lebih percaya pada apa yang diucapkan Ryan dari pada ucapan-ucapan aneh Galih. "Kamu masih mau, kan, bantu aku jaga Arin?"
"Nggak mau kalo lo mau pergi lagi."
Kenzi terkekeh, "aku pergi 'kan untuk cari uang, bukan main-main."
Ryan mendengus, "kenapa nggak lo aja sih yang ambil alih perusahaan Papa? Kan lo jadi nggak perlu susah-susah nyari sana sini. Lagian lo yang suka, lo yang lebih pandai, kenapa mesti gue yang ambil alih?"
Kenzi tertawa mendengar gerutuan Ryan. Lagi, Ryan kembali memprotes perihal ditunjuknya dia sebagai pengganti sang Ayah.
Bukannya Kenzi tidak mau, bahkan ia sangat ingin. Tapi sesuai perjanjiannya dengan sang ibu, Kenzi harus selalu mengalah pada Ryan.
….