
Arin bolak balik menganti channel
televisi tapi tidak ada yang menarik baginya. Lalu ia berhenti pada channel
yang sedang menayangkan acara gosip. Dalam acara gosip itu sedang menceritakan
betapa harmonisnya keluarga salah satu artis ternama yang menghabiskan malam
tahun baru bersama.
Jujur dalam hati Arin terbesit rasa
ingin tahu tentang kedua orang tua dan semua keluarga Kenzi. Hanya saja ia
terlalu takut untuk bertanya. Terlebih lagi karena Kenzi terlihat tidak ada
tanda-tanda ingin menceritakan atau mempertemukannya dengan kedua orang
laki-laki itu.
Sekarang pikiran buruk tentang Kenzi
yang dulu sempat singgah diotaknya kini kembali hadir. Arin kembali berpikir
bahwa Kenzi ada niat buruk terhadapnya sampai tidak mau menceritakan tentang
keluarganya. Kemarin saja, jika Zevana tidak datang ia mungkin tidak akan tahu
bahwa masih ada saudara Kenzi yang lain selain Ryan. Dan—oh Arin baru ingat
selama ia dekat dengan Ryan, Ryan juga tidak pernah membicarakan tentang
keluarganya atau ia memiliki Zevana sebagai saudara kembarnya.
Apa yang mereka sembunyikan
sebenarnya? Batin Arin bertanya-tanya.
"Kalau ngga niat nonton,
televisinya dimatikan." Kenzi datang dan mengejutkan Arin dan ikut duduk
disebelah gadis itu. "Sudah bukan gadis," gumam Kenzi.
Arin menyerngitkan dahinya tak
mengerti dengan gumaman Kenzi. "Siapa bukan gadis?" Tanyanya.
"Kamu," jawab Kenzi santai
sambil memasukkam kacang telur kedalam mulutnya yang ia ambil dari dalam toples
diatas meja.
Tanpa aba-aba, Arin langsung menimpuk
wajah Kenzi dengan bantal sofa dan membuat Kenzi terbatuk-batuk.
"Rasain," kata Arin lalu
pergi dari sana.
"Benar kata Risda, dia sensi
sekali. Dan mungkin juga dia memang sedang kedatangan tamu bulanannya."
Kenzi menghembuskan nafasnya lelah. "Dasar wanita. Ternyata Arin dan Zeva
sebelas dua belas." Katanya lagi.
Kenzi terus asik menonton sambil
menikmati kacang telur. Ia terlalu fokus pada tontonan dan kacang telurnya
sampai tidak menyadari kehadiran Arin disampaingnya dengan keadaan rapi.
Arin berdehem beberapa kali tapi tidak
dihiraukan Kenzi. "Suka main kasar ternyata." Gumamnya lalu menendang
yang merasakan sakit.
Mendengar desis kesakitan Arin baru
Kenzi menoleh. Ia memperhatikan penampilan Arin yang hendak pergi. "Mau
kemana?"
Arin menjatuhkan tubuhnya disamping
Kenzi. "Aku ngga mau tau pokoknya antar aku ke tempat mertuaku."
Jawabnya jutek.
Kenzi terkekeh. "Kamu kok tahu
aku mau bawa kesana hari ini?"
"Hah? Baru hari ini ada niat
itu?" Tanya Arin tak percaya. "Helloww sudah berapa hari kamu nikahin
aku? Tapi baru hari ini kamu mau ajak ketemu orang tuamu? Baru dapet orang yang
pas ya?" Tuduh Arin diakhir ucapannya.
Kenzi tersenyum tipis dan
geleng-geleng kepala. Ia yakin Arin kembali berpikiran buruk tentangnya.
"Ini aja kalo aku ngga ngomong
gitu yakin deh kamu ngga ada niatan buat ajak aku ketemu—"
"Aku memang ada niatan ajak kamu
kerumah orang tuaku hari ini. Tapi dari tadi kamu terlalu sensi makanya aku
ngga jadi ngomong. Dan alasanku baru ajak kamu hari ini karena mereka baru mau
pulang hari ini dari Singapura." Jelas Kenzi.
Suaranya yang lembut membuat Arin
dengan mudahnya untuk percaya. Tapi tanpa nada seperti itu pun Arin sangat
mudah percaya pada orang lain. Karena Arin memang sosok yang sangat mudah percaya
pada orang lain tapi mudah juga untuk curiga. Intinya ia mudah untuk
dipengaruhi.
"Ngapain mereka di
Singapura?" Tanya Arin pelan.
"Papa sedang berobat makanya
mereka ngga bisa datang kenikahan kita waktu itu."
"Kak Ken ngga bohong 'kan?"
Cibir Arin setelah sadar bahwa ia telah percaya pada ucapan Kenzi.
"Kapan aku pernah bohong sama
kamu?"
"Dih mana aku tahu." Jawab
Arin dengan cemberut.
Kenzi tertawa, ia mengacak rambut Arin
pelan lalu berdiri. "Tunggu disini, aku siap-siap. Kita ke bandara jemput
mereka." Katanya lalu pergi dari hadapan Arin.