(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
12



Arin bolak balik menganti channel


televisi tapi tidak ada yang menarik baginya. Lalu ia berhenti pada channel


yang sedang menayangkan acara gosip. Dalam acara gosip itu sedang menceritakan


betapa harmonisnya keluarga salah satu artis ternama yang menghabiskan malam


tahun baru bersama.


Jujur dalam hati Arin terbesit rasa


ingin tahu tentang kedua orang tua dan semua keluarga Kenzi. Hanya saja ia


terlalu takut untuk bertanya. Terlebih lagi karena Kenzi terlihat tidak ada


tanda-tanda ingin menceritakan atau mempertemukannya dengan kedua orang


laki-laki itu.


Sekarang pikiran buruk tentang Kenzi


yang dulu sempat singgah diotaknya kini kembali hadir. Arin kembali berpikir


bahwa Kenzi ada niat buruk terhadapnya sampai tidak mau menceritakan tentang


keluarganya. Kemarin saja, jika Zevana tidak datang ia mungkin tidak akan tahu


bahwa masih ada saudara Kenzi yang lain selain Ryan. Dan—oh Arin baru ingat


selama ia dekat dengan Ryan, Ryan juga tidak pernah membicarakan tentang


keluarganya atau ia memiliki Zevana sebagai saudara kembarnya.


Apa yang mereka sembunyikan


sebenarnya? Batin Arin bertanya-tanya.


"Kalau ngga niat nonton,


televisinya dimatikan." Kenzi datang dan mengejutkan Arin dan ikut duduk


disebelah gadis itu. "Sudah bukan gadis," gumam Kenzi.


Arin menyerngitkan dahinya tak


mengerti dengan gumaman Kenzi. "Siapa bukan gadis?" Tanyanya.


"Kamu," jawab Kenzi santai


sambil memasukkam kacang telur kedalam mulutnya yang ia ambil dari dalam toples


diatas meja.


Tanpa aba-aba, Arin langsung menimpuk


wajah Kenzi dengan bantal sofa dan membuat Kenzi terbatuk-batuk.


"Rasain," kata Arin lalu


pergi dari sana.


"Benar kata Risda, dia sensi


sekali. Dan mungkin juga dia memang sedang kedatangan tamu bulanannya."


Kenzi menghembuskan nafasnya lelah. "Dasar wanita. Ternyata Arin dan Zeva


sebelas dua belas." Katanya lagi.


Kenzi terus asik menonton sambil


menikmati kacang telur. Ia terlalu fokus pada tontonan dan kacang telurnya


sampai tidak menyadari kehadiran Arin disampaingnya dengan keadaan rapi.


Arin berdehem beberapa kali tapi tidak


dihiraukan Kenzi. "Suka main kasar ternyata." Gumamnya lalu menendang


yang merasakan sakit.


Mendengar desis kesakitan Arin baru


Kenzi menoleh. Ia memperhatikan penampilan Arin yang hendak pergi. "Mau


kemana?"


Arin menjatuhkan tubuhnya disamping


Kenzi. "Aku ngga mau tau pokoknya antar aku ke tempat mertuaku."


Jawabnya jutek.


Kenzi terkekeh. "Kamu kok tahu


aku mau bawa kesana hari ini?"


"Hah? Baru hari ini ada niat


itu?" Tanya Arin tak percaya. "Helloww sudah berapa hari kamu nikahin


aku? Tapi baru hari ini kamu mau ajak ketemu orang tuamu? Baru dapet orang yang


pas ya?" Tuduh Arin diakhir ucapannya.


Kenzi tersenyum tipis dan


geleng-geleng kepala. Ia yakin Arin kembali berpikiran buruk tentangnya.


"Ini aja kalo aku ngga ngomong


gitu yakin deh kamu ngga ada niatan buat ajak aku ketemu—"


"Aku memang ada niatan ajak kamu


kerumah orang tuaku hari ini. Tapi dari tadi kamu terlalu sensi makanya aku


ngga jadi ngomong. Dan alasanku baru ajak kamu hari ini karena mereka baru mau


pulang hari ini dari Singapura." Jelas Kenzi.


Suaranya yang lembut membuat Arin


dengan mudahnya untuk percaya. Tapi tanpa nada seperti itu pun Arin sangat


mudah percaya pada orang lain. Karena Arin memang sosok yang sangat mudah percaya


pada orang lain tapi mudah juga untuk curiga. Intinya ia mudah untuk


dipengaruhi.


"Ngapain mereka di


Singapura?" Tanya Arin pelan.


"Papa sedang berobat makanya


mereka ngga bisa datang kenikahan kita waktu itu."


"Kak Ken ngga bohong 'kan?"


Cibir Arin setelah sadar bahwa ia telah percaya pada ucapan Kenzi.


"Kapan aku pernah bohong sama


kamu?"


"Dih mana aku tahu." Jawab


Arin dengan cemberut.


Kenzi tertawa, ia mengacak rambut Arin


pelan lalu berdiri. "Tunggu disini, aku siap-siap. Kita ke bandara jemput


mereka." Katanya lalu pergi dari hadapan Arin.