(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Ingin Kebun Binatang



Tak ada kejadian yang terlalu menyita perhatian akhir-akhir ini. Semuanya masih baik-baik saja. Pertengkaran kecil, kesalahpahaman kecil, jalan-jalan kecil, kecemburuan kecil. Tidak hal serius yang mesti dikhawatirkan beberapa bulan terakhir.


Waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Kini Reva sudah jauh lebih aktif.


“Mau ke mana sih, Sayang?”


Dengan malas Arin menoleh, membalikan badan menghadap Reva yang berdiri di samping tempat tidur. Anak itu sejak tadi merengek mengajak sang mama keluar untuk jalan-jalan. Padahal di luar, cuaca sedang terik-teriknya.


“Kebun binatang,” jawab Reva tampak sedih.


“Kan, panas Sayang kalo ke kebun binatang jam segini. Nanti kepala Reva bisa sakit. Kalo Reva sakit, Papa jadi sedih. Reva mau papa sedih?” Sudah tidak terhitung Arin membujuk Reva menggunakan Kenzi, pasalnya anak manisnya itu seperti lebih sayang ayahnya daripada ibunya.


Reva tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Sedih karena tak bisa pergi.


Melihat itu Arin jadi tidak tega. Ia bangkit dan menggendong Reva. Anaknya itu sudah mengeluarkan air mata, hanya saja tidak bersuara.


“Jangan nangis dong, Sayang.” Arin menghapus air mata Reva sambil berjalan keluar kamar. “Nanti papa jadi nggak fokus kerjanya.”


Entah kenapa selama ini jika Reva sedih, takut atau marah, Kenzi akan tahu meski posisinya sedang berada jauh dari sisi Reva. Seperti saat ini, Reva sedang bersedih, dan jika dalam lima menit kesedihan Reva tak kunjung hilang, pasti Kenzi menelepon. Dan sudah dua minggu ini Kenzi di luar kota karena urusan pekerjaan.


“Terus Papa pulangnya bisa jadi lebih lama deh. Reva mau Papa lama pulangnya?”


Reva menggeleng masih dengan wajah sedih.


“Kalau gitu jangan nangis lagi dong, ya?” Arin melirik ke lantai bawah. Ada Ryan yang tengah berbaring di sofa panjang dengan lengan menutupi wajah. “Lihat, itu ada Om Iyan. Kayaknya Om Iyan lagi sedih, Reva hibur ya?”


Reva ikut melihat ke bawah, lalu mengangguk. Bertepatan dengan bangkitnya Ryan dan juga menengok ke atas.


“Sini Reva, Papa video call nih,” panggil Ryan sambil menunjukkan gawainya yang menyalala.


Arin tertawa. Bahkan tak perlu menunggu lima menit lagi, Kenzi sudah menghubungi. Arin pun bergerak menuruni tangga dengan sedikit berlari, mengajak Reva bermain. Mumpung Kenzi sedang tidak lihat, karena sudah pasti dimarahi jika lihat Arin berlari naik atau turun tangga untuk membuat Reva tertawa akibat tubuhnya yang terguncang.


“Kak, Arin sama Reva lari-lari lagi turun tangga,” adu Ryan pada Kenzi.


“Papaaa!” teriak Reva antusias begitu melihat wajah Kenzi di layar. “Reva mau kebun binatang, tapi Mama marah.”


Di belakang Reva, Arin mendelik. Kepalanya menggeleng, memberitahu Kenzi bahwa itu fitnah. Baru dua tahun lebih tapi Reva sudah pintar bicara. Ada enak dan tidak enaknya. Arin memutar bola matanya malas.


“Memangnya Mama bilang apa?”


Reva tak langsung menjawab. Ia menoleh melihat Arin, seperti anak yang takut saat ingin mengadu. “Mama bilang panas, sakit kepala.”


Kenzi menghela napas. Ia tahu anaknya sesuka itu pada binatang, tapi maunya lihat secara langsung bukan dari video. Biasanya tiap minggu Kenzi membawa Reva ke kebun binatang, tapi karena urusan pekerjaan ia jadi tidak bisa. Arin sedang tidak enak badan beberapa hari terakhir jadi tidak bisa membawa Reva jalan-jalan.


“Ke kebun binatang mau liat apa?”


“Ayam.”


“Kalkun.”


Reva dan Arin menjawab bersamaan.


“Kalkun kan juga ayam, Rin,” ejek Kenzi pada Arin yang sepertinya berniat membetulkan ucapan Reva. “Ayam belanda.” Kenzi tertawa, begitu juga dengan Reva. “Om Iyan masih ada di situ? Bilang sama Om Iyan, kalau tidak sibuk, minta temani kamu jalan-jalan. Oke, Cantik?”


Reva mengangguk semangat. “Dadah Papa.” Ia langsung turun dari pangkuan Arin dan mendatangi Ryan. “Ayo, Om!”


Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Permintaan keponakannya terlalu sulit untuk ditolak meski dirinya sedang pusing memikirkan jodoh. Walau itu juga atas suruhan kakaknya sih.


“Hati-hati di jalan, Om Iyan, Reva.” Arin terkikik geli melihat wajah Ryan yang dipaksa senyum oleh Reva. Arin kembali menatap gawai Ryan yang menampakkan wajah Kenzi. “Eh, hapenya lupa.” Ia memukul jidatnya. “Dadah Kak Ken, semangat kerjanya, cepat pulang. I love you.” Arin memberi ciuman jauh lalu tertawa.


Mematikan gawainya lalu bergegas menyusul Ryan dan Reva.


💛💛💛


terima kasih atas semuanya gengs 😘