
Jika Arin mengatakan bahwa ia tidak
bisa memasak, maka jangan percaya. Karena itu adalah sebuah kebohongan.
Kebohongan yang entah sampai kapan akan ia lakukan. Tapi pagi ini ia berencana
untuk menyudahi kebohongan tentang kemampuan memasaknya itu.
Untuk itu pertama ia mulai dengan
membuatkan Kenzi sarapan, tidak perlu yang ribet tapi simpel saja. Sarapan yang
sederhana, mengenyangkan dan pastinya bergizi. Dan pilihannya jatuh pada
onigiri. Ralat, bukan pilihannya, tapi onigiri satu-satunya makanan yang terlintas
dikepalanya dan ia tak punya ide lain. Tak
perlu waktu lama sarapan yang ia buat pun jadi dan sudah tertata rapi diatas
meja.
Arin menatap perabotan yang belum ia
bersihkan. "Kasih bangun kak Ken dulu aja," sarannya untuk diri
sendiri.
Arin pun bergegas pergi kekamar
mereka. Tiba didepan pintu, ia berdiri canggung. Ia masih ingat bagaimana
keadaan Kenzi waktu ia keluar dari kamar. Pipinya tiba-tiba memarah. Masih
jelas diingatannya apa yang mereka lakukan semalam dan tadi seusai sholat subuh.
Arin menggelengkan kepalanya beberapa
kali lalu mengetuk pintu kamar. "Kak Ken? Kak Ken sudah bangun? Ayo
sarapan!" Beberapa detik menunggu, tidak ada jawaban. "Tuk tuk
tuk," katanya mengikuti suara ketukan yang ia buat. "Tuk tuk tu—"
Pintu tiba-tiba terbuka menampakkan
Kenzi yang bertelanjang dada. "Kenapa tidak masuk saja sih?"
Gerutunya dengan suara serak.
Arin lantas membalikkan badannya
sambil berekspresi kecut. "Mandi sana baru sarapan!" Katanya dengan
mengibaskan tangan dan melangkah menjauh meninggalkan Kenzi yang tersenyum geli
melihat tingkah Arin.
Kenzi mengikuti perintah Arin. Ia
mandi dan berpakaian dengan cepat. Sebelum keluar kamar tak lupa dirapikan dulu
tempat tidurnya. Dalam langkahnya menghampiri Arin, ada satu hal yang menganggu
pikirannya. Dan satu hal itu membuat pikirannya merujuk pada hal-hal negatif.
Begitu sampai diruang makan Kenzi
tidak mendapati Arin disana dan Arin juga tidak terlihat berada didapur.
"Onigiri?" Gumam Kenzi. Ia
menarik kursi dan hendak duduk ketika suara terdengar suara Arin dibelakangnya.
"Ngga suka ya?" Tanya Arin
was-was. Ia juga ikut duduk disamping Kenzi.
Kenzi menganguk pelan. "Suka
kok," jawabnya sambil mengambil satu onigiri buatan Arin itu.
"Oh, bagus deh." Arin
memperhatikan Kenzi makan. "Gimana? Enak ngga?"
"Enak." Arin bernafas lega
lalu ikut makan. "Beli di mana?"
Arin tersedak mendengar pertanyaan
Kenzi. "Beli?"
"Iya, restoran jepang mana yang
jam segini udah buka?" Tanya Kenzi santai. Arin menelan salivanya susah.
Ia tidak berpikir bahwa Kenzi akan mengiranya membeli makanan itu. "Tidak
usah pura-pura kalau ini kamu yang buat. Kamu 'kan ngga bisa masak."
Lanjut Kenzi.
Arin membuang muka, digigitnya sadis
onigiri dipiringnya. Ucapan Kenzi membuat semangat paginya lenyap.
"Oh iya, kalo nasi goreng yang
waktu itu kamu suruh aku makan beli di mana?"
'Oh my God, ternyata udah pernah.
Tapi kok gini amat nasip gue. Jadi nyesel udah bohong kalo ngga bisa masak. Tau
ngga diakuin gini, aku kasih liat kemampuanku dari awal. Duh, jangan-jangan
puding dan brownis yang biasa aku kasih dia kira beli juga. Kampret.'
"Kenapa? Enak ya? Mau dipesanin
lagi?" Tanya Arin menahan kesal. Kenzi menganguk pelan. Sebisa mungkin
ditekannya rasa ingin mencakar wajah Kenzi yang datar-datar saja. "Dasar
Arin berdiri untuk membereskan bekas
makan mereka. Dari gerakannya bisa dilihat kalau ia sedang kesal tapi Kenzi
terlalu peka untuk melihat hal itu. Sesekali
Arin melirik kesal pada Kenzi yang sekarang sibuk baca koran paginya.
Tak lama ponsel Arin berdering. Tanpa
melihat id caller-nya, ia mengangkat panggilan itu dan menyalakan loudspeaker-nya.
"Monyeeettttt...." Teriak
Risda disebrang sana.
Karena Arin menyalakan loudspeaker dan
ditambah dengan Risda yang berteriak, membuat suara menggema dipenjuru ruangan
itu. Hal itu sampai membuat Kenzi menolehkan kepalanya menatap Arin penasaran,
siara gerangan yang mempunyai suara cempreng itu.
Arin memutar matanya malas, "Weh,
kambing. Ngapain sih pagi-pagi ribut? Pecah nih gendang telinga gue."
Balasnya masih sambil mencuci piring.
Terdengar Risda tertawa, "Makanya
tu HP jangan dinyalain loudspeaker-nya."
"Berisik lo, ada apa?"
"Sensi amat, Bu. Lagi dapet
ya?" Goda Risda.
"Cepet! Gue sibuk," Kata
Arin datar.
"Hahaha, buka siakad online lo coba!"
"Buat apa?"
"Liat nilai elah. Nilai
Aljabar lanjut udah keluar. Gue dapet B masa, ngeselin deh."
"Terus gue?"
"Duh Rin, lo kok jadi lemot
ya? Di apain aja sama mas Ken?"
"Apaan sih lo, gue lagi sibuk
nih."
"Ngapin sih? Lagi main
diranjang ya?" Goda Risda. "Bilang tuh sama mas Ken, janganlah
terlalu terlalu sering, kasian di lo nya ntar lo kelelahan. Lagian ini masih
pagi, aktivitas diranjang tundah dulu, nanti malem aja."
Ucapan Risda sontak membuat Kenzi tersedak
karena kebetulan Kenzi sedang minum. Sedang Arin yang tadi sedang kesal, kini
ekspresinya semakin kecut, diliriknya Kenzi yang terlihat salah tingkah.
"Eh, Risda." Arin menekan
suaranya agar tidak terlalu keras. "Sejak kapan kambing jadi mesum?"
Geramnya.
Terdengar Risda tertawa terbahak
diseberang sana. "Maap, gue lupa. Harusnya monyet ya yang mesum? Sumpah
gue ngga ada niat ambil predikat lo."
"Berhenti ngfitnah ya. Lo tuh
yang mesum, dasar kambing. Bye—"
"Eeeh tunggu dulu! Jangan lupa
buka siakad ya? Terus habis itu kasih tau gue lo dapet berapa, oke? See
you, monyet."
Lalu setelah terdengar panggilan
terputus. Arin menghembuskan nafasnya panjang. Ia mengambil ponselnya dan
berjalan meninggalkan dapur. Tepat saat itu juga Kenzi ikut berjalan meninggalkan
dapur. Mereka jalan bersisian. Jika Arin melirik Kenzi diam-diam maka Kenzi
menatap Arin terang-terangan.
"Apa lihat-lihat?" Tanya
Arin sengit.
Kenzi terkekeh sambil geleng kepala.
"Kamu marah kenapa sih? Malu gara-gara ketahuan kasih makan aku makanan
luar?" Godanya.
Arin mendelik tak suka. Kali ini sulit
untuk menahan kekesalannya. Dihentakkan kakinya dan menginjak kaki Kenzi dengan
keras sampai Kenzi mengadu kesakitan. Lalu ia berlari menuju ruang tengah.