(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
11



Jika Arin mengatakan bahwa ia tidak


bisa memasak, maka jangan percaya. Karena itu adalah sebuah kebohongan.


Kebohongan yang entah sampai kapan akan ia lakukan. Tapi pagi ini ia berencana


untuk menyudahi kebohongan tentang kemampuan memasaknya itu.


Untuk itu pertama ia mulai dengan


membuatkan Kenzi sarapan, tidak perlu yang ribet tapi simpel saja. Sarapan yang


sederhana, mengenyangkan dan pastinya bergizi. Dan pilihannya jatuh pada


onigiri. Ralat, bukan pilihannya, tapi onigiri satu-satunya makanan yang terlintas


dikepalanya dan ia tak punya ide lain.  Tak


perlu waktu lama sarapan yang ia buat pun jadi dan sudah tertata rapi diatas


meja.


Arin menatap perabotan yang belum ia


bersihkan. "Kasih bangun kak Ken dulu aja," sarannya untuk diri


sendiri.


Arin pun bergegas pergi kekamar


mereka. Tiba didepan  pintu, ia berdiri canggung. Ia masih ingat bagaimana


keadaan Kenzi waktu ia keluar dari kamar. Pipinya tiba-tiba memarah. Masih


jelas diingatannya apa yang mereka lakukan semalam dan tadi seusai sholat subuh.


Arin menggelengkan kepalanya beberapa


kali lalu mengetuk pintu kamar. "Kak Ken? Kak Ken sudah bangun? Ayo


sarapan!" Beberapa detik menunggu, tidak ada jawaban. "Tuk tuk


tuk," katanya mengikuti suara ketukan yang ia buat. "Tuk tuk tu—"


Pintu tiba-tiba terbuka menampakkan


Kenzi yang bertelanjang dada. "Kenapa tidak masuk saja sih?"


Gerutunya dengan suara serak.


Arin lantas membalikkan badannya


sambil berekspresi kecut. "Mandi sana baru sarapan!" Katanya dengan


mengibaskan tangan dan melangkah menjauh meninggalkan Kenzi yang tersenyum geli


melihat tingkah Arin.


Kenzi mengikuti perintah Arin. Ia


mandi dan berpakaian dengan cepat. Sebelum keluar kamar tak lupa dirapikan dulu


tempat tidurnya. Dalam langkahnya menghampiri Arin, ada satu hal yang menganggu


pikirannya. Dan satu hal itu membuat pikirannya merujuk pada hal-hal negatif.


Begitu sampai diruang makan Kenzi


tidak mendapati Arin disana dan Arin juga tidak terlihat berada didapur.


"Onigiri?" Gumam Kenzi. Ia


menarik kursi dan hendak duduk ketika suara terdengar suara Arin dibelakangnya.


"Ngga suka ya?" Tanya Arin


was-was. Ia juga ikut duduk disamping Kenzi.


Kenzi menganguk pelan. "Suka


kok," jawabnya sambil mengambil satu onigiri buatan Arin itu.


"Oh, bagus deh." Arin


memperhatikan Kenzi makan. "Gimana? Enak ngga?"


"Enak." Arin bernafas lega


lalu ikut makan. "Beli di mana?"


Arin tersedak mendengar pertanyaan


Kenzi. "Beli?"


"Iya, restoran jepang mana yang


jam segini udah buka?" Tanya Kenzi santai. Arin menelan salivanya susah.


Ia tidak berpikir bahwa Kenzi akan mengiranya membeli makanan itu. "Tidak


usah pura-pura kalau ini kamu yang buat. Kamu 'kan ngga bisa masak."


Lanjut Kenzi.


Arin membuang muka, digigitnya sadis


onigiri dipiringnya. Ucapan Kenzi membuat semangat paginya lenyap.


"Oh iya, kalo nasi goreng yang


waktu itu kamu suruh aku makan beli di mana?"


'Oh my God, ternyata udah pernah.


Tapi kok gini amat nasip gue. Jadi nyesel udah bohong kalo ngga bisa masak. Tau


ngga diakuin gini, aku kasih liat kemampuanku dari awal. Duh, jangan-jangan


puding dan brownis yang biasa aku kasih dia kira beli juga. Kampret.'


"Kenapa? Enak ya? Mau dipesanin


lagi?" Tanya Arin menahan kesal. Kenzi menganguk pelan. Sebisa mungkin


ditekannya rasa ingin mencakar wajah Kenzi yang datar-datar saja. "Dasar


Arin berdiri untuk membereskan bekas


makan mereka. Dari gerakannya bisa dilihat kalau ia sedang kesal tapi Kenzi


terlalu peka untuk melihat hal itu.  Sesekali


Arin melirik kesal pada Kenzi yang sekarang sibuk baca koran paginya.


Tak lama ponsel Arin berdering. Tanpa


melihat id caller-nya, ia mengangkat panggilan itu dan menyalakan loudspeaker-nya.


"Monyeeettttt...." Teriak


Risda disebrang sana.


Karena Arin menyalakan loudspeaker dan


ditambah dengan Risda yang berteriak, membuat suara menggema dipenjuru ruangan


itu. Hal itu sampai membuat Kenzi menolehkan kepalanya menatap Arin penasaran,


siara gerangan yang mempunyai suara cempreng itu.


Arin memutar matanya malas, "Weh,


kambing. Ngapain sih pagi-pagi ribut? Pecah nih gendang telinga gue."


Balasnya masih sambil mencuci piring.


Terdengar Risda tertawa, "Makanya


tu HP jangan dinyalain loudspeaker-nya."


"Berisik lo, ada apa?"


"Sensi amat, Bu. Lagi dapet


ya?" Goda Risda.


"Cepet! Gue sibuk," Kata


Arin datar.


"Hahaha, buka siakad online lo coba!"


"Buat apa?"


"Liat nilai elah. Nilai


Aljabar lanjut udah keluar. Gue dapet B masa, ngeselin deh."


"Terus gue?"


"Duh Rin, lo kok jadi lemot


ya? Di apain aja sama mas Ken?"


"Apaan sih lo, gue lagi sibuk


nih."


"Ngapin sih? Lagi main


diranjang ya?" Goda Risda. "Bilang tuh sama mas Ken, janganlah


terlalu terlalu sering, kasian di lo nya ntar lo kelelahan. Lagian ini masih


pagi, aktivitas diranjang tundah dulu, nanti malem aja."


Ucapan Risda sontak membuat Kenzi tersedak


karena kebetulan Kenzi sedang minum. Sedang Arin yang tadi sedang kesal, kini


ekspresinya semakin kecut, diliriknya Kenzi yang terlihat salah tingkah.


"Eh, Risda." Arin menekan


suaranya agar tidak terlalu keras. "Sejak kapan kambing jadi mesum?"


Geramnya.


Terdengar Risda tertawa terbahak


diseberang sana. "Maap, gue lupa. Harusnya monyet ya yang mesum? Sumpah


gue ngga ada niat ambil predikat lo."


"Berhenti ngfitnah ya. Lo tuh


yang mesum, dasar kambing. Bye—"


"Eeeh tunggu dulu! Jangan lupa


buka siakad ya? Terus habis itu kasih tau gue lo dapet berapa, oke? See


you, monyet."


Lalu setelah terdengar panggilan


terputus. Arin menghembuskan nafasnya panjang. Ia mengambil ponselnya dan


berjalan meninggalkan dapur. Tepat saat itu juga Kenzi ikut berjalan meninggalkan


dapur. Mereka jalan bersisian. Jika Arin melirik Kenzi diam-diam maka Kenzi


menatap Arin terang-terangan.


"Apa lihat-lihat?" Tanya


Arin sengit.


Kenzi terkekeh sambil geleng kepala.


"Kamu marah kenapa sih? Malu gara-gara ketahuan kasih makan aku makanan


luar?" Godanya.


Arin mendelik tak suka. Kali ini sulit


untuk menahan kekesalannya. Dihentakkan kakinya dan menginjak kaki Kenzi dengan


keras sampai Kenzi mengadu kesakitan. Lalu ia berlari menuju ruang tengah.