
Arin baru saja selesai mandi dan berendam. Tubuhnya terasa remuk redam. Mengurus ini itu sendirian. Salahnya sendiri karena tak meminta bantuan pada suami, tapi ya namanya juga sedang diam-diaman. Jadi, nggak mungkin ngomong apalagi minta tolong, kan?
Keluar kamar mandi, Arin dikejutkan oleh Kenzi yang sedang menyusun pakaiannya di dalam koper. Di tenggorokannya terasa ada yang mengganjal sehingga membuat Arin sulit menelan ludahnya. Matanya mulai memanas. Bibirnya dipaksakan tertarik membentuk senyuman, meski Kenzi tak melihatnya.
“Kapan?” tanya Arin dengan bibir bergetar.
“Besok,”jawab Kenzi tanpa menoleh. “Itu, bajumu sudah kuambilkan.” Kenzi menunjuk pakaian untuk dipakai Arin dengan dagunya. Sedang fokusnya masih ke lemari dan koper, sedang memilah.
Arin mengambil pakaiannya untuk dipakai malam itu, lalu keluar kamar tanpa berucap apa-apa. Ia memakai pakaiannya di kamar yang rencananya kamar Reva, hanya saja belum mereka gunakan.
Di sana, air matanya tumpah, tak bisa lagi ia tahan. Bahkan ia sampai sesenggukan. Kenzi jahat. Makinya dalam hati.
Ia tidak menyangka Kenzi benar-benar mengiyakan usulannya untuk pisah. Bahkan membereskan pakaian Arin, agar ia segara pergi.
“Besok katanya? Dasar gila. Sekarang juga aku akan pergi,” ujarnya meraung-raung, tapi bukannya keluar kamar, ia malah menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Berusaha meredam tangisnya.
Arin nangis terus-terusan sampai lelah dan tertidur. Melupakan anaknya yang mungkin membutuhkan dirinya untuk minum asi dan lain-lain.
Sementara itu, di kamar, Kenzi kebingungan dengan Arin yang memilih memakai pakaiannya di luar kamar. Padahal sebelumnya, walau sedang marah, Arin tidak pernah keluar kamar hanya mengenakan handuk. Pakai baju pun tak pernah di dalam kamar mandi, walau di kamar mereka ada Kenzi yang sedang mengamati.
Jadi, kenapa lagi Arin?
Karena ditegur senyum-senyum ke laki-laki lain makanya marahnya makin menjadi? Hah, ada-ada saja. Kan Kenzi hanya cemburu saja. Masa Arin tidak mengerti.
Kenzi menunggu Arin kembali masuk. Sejam dua jam masih tak muncul juga, padahal Reva sedang bangun dan sepertinya membutuhkan asi. Untung saja persediaan asi yang disimpan masih ada.
Hingga tiga jam, setelah Reva kembali tidur, Kenzi memutuskan keluar kamar mencari istrinya. Takut-takut ia kalau Arin diculik lagi seperti tahun lalu.
Kenzi menyusuri semua ruang di lantai satu. Sepi, tidak ada orang. Pintu-pintu dan jendela juga dalam keadaan terkunci. Berarti Arin tidak keluar rumah.
Kenzi naik ke lantai tiga, melewati lantai dua. Karena biasanya tempat Arin bersantai itu di dapur, taman belakang dan perpustakaan di lantai tiga. Sanggat jarang Arin berada di lantai dua sekitran kamar mereka. Kalaupun berada di lantai dua, Arin hanya berada di kamar mereka.
Kenzi mendesah pelan. Arin tak ada di perpustakaan. Ia juga mengitip di ruang kerjanya, tapi istrinya masih tak tampak di sana.
Kenzi turun lagi ke lantai dua. Di anak tangga paling bawah, ia menatap sekelilingnya. Di seberang kamarnya ada kamar Reva. Hanya ruangan itu yang pintu kamarnya tertutup saat ini. Tapi sebelumnya memeriksa kamar Reva, Kenzi lebih dulu memeriksa kamarnya. Takut anaknya terbangun atau kenapa-kenapa.
Namun ternyata, Reva masih tidur. Hanya selimutnya saja yang sedikit tersingkap. Kenzi membenarkan. Mengecup dahi Reva, lalu keluar kamar menuju kamar Reva.
Untuk sampai ke kamar Reva, Kenzi harus berputar lebih dulu, tak bisa langsung lurus karena terhalang pagar pembatas. Dari tepi pagar itu, ia bisa melihat sekitaran ruang tengah di lantai satu. Sekelebat ada bayangan hitam, lalu tak lama muncul sosok Ryan yang mendongak mengintip Kenzi yang melihat dirinya.
Kenzi berdecak ketika Ryan menampilkan cengiran. Adiknya datang lagi sekarang tak punya rumah sendiri. Dan sepertinya ia harus mengganti password pintu depan rumahnya, agar Ryan tak bisa keluar masuk seenaknya.
Mengabaikan Ryan, Kenzi lanjut menuju kamar Reva. Pelan ia membuka pintu. Harap-harap cemas tidak ada Arin di sana.
Kenzi menghela napas lega menemukan Arin tertidur menelungkup di atas ranjang.
Kenzi mendekat, duduk di dekat kepala Arin. Mengelus sayang kepala istrinya. Sejak perseteruan mereka beberapa waktu lalu, hanya speerti ini Kenzi bisa menyentuh Arin. Betapa ia rindu senyum dan tawa Arin yang hanya ditujukan untuknya.
Saat Kenzi akan menurunkan Arin ke ranjang mereka, Arin menggeliat dan mengeratkan pelukannya pada Kenzi, tak mau lepas, tak mau turun. Isak terdengar dari mulutnya.
“Kak Ken jahat, ngusir aku! Aku nggak mau pisah.” Suara tangis Arin makin kencang. Kenzi berusaha melongggarkan pelukan Arin untuk mengintip. Mata Arin tertutup tapi mengeluarkan air mata.
Kenzi mengerutkan kening. Arin mengigau? Mimpi apa istrinya itu sampai mengatakan dirinya jahat dan mengusir.
“Arin, Arin sayang.” Kenzi duduk di tepi tempat tidur, masih dengan Arin berada digendongannya. “Sayang, bangun Sayang.” Kenzi menepuk-nepuk pipi dan mengelus kepala Arin dengan sayang.
Perlahan Arin membuka mata, seketika melayangkan tamparan ke pipi Kenzi.
Kenzi mengiris menahan perih. “Sakit, Sayang.”
“Kak Ken jahat! Nggak usah sayang-sayang kalau ujungnya ngajak pisah.”
Kenzi mengerutkan kening. “Kapan aku ngajak pisah, Sayang?” Iya, dan seingatnya Arin-lah yang menyarankan untuk mereka pisah.
“Kak Ken ngusir aku. Itu apa namanya kalau bukan pisah?”
Kenzi makin tidak paham apa yang dimaksud Arin. “Tunggu-tunggu Sayang, kamu masih mimpi ya? Bangun dulu ya, baru marah-marah? Aku tidak paham.” Kenzi mengecup bibir lembut Arin. Awalnya hanya menempel, tapi rasa rindu yang selama beberapa hari ini terpendam menuntutnya melakukan lebih. Meski tidak mendapat balasan, Kenzi terus melakukan aksinya sampai dirasanya cukup dan membutuhkan napas.
Arin menatap suaminya dalam diam yang dibalas Kenzi dengan senyum. Lalu selang lima detik kemudian tangannya meraba bibirnya yang basah dan terasa bengkak.
“Sudah bangun?”
Arin mengangguk. Kepalanya menoleh ke arah kopernya berada. Namun, kopernya tak sendiri. Ada dua koper di sana. Matanya berkaca-kaca lagi. Yang diingatnya bukan hanya sekadar mimpi. “Jadi benar Kak Ken pengin aku pergi.”
Kenzi menepuk jidatnya. Istrinya ini masih belum sadar atau bagaimana?
“Hei.” Kenzi menarik wajah Arin agar menatapnya lagi. “Kamu ini bicara apa sih?”
“Kak Ken kan suruh aku pergi besok, makanya bajuku masuk ke dalam koper semua.” Arin mau menangis lagi, tapi matanya keburu dikecup Kenzi.
Kini ia paham apa yang dimaksud Arin. Arin salah paham karena dia juga tidak bilang-bilang tujuannya apa. Lagi-lagi Arin bersedih karena salahnya.
“Maksudku, besok kita pergi liburan. Kita. Aku, kamu, dan Reva. Liburan. Bukan kamu yang pergi dari rumah ini.” Kenzi mengecup bibir Arin lagi, tapi kurang. Mencium dan menikmatinya lebih dalam pun masih terasa kurang.
“Rumah ini milik kamu. Kamu rumahku, aku rumahmu. Begitu seterusnya, tidak akan berubah.”
***
💛💛💛
maaf ya lama, habis sibuk pindahan nih kemarin kemarin.
terimakasih 💛